Tampilkan postingan dengan label My Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Love. Tampilkan semua postingan

12 Februari 2009

Event Five:

(my poetries)



B I L A
[ suatu ketika disaat tua ]


hanya ada kursi goyang
dengan waktunya yang panjang
dari siang hingga petang
aku duduk menceritakanmu sayang
pada cucu kita sambil gembira riang





RUMAH KITA
[ sketsa kehidupan kita ]


rumah itu mungil
temboknya bercat biru
terdapat taman bunga didepannya
sumur tua yang tinggal usia
: kedamaian menjelma di sana

rumah itu istana kita
tempat berteduh berbagi cinta
berdua sepanjang masa
menyapa esok dengan asa
: sampai ajal diusia tua

rumah itu harapan ku
aman damai bersama waktu
dirimu diriku satu
melangkah jauh nan lalu
: beriring sejalan selalu

rumah itu…



PERKAWINAN
[pertemuan yang dinanti]


Dua jiwa menyatu
Dalam mahligai
Dua hati bertemu
Dalam kesunyian
Dua tubuh bersatu
Dalam pelaminan


Rentangkan jiwa itu:
Rasa yang tenang
Rindukan hati itu:
Rasa yang damai
Rapatkan tubuh itu:
Rasa yang hangat




KELUARGA
[jawaban atas kesendirian]


Berkumpul jadi satu
: mangan ora mangan
Keberadaanpun tak jua diingkari
Kebersamaan tak mungkin terjadi
Tanpa mereka di sini

Aku sekedar diri
Tak berarti; jika terus
Aku berharap pada:
Keniscayaan yang menyertai
Keutuhan yang mengikuti

Oh.. Keluarga
Buktikan dirimu
menjadi jati diri
Mengapa kamu berarti
tolong jelaskan padaku

Oh Aku, Kamu:
Tentu kita penghuninya

Event four:

(the meaning events)



Peristiwa tinggallah kenang
Keabadian menunjuk makna
Sisakan waktumu ‘tuk merenung
Carilah keotentikan itu …
Temukan dalam peristiwa bermakna



Membangun masa depan bukanlah sekedar membalik telapak tangan, dan kita tinggal mengatakan sim salabim abra kadabra ... Masa depan adalah suatu keinginan dan harapan bagi hidup dan kehidupan ideal masa datang. Tak ada yang dapat menjangkaunya, tak ada yang dapat melaluinya tanpa berpijak pada hari ini dan masa lalu. Masa depan tentu berdiam dalam tempat dan waktu yang direka-reka, yang dibayang-bayang. Adalah tugas kita menyambutnya dengan tangan terbuka dan pikiran yang cerah. Masa depan adalah kehidupan kita yang belum terjadi.

Kaliurang, Tawangmangu, Papringan, dan tempat-tempat yang menyediakan waktu untuk kita adalah peristiwa-peristiwa bermakna yang keberadaannya tak dapat dipisahkan dari perjalanan hidup dan cinta kita. Mereka adalah meaning event yang senantiasa mengajarkan kita tentang hidup, cinta, dan harapan-harapan. Karena mereka jualah kita dapat berbagi perasaan dan pikiran, menyatukan visi dan tujuan kemana kita akan melangkah. Singkarnya, meaning event adalah penyebutan lain dari rinisance communities.

Kata pepatah: pengalaman adalah guru terbaik karena di sanalah kita dapat menimba kearifan dan belajar untuk masa depan. Pengalaman dapat berupa apa saja; ia bisa tempat, ia mungkin adalah kata-kata atau bahkan menjelma menjadi kebisuan.. kesatupaduan ini adalah misteri yang membutuhkan interpretasi, keberadaannya selalu ditafsir dan direnungkan maknanya, dan begitu seterusnya… belajarlah memaknai hidup dari pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Bersamanya kita bangun hidup yang terus baru, bersamanya kita maknai peristiwa demi peristiwa, bersamanya kita abadi menjadi sepasang sejoli yang tak lekang oleh waktu dan lapuk oleh jaman.

Keberadaan suatu masa sangat ditentukan oleh keberadaan kita yang selalu menafsir dan memaknai pengalaman itu menjadi satu-satunya pendamping yang tak henti-hentinya memberi inspirasi dan kekuatan untuk berbuat, bertindak, dan mengamalkan setiap keyakinan yang kita peroleh dari serpihan-serpihan dan penggalan waktu dan peristiwa. Tanyakan pada mereka apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Mengadulah pada mereka, apa yang menjadi tangisanmu dan apa yang akan kau tangisi. Janganlah berhenti bertanya, dan jangan berhenti pula mencari jawabnya.

Hari esok akan cerah,
bukan terletak pada
setiap waktu yang terus mengalir
Tapi pada diri kita
yang mampu menemukan
makna terdalam dari peristiwa-peristiwa bermakna
dan melihatnya sebagai anugerah cinta

Event Three:

(building new event)



Hidup hanya sekali,
Kawinpun hanya sekali, dan
Matipun hanya sekali..



Perjalanan hidup manusia hanyalah mengikuti nurani dan naluri yang menyertainya dalam pilihan-pilihan dan ruang-ruang kesadarannya. Hidup adalah pemberian, life is given, diberi untuk dinikmati jangan disesalkan. Seperti halnya dirimu, kaulah pemberian Tuhan yang maha sempurna. Sebuah pemberian yang tak dapat dinilai dengan angka dan kata. Hanya syukur yang patut dikumandangkan, dilantunkan bersama deburan ombak, sayatan malam, kehangatan matahari.

Anugerah terindah tak patut diingkari. Pengingkaran terhadapnya merupakan sebagian dari kesombongan manusia yang mencoba menilai pemberian Tuhan dengan harga eksistensinya yang naif. Tuhan telah memilihkannya seorang bidadari yang berbudi luhur, berparas cantik, bertindak etis, mengapa saja masih diragukan dia untuk hidupmu yang panjang? Bukankah tiada pemberian yang sangat bernilai jika kita mampu menerima pemberian itu dengan hati dan pikiran yang lapang. Penuh kearifan dan kejumawaan. Tidakkah masih kurang untukmu, seorang dengan kepribadian dan paras yang cantik dan istimewa tak pernah lahir dua kali di dunia ini. Kelahirannya tercipta seratus tahun sekali, layaknya seorang mujaddid yang diharap kehadirannya untuk menata dunia ini dengan kesempurnaan ajaran dan kemaslahatan bagi umat. Perempuan seperti itu adalah seorang mujaddid juga, dialah yang akan membawa kedamaian, perubahan besar, dan kemaslahan bagi suaminya. Dialah seperti yang disabda Tuhan dengan perempuan sholihah sebagai hiasan terbaik dunia ini.

Aku tak dapat membayangkan, bila keseimbangan kosmos ini akan kehilangan perempuan di sisi lelaki. Lelaki hanyalah satu bagian karakter jalal dari perempuan yang berdimensi jamil. Dunia tertata dengan keseimbangan sempurna jalal dan jamil, langit-bumi, baik-jahat, barat-timur dan begitu seterusnya. Tak ada yang tanpa berpasang pasangan, semuanya telah dicipta sedemikian sempurnya tiada yang dapat menandingi-Nya. Kita hanyalah sebutir debu dari kekuasan-Nya yang tak terbatas. Jika demikian masihkah kita menunda syukur ini?

Syukurku terus mengalun disela-sela waktu dan keterjagaanku. Tak henti-hentinya mulutku bergetar untuk memintakan rahmat dan berkah-Nya untuk dirimu yang telah melebur dalam diriku:

Aku terjaga dalam diam
Aku merenung dalam sunyi
Aku terpejam dalam hening
Aku tenggelam dalam diri

Tak ada diam yang diam
Tak ada sunyi yang sunyi
Tak ada hening yang hening
Tak ada diri dalam diri



Kesatuan wujudku dengan waktu, dengan ruang tak menyisakan lagi perenungan, tak membiarkan lagi satu titik kekosongan. Dirimu telah menempati ruang dan waktuku bersama-Nya.

Sungguh… pengalaman ini tak dapat lagi dipercaya oleh siapapun. Seperti ketika pertama kali Nabi menceritakan Isra’ dan Mi’rajnya bagi bangsa Arab. Tak ada yang dapat menyakininya. Cerita itu dianggapnya hanya bualan Muhammad saja untuk mengatakan alam metafisis yang sedemikian dahsyatnya hingga mengalahkan kekuatan Latta dan Uzza. Pengalamanku tak ingin aku perbandingkan dengan Isra’ dan Mi’raj Nabi yang kuat dimensi spritualitasnya. Pengalamanku hanya pengalaman ekstase diri yang melebur dalam kesadaran eksistensi ke-aku-an untuk pengakuan akan cinta yang tak meluangkan lagi kebencian. Cinta telah menjadi suatu dzat tanpa warna. Ia dapat melebur dengan warna apapun, ia dapat bergaul dengan golongan manapun, dan ia dapat dijamah oleh siapapun. Demikianlah cinta dalam kebersamaan dan kebermaknaanku. Dia begitu agung dan suci, seperti keagungan-Nya dan kesucian cintamu padaku.

Dengan makna cinta ini seperti inilah aku ingin membangun peristiwa demi peristiwa di hari ini dan masa depan. Aku ingin peradaban ini menjadi peradaban yang damai dan menyejukkan. Tak ada lagi cinta yang membuat korban. Tak ada lagi pengorbanan yang menyisakan setumpuk balas dendam dan sakit hati. Cinta adalah suatu yang suci, jagalah kesuciannya agar tak menjadi petaka dan angkara murka bagi siapa saja yang memuja cinta sebagai kekuatan abadi kedamaian ini.

Event Two:

(the replay of true story)


Panas semusim telah basah oleh hujan sehari, pengorbanan setahun telah pupus karena logika-logika hati yang dibakar rasa cemburu… Siapa sebenarnya yang patut bercumburu? Aku ataukah Kau… kenyataan memang tak dapat aku elakkan, dia memang bersamaku. Walau seribu kata telah kucoba jelaskan bahwa ‘dia tetaplah dia sebagai teman’, pernyataanku seakan terbentur tembok cemburu yang kokoh, dan tak sempat lagi bersemai asumsi-asumsi lain yang mungkin lebih membukankan hati… lebih cerna melihat masalah … dan lebih arif menyikapi situasi…

Sebaliknya, apakah aku tak berhak cemburu, disaat dikau bersama orang yang kau juga anggap sebagai ‘kakak’? Yang dulu pernah kau sebut ketika kau tiba di Jogja? Orang yang jua tak henti-hentinya ‘memberi’ rasa dan perhatian yang dalam terhadapmu? Apakah kau anggap itu semata sikap dan tindakan yang ‘lumrah’? Apakah aku ini tak dapat melihat itu sebagai sesuatu yang ‘lebih’?

Aku menyadari, dan akupun mafhum. Kata-kata yang kau rangkai dalam baris kesedihanmu di dalam surat itu penuh dengan suasana hati yang labil, meledak-ledak sekaligus menumpahkan perasaan yang selama ini menampakkan sisi kecintaan, kesetiaan dan kejujuran. Begitulah kata pepatah; cinta yang berlebih datanglah juga kebencian yang tak berkurang.

Siapa sebenarnya yang lebih dewasa? Aku tak pantas menjawabnya. Dan akupun tak ada niat untuk membahasnya. Karena bagiku Cinta tetaplah cinta, kebencian hanyalah biasnya. Tak mungkin aku melepas ikatan yang telah mengakar kuat dalam kesadaranku ini. Sekali diikat hanyalah kematian yang dapat memutuskannya.

Oh.. waktu, oh memori-memori yang pernah menyertaiku.. tak ada lagi yang dapat menemaniku selain kalian wahai waktu dan momen-momen abadi. Kalianlah hiasan yang paling mengerti bahwa di atas event-event itu ternyata terdapat sesuatu yang melebihinya (beyond it). Peristiwa seakan cukup oleh waktu kata benda yang kaku tanpa progresivitas. Peristiwa telah menjadi momen-momen waktu itu saja. Kenangan telah menjadi kisah yang manis diingat saja.

Aku hanyalah sekedar darah, segumpal daging dan segenggam kemauan yang dapat bercerita, berbagi rasa dan menikmati hidup sejauh yang aku mampu meneguknya. Jika waktu telah mengakhiri perjalanan yang hanya seperempat ini. Aku tak kan pernah menyesal. Aku telah berusaha meyakini diriku sendiri untuk tetap jujur pada waktu, pada peristiwa dan aku tetap menganggap bahwa ini hanyalah sekedar kesalahpahman. Kesalahpahaman yang tercipta dalam situasi dan kontruks emosi yang labil. Bahasa emosi dan perasaan terkadang hanya dibatasi oleh ruang yang sangat tipis, begitu tipisnya hingga kita tak mampu lagi membedakannya.

Sungguh…. Peristiwa ini bukan sekedar momen biasa bagiku, di sini aku semakin menyadari bahwa Cinta yang pernah keluar dari hatiku ini adalah Cinta yang tulus dan bersih dari noda-noda. Jika tidak, aku telah lama melakukannya dengan orang-orang yang pernah dekat denganku. Gampang bukan? Mungkin bukan? Tapi apa maknanya bagi kedamaian hidupku? Apa maknanya bagi keabadian Cintaku? Dan apa maknanya bagi pilihan kesadaranku?

Hidup tanpa makna, cinta tanpa keabadian, dan pilihan tanpa kesadaran hanyalah seorang musafir yang tak punya tujuan bagi perjalanannya. Hanyalah hidup yang sia-sia. Aku telah memilihmu… aku telah menetapkanmu sebagai satu-satunya hidup yang berarti, satu-satunya cinta yang abadi, nan satu-satunya pilihan atas kesadaranku… mengapa aku harus memungkirinya?

Pilihan haruslah sebuah pilihan
Ketetapan haruslah ketetapan
Jangan kaburkan pilihan dengan ketetapan yang lain
Atau kita hanyalah gelobang air
Yang beriak saat angin menerjang
Atau kita hanyalah kayu
Yang mendebu karena api
Atau kita hanyalah Embun
Yang berjaya disaat pagi



Dunia akan tersenyum bila kita sama-sama menyaksikan bahwa ruang-ruang hampa berjarak di saat malam dan siang itu tidak lagi menimbulkan pra-sangka pra-sangka, bayangan-bayangan, kekelaman kekelaman. Tak ada yang dapat memisahkan hati dan jiwa kita, bila seluruh aliran darah, desahan nafas, dan detak jantung selalu berfungsi dalam kesatuan anatomi yang memberi energi bagi jasad kita. Aku yakin… tak ada lagi mendung, tak ada lagi badai, tak akan pernah ada lagi petir bila kita berteduh dalam gubuk dengan selimut kepercayaan, dan hati yang sama-sama mengagungkan ketulusan untuk saling memberi dan menerima. Tabah menghadapi cobaan. Yakinlah aku bukan seperti yang kau takutkan. Aku adalah jelmaan sekuntum mawar yang bersemi di Tawang Mangu. Amin…

3/april/2002

Event One:

(the true story about Other)


MY HOLY LOVE

(rinisance communities yang dikhianati)

Apa salah Aku?
Saat kau katakan apa yang sebenarnya kau lakukan waktu itu
Darahku berhenti mengalir, detak jantungku lenyap
Paru-paruku tak mampu menghirup oksigen lagi
Walau organ tubuhku berfungsi
Aku tetap ketawa, bercanda seperti biasa

Saat kau tanya ‘Aku Cemburu’?
Aku hanya mampu menjawab dalam hati
Ya, aku cemburu…


Aku nggak akan cemburu kalo kamu perginya tidak dengan orang yang pernah punya hasrat ama kamu. Dan kamu selalu membanggakan kepergianmu dengannya itu. Saat kau cerita kencanmu dengannya, otakku tak berhenti berwacana, tentang kamu dan dia.
Aku salah nerimamu, itu yang ada dalam hatiku karena kamu memang nggak selevel ama aku. Kenapa kamu ngak terus terang, saat aku tanya “kamu ada di mana?’ Apakah itu salah satu bentuk penghianatan kamu? Jangan kamu nodai hubungan kita, dengan penghianatanmu kalo memang kamu menghendaki hubungan kita berakhir, lebih baik kita putus secara baik-baik.

Tell me “what my wrong?”


Kamu terlalu baik sama orang, sampai kau tak bisa membedakan orang yang harus kau perlakukan baik. Sekali dia minta pertolonganmu, maka dia akan memintanya terus. Dan hasratnya dulu yang tak tersampaikan, punya kesempatan tuk disampaikan. Karna kamu sudah memberikan waktu dan ruang bagi dia. Walau sebenarnya kalian sama-sama mengakui kalian sudah punya masing-masing. Kalo kau katakan aku cemburu buta sudah sejak semalam aku marah sama kamu. Tapi aku tadi malam mencoba menepis semua gejolak hati dan perasaanku. Aku juga tak mau menangis di depanmu. Cukup aku yang tahu isi hatiku saat itu. Pagi tadi kamu mengungkit kembali kenanganmu dengannya.

Akankah kebersamaan kita tadi malam, adalah kebersamaan yang terakhir kali bagi kita? Jika ya, aku takkan pernah melupakannya seumur hidupku. Dan saat aku mengingat hubungan kita, maka aku akan mengikat hatiku ‘tuk tidak berhubungan dengan siapapun orangnya. Aku bukan orang yang gampang percaya ama orang.

Lincah, cantik, pintar, kaya, seumur ama kamu, dia punya segalanya. Jangan jadikan aku tempat pelarianmu, saat dia tak ada di Jogja. Saat aku katakan nama dia, itu adalah salah satu bentuk kesedihan, tangisan hatiku. Setega itukah perlakuanmu padaku? Akhir-akhir ini aku sering mengimpikan masa-masa pernikahan kita. Dan aku menata lahir batinku untuk persiapan pernikahan kita. Mimpi malamku selalu di isi dengan gambaran-gambaran masa depan kita.

Aku sudah tak mampu berbicara, aku hanya mampu menulis isi hatiku di atas selembar kertas ini. Perasaanku padamu bukan hanya cinta, sayang, tapi melebihi semua itu. Begitu juga kesedihanku saat ini. Tak bisa digambarkan oleh siapapun juga. Aku akan terus menulis isi hatiku, sampai tanganku lelah dan mataku terpejam tuk bertemu mimpi-mimpi tentang kita. Dan saat mimpi itu berakhir dan akupun terjaga dari mimpiku, maka aku cepat-cepat mengambil pena dan kertas tuk segera menulis tentang mimpi kita.

Bila kutahu…
Bahwa perasaan itu hanya main-main
Dan karena terpaksa
Tak mungkin kuterima kamu
Cinta:
Yang terkadang membuat kita sedih
Kita tak bisa bersatu, karena
Penghianatanmu meruntuhkan
Ambisi cinta yang pernah kubangun
Bersama sejuta harapan
Dan berkah bagi anak-anakku
Kini: aku sadar
Ketika engkau pergi dengan cintanya
Bersama mimpi yang kau bawa
Dan aku, adalah manusia
Yang tak kuasa menahan derita
Dan tak mampu menerima penghianatan.


Tak mungkin, jika cinta itu menjelma menjadi bayang kerinduan, jika ia lahir dari pelarian, atau berupa apa saja yang menyakitkan. Maka disanalah ia membuat luka dan sakit. Seperti api yang senantiasa membara dan menyimpan panas yang sangat besar, menampakkan betapa menyakitkan penghianatan itu.

I wanna change the world, only for you …

Semua bisa terjadi dan berubah ketika kamu khianati cinta suciku. Aku memang, jauh berbeda dengan dia. Warna kulit, kedudukan dihatimu dan banyak lagi perbedaan-perbedaan hingga membuatku seperti sampah. Dan atas dasar perbedaan itu menjadi logika primitif yang mementingkan dirimu sendiri, egoisme dan apapun namanya. Yang kutahu sekarang adalah ketika cinta dikhianati dimana pemahaman dan pengetahuan tak sanggup menggambarkan sakitnya penghianatan itu.

When you tell me that you hate me… adalah ungkapan terdalam dari kebencian yang paling sempurna tentang pengkhianatan yang menjelma menjadi lagu kebencian dan menyakitkan. Aku menangis dan kau senang dengannya. Ada yang kau sembunyikan, semua gelap tak ada setitik cahayapun. Sebuah kejujuran yang kupersembahkan kau balas dengan pengkhianatan. Mungkin itu salah satu sebab diciptakannya neraka. Dengan ketidakjujuran mengapa kita tetap bersama.
Dan waktu telah menjadi saksi bahwa kesendirianmu tanpa diriku telah membuat kau berkhianat. Pada dia yang menemani kesendirianmu dalam setiap desahan nafas dan gerak tubuhmu. Kenikmatan dan kebahagiaan yang kau ciptakan adalah pengkhianatan penderitaan dan kesengsaraan. Aku menderita, aku sengsara dan aku jera melakukannya.
Cintaku terlalu suci untuk kau khianati. Dan ternyata kamu melakukannya. Aku mensucikan cinta karena seperti aku menghadap-Nya. Sejak kau katakan hal itu, aku selalu berdzikir dan tak henti-hentinya memohon kesabaran kepada-Nya. Kini aku telah kehilangan jiwaku, aku hampa, aku telah tiada.

Dalam kegelisankku semalam, yang ada dalam benakku adalah “kamu dan dia”. Otakku terus berwacana, membuat praduga-praduga tentang kamu dengannya. Aku berusaha menepisnya dan menghibur diriku sendiri. Namun aku tak mengalahkan diriku sendiri.
Aku merasa jenuh dengan suasana Jogja. Jika kamu melakukan hal itu hanya untuk menguji aku. Maka aku marah. Tapi jika kamu melakukannya untuk memberi harapan dan membandingkan aku ama dia. Biarlah hubungan kita berakhir sampai disini saja. Karena aku bukan barang perbandingan. Kamu salah pilih aku. Seharusnya dia yang kamu pilih. Tak ada orang yang mampu menghiburku.

Hatiku bertanya-tanya “apa aku egois?” “apa aku cemburu?” Ternyata setelah aku pikir-pikir dan tanya ama teman-temanku mereka juga sakit hati jika diperlakukan seperti itu. Hari-hariku hanya untuk menangis, mengenang, menulis. Kadang aku tak percaya kamu khianati aku. Tapi ini nyata, dan sesuatu yang ada di dunia ini menjadi mungkin, “apa aku egois?”.

Aku kalah segalanya dari dia. Maklumlah kalo kamu akhirnya nerima dia. Aku dulu berfikir untuk menjadikan kamu cinta pertama dan terakhirku. Dan kenyataannya memang ia. Walaupun akhirnya kau bukan menjadi pendampingku. Ternyata apa yang aku gelisahkan selama ini terjadi “kau meninggalkanku”. Kenapa begitu sial nasibku di dunia.

Aku tak sanggup melihat benda atau orang-orang yang pernah menjadi kenangan kita. Sepertinya baru kemaren kau bersamaku. Ternyata semua yang kau tulis dalam bukumu yang kau hadiahkan padaku: RINISANCE COMMUNITIES bohong belaka. Dan mimpi-mimpi yang ada dalam bukumu adalah rayuan maut. Sebenarnya korban pelarian yang keberapa aku ini? Saat dia datang, maka kaupun pergi bersamanya, mengukir kenangan lalu kau ceritakan padaku. Ceritamu sangat ironis sekali bagiku. Kenapa kau pilih aku, bila kau tahu aku tak punya, seperti apa yang dia punya? Ataukah kau jadikan aku boneka mainanmu selama dia jauh darimu. Dan kau pergi setelah kau tahu semuanya tentang aku dan saat dia telah datang.

Aku tahu alasanmu sekarang. Saat aku pinta kau lamar aku, dan kamu bilang kamu belum siap. Ternyata kamu bukan belum siap, tapi kau pilih aku bukan untuk kau jadikan teman hidupmu. Kamu pilih aku hanya tuk jadikan penghiburmu saat dia jauh. Betapa malangnya nasib ini. Dan orang-orang yang selama ini aku cintai, sayang yang melebihi segalanya, hanya mengganggap aku sebagai penghibur.

Kau lakukan itu, karena aku nggak pernah cemburu? Aku nggak akan cemburu, kalo kau pergi bukan dengan dia. Akhirnya aku tak tahu harus bersikap gimana ama kamu. Jika memang aku berbuat salah, tolong katakan apa kesalahanku, hingga kau balas dengan perlakuan itu. Sekali lagi, aku memaklumi kamu berbuat seperti itu, karena dia punya segalanya. Dan aku tak punya. Yang aku punya hanya cinta suci dan kesetiaan, kejujuran. Dan kamu takkan mendapatkan apa-apa dariku kecuali cinta suci yang pantang dikhianati, yang selalu diiringi dengan kejujuran dan kesetiaan.

Aku minta malam ini kau tentukan, aku yang tak punya apa-apa atau dia yang punya segalanya? Ternyata kejujuranku padamu kau khianati begitu saja. Mungkinkah aku tetap menjadi orang one is called rinisance. Yank sakit pengkhianatan itu.
Dari nada bicaramu, kau tak menyimpan rasa bersalah sedikitpun. Karena kamu memang merasa tidak bersalah. Saat aku pinta waktumu untukku malam ini, kau tak bersedia. Jangan salahkan aku jika pikiranku terus membuat praduga-praduga tentang kamu. Karena kesalahanmu. Sebenarnya malam ini aku ingin tahu siapa sebenarnya yang ada dalam hatimu?

Kau tak bisa membaca suasana hatiku. Karna kamu tidak sungguh-sungguh mengenal aku. Seharusnya kau mengerti suasana hatiku dari nada bicaraku tadi. Otakku sudah tak mampu lagi tuk merangkai kata-kata.

Malam sepi
Terima kasih kau telah menemaniku malam ini
Hingga aku larut dalam kesepianmu
Angin malam
Sampaikan khabar pada dunia
Aku punya cinta suci
Aku punya kesetiaan
Aku punya kejujuran
Semua itu akan kupersembahkan tuk suamiku


Suami, hanya dalam khayalanku. Saat ini, tidak mungkin hidupku kan ditemani seseorang. Aku tak kan pernah berstatus isteri. Karena kau sudah pergi bersama orang yang punya segalanya, orang yang punya masa depan.

2/april/2002

BEYOND EVENT

(The short story about rinisance communties)
Part Two—-


Introduction


Bila esok itu abadi
Niscaya momen-momen hari inipun
Jua abadi



Perjalanan waktu seakan tiada hentinya menuturkan pesan dan peristiwa. Soal dan jawabpun terus silih berganti dan rinisance communities semakin sadar bahwa peristiwa (meaning event) itu memanglah sesosok guru terbaik dan bijaksana.

Dalam sohibul hikayah pernah dituturkan bahwa;

“Dunia ini awalnya hanya sebongkah benda mati tanpa ruh. Sedemikian keras, tandus bahkan khabarnya tak ditemukan sumber kehidupan disana. Hanya saja kemudian, dan tiada yang tahu asal muasalnya, tiba-tiba sang dunia itu dikejutkan satu misteri maha dahsyat yang pikiranpun tak sempat lagi bertanya apa gerangan? Dunia yang dulu membatu, tandus nan tak ada tanda-tanda kehidupan, kini telah menjadi sebuah tempat tinggal yang indah, bersemangat, berkeinginan, bergerak dan beragam unsur kehidupan lainnya. Dan menurut hikayah itu disebutkan, bahwasanya sumber perubahan itu berasal dari setetes air mata suci dari seseorang perempuan. Air mata itu adalah sumber dari segala sumber mata air kehidupan yang di dalamnya manusia meminumnya untuk melepas dahaga.”


Air mata itu, kini diyakini sebagai suatu anugerah Tuhan. Dan Tuhanpun telah memfirmankan air mata itu menjadi ayat-ayat bagi penerang jiwa dan menuntun ke jalan keabadian. Pun jua air mata rinisance communities, telah mengguratkan tolehan kehidupan. memberi semangat dalam kehidupan di jasadku.

Rinisance communities adalah satu peristiwa di antara peristiwa kemanusiaan yang dapat saja terjadi pada siapapun. Ia memberi makna bagi kesadaran, ia adalah refleksi dari suatu angitan perjalanan hidup yang tercerai-berai. Dan ia adalah suatu tragedi sekaligus legenda kisah abadi dua insan yang memimpikan hidup di atas niat cinta suci, kesetiaan dan kejujuran.

Seperti pada kisah-kisah lalu, suatu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa perjalanan hidup tak selamanya selalu berupa lembaran-lembaran indah, dan cerita-cerita manis. Hidup adalah suatu harmonisasi kekelaman dan kebersahajaan. Suatu perpaduan kehampaan dan kebermaknaan. Dua unsur yang saling bertemu dalam suatu peristiwa yang berbeda. Seperti halnya lelaki dan perempuan, mereka berbeda jenisnya namun disatukan oleh kehendak-Nya. Perbedaan adalah satu mukjizat, karena di sana hikmah selalu menanti dan mengajarkan kita untuk saling memahami.

Beyond Event, bukan sekedar peristiwa, bukan pula narasi, ia adalah suatu kesaksian sejarah yang melampau keduanya. Ia tepatnya disebut sebagai suatu gagasan masa depan yang dirangkai dari peristiwa-peristiwa lalu dan narasi masa depan. Ia sesungguhnya mimpi bagi suatu keyakinan bahwa bermimpi adalah proyeksi bagi kenyatakan yang akan dilalui.

Lailatul Qodar, 25/Nop/2002

The Third Night

(When You Tell Me That You Love Me)

Kulihat jam tanganku, di sana menunjuk pada 07:30 Wib. "Mas" Tiba-tiba kudengar suara menyapa disebelahku. Panggilan itu begitu 'lain' kurasakan. Sangat khas dan berkarakter. Panggilan yang dewasa dan punya wilayah makna yang kuat dalam diriku. Di balik kata itu tersimpan tumpukan sejarah yang tak bernilai harganya. Aku memcoba memahami diriku sebagai orang yang tak tahu banyak tentang 'dia'. Begitupun sebaliknya.

Hari terus meniti jam, tak terasa telah banyak momen-momen penting dilalui tanpa satu keinginan untuk bertemu. Anehnya, pertemuan terus terjadi, seakan-akan pertemuan itu adalah kodrat Tuhan dan petanda bagi cinta yang telah ditakdirkan. Cinta yang demikian suci dan melebur dalam jiwa. Dalam ketermenunganku aku berbisik, "kapan aku akan menceritakan ini padanya?"

Entah mengapa, setiap waktu aku rindu sekali mendengarkan lagunya Diana Ross dengan When You Tell Me that You Love Me nya. Sepertinya lagu itu adalah diriku sendiri yang berubah menjadi kata-kata dan senandung rindu bagi pujaan yang bertahta di singgahsana keindahan dan kedamaian. Sejak aku berkeingin itu, sudah berapa kali aku dengar lagu itu dan tiada bosan-bosannya aku menikmati dan terus menikmati.

Mungkin kamu ingat ketika lagu ini berkata : "Everything You was far/Nothing is without me … and When You tell Me that You Love Me… .. dan waktu telah menjadi saksi bahwa ketiadaanmu tanpa diriku telah membuat aku bersedih dan cemburu pada waktu yang senantiasa menemanimu dalam setiap desahan nafas dan gerak tubuhmu. Aku ingin menjadi waktu, seperti dia telah menemanimu dalam siang, dalam malam. Aku ingin menjadi ruang, seperti dia telah memberimu tempat berteduh dan menempatkanmu dalam mimpi yang indah. Segumpal keinginan tak mungkin memuaskanku ketika kerinduan itu telah menjemputku dalam perjalanan panjang, gelap berliku. Aku menderita, aku sengsara… tapi aku tak jera melakukannya. Penderitaan dan kesengsaraan yang kau ciptakan adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang tak dapat diberikan oleh bentuk materi modernisme.

When You Tell Me that You Love Me, adalah ungkapan terdalam dari kegelisahan yang paling sempurna tentang cinta yang menjelma menjadi lagu kerindungan dan irama yang indah. Aku bercerita dan kaupun setia mendengarkan. Tiada yang disembunyikan, tiada yang digelapkan semua terang menderang laksana matahari, bulan dan bintang-gemintang. Sebuah kejujuran adalah awal yang baik untuk niat yang baik pula. Tanpa kejujuran tak mungkin dunia ini tercipta. Tanpa kejujuran tak mungkin ada surga, dan tanpa kejujuran mengapa kita bersama?

I wanna change the World, only for you …. Semua bisa saja terjadi, ketika kamu melekat dalam pori-pori tubuhku. Dunia hanya metaforfosis dari keinginan yang mengumpal dalam hati. Dan keinginan itu akan menjadi kekuatan yanga dahsyat ketika ia dilampiri oleh tenaga dalam cinta yang mendorongnya menjadi perubahan. Aku, memang, diciptakan berbeda dengan jenis kelamin, warna kulit, status sosial, dan banyak lagi… Tapi aku tak ingin perbedaan itu menjadi logika primitif yang mementingkan dirinya sendiri, egoisme, dan ataupun apa namanya. Yang kutahu sekarang adalah ketika Cinta menempati ruang di mana semua pemahaman dan pengetahuan tak sanggup meleburnya menjadi hanya sesederhana perbedaan itu. Love is beyond being. Kata terakhir yang ingin aku sampaikan, "tetaplah menjadi bintang di langit" bintang yang kelihatan kecil dan indah tapi eksistensi dirinya yang luar biasa tak pernah dikenal orang. Hanya satu yang tahu yaitu AKU.

The Second Night

[Me, Love and Being]


Pagi-pagi sekali, tetes embun telah menyentakkan aku ketika semalaman aku begadang dengan perasaan. Hari ini aku kesiangan. Entah mengapa tak seperti biasanya kulihat pagi ini begitu segar dan tenang, seakan-akan baru saja Malaikat melintasi cakrawala dan memberkati pagi ini dengan kedamaian.

Sungguh indah, betapa diriku tenggelam dalam suasana yang telah lama sirna, dan kini, tepatnya tadi malam aku telah berbulan madu dengan canda tawa, bercengrama mesra, dan berpelukan dengan wajah ilusimu yang hadir dalam ruang waktuku. Wajahmu menghiasi malam pertamaku, hingga pagipun merasakannya. Layaknya malam lailatul Qadar, engkau telah menganuhgerahkan berkah dan rahmah yang dibawa para malaikat dengan dzikirnya berkeliling sepanjang malam. Karena engkau, semua fenomena kosmos sesaat berhenti bergerak; angin berhenti bertiup, ombak berhenti bergelombang, rembulan berhenti berputar dan bumi menyaksikan segalanya dengan diam dan takjub. Segalanya sunyi dan sakral. Perjalanan waktu itulah yang telah memberikan aku kesempatan bermimpi dan merangkai kata dan masa dalam kemasan yang indah dan bersahaja. Bukankah setiap tempat di dunia, ketika Tuhan memberkatinya adalah Surga? Bukankah setiap perasaan, ketika Tuhan meniupnya dengan kehadiranNya adalah wahyu? Bukankah setiap kata, ketika Tuhan membisiknya adalah firman? Dan bukankah dirimu, ketika Tuhan menjelma adalah ayat-ayatNya yang harus dibaca dan diamalkan?

Dalam renunganku semalam, tak banyak waktu sia-sia untuk sejenakpun aku biarkan berlalu begitu saja. Semua berjalan seakan telah menjadi takdir bahwa malam itu telah menjadi malam seribu malam yang dinanti para insan untuk merasakan kehadiran diri dalam CINTA yang maujud dalam penyatuan jamal dan jamil-Nya. Cinta lahir tidak dalam ruang hampa, Cinta menjelma tidak pula dalam hati yang kosong, Namun hanya dengan kisah dan peristiwa yang meaningful keberadaannya menjadi berarti, eksistensi dirinya menjadi serupa dengan teks-teks suci yang berwujud dalam firman-Nya. Aku memuja Cinta seperti aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada Tuhan. Aku melihat Cinta seperti aku membaca ayat-ayat al Qur’an. Dan aku bercinta seperti aku sholat memuji kebesaran-Nya. Cintaku menjadi Dia yang menjelma dalam seluruh kesadaranku.

Sejak perjumpaanku dengan dirimu, aku selalu berdzikir dan tak henti-hentinya bersyukur. Kini aku telah menemukan kembali aku yang telah hilang, aku yang telah hampa, aku yang telah tiada. Dirimu menjadi inspirasi yang terus mengalir dalam ruang dan waktuku, mengisi kesadaranku dengan ketulusan dan keyakinan bahwa merasakan kehadiran Ilahi bukan semata-mata karena ibadah ritual yang dihayati tapi juga harus tenggelam dalam titik kegelisahan kemanusiaan. Dan dirimu adalah refresentasi kemanusiaan yang seutuhnya bagiku.

Tanpa kusadari, terik matahari telah membakar tubuhku yang belum mandi. Udara pagi telah berganti dengan siang yang panas dan pengap. Buru-buru aku lari kekamar mandi karena sebentar lagi aku pergi dan bernyanyi sambil menghabiskan hari ini untuk kemudian bercerita lagi untuk malam berikutnya dengan suasana yang lain.

05 Februari 2009

The First Night

[Everything runs broadly, I just can feel]


SAAT ITU senja mengusap bumi, warna kuning keemasan telah pula berjalan memanggil malam. Gema adzan Maghrib membahana dari menara-menara masjid. Dan Sebuah keluarga dengan wajah lesu dan debu masih menempel jelas dikulitnya. Mereka menggantungkan harapannya di Jogja. Ya.., mereka baru saja tiba di Jogja. Sepenggal harapan yang mereka bawa dari negeri timur masih hangat dari desah nafasnya yang berhembus penuh kepenatan.

Keluarga itu tak lama tinggal di Jogja, mereka hanya menitipkan adiknya yang baru saja selesai ngaji untuk belajar lagi. Dengan perasaan masih bimbang, sang adik mencoba meyakinkan dirinya untuk sebuah cita-cita yang pernah dirangkainya dulu.

Jauh ketika kenyataan itu seakan takkan pernah terjadi seperti saat ini di mana kakinya benar-benar merasakan bau harum bumi Jogja. Ya.. pada akhirnya, Jogja adalah sebuah kisah baru baginya. Harapan, cita dan perjuangan harus segera dikobarkan. Hanya satu kata yang mesti dibulatkan, “study is everything” dan “study withot steady is better”. Kata-kata itu menjadi jimat dihati dan langkahnya. Hari-harinya penuh dengan pencarian bersama buku dan novel yang selalu menemaninya disaat pagi mulai terjaga hingga wajah mentari terlelap dibungkus kekelapan malam. Oh hidup..
Haripun terus berlalu, dan waktu terus menyisakan harapan dan tekat yang bulat. Tak terasa, semuanya telah berjalan beberapa bulan. Dalam perjalanan itu, ada banyak peristiwa yang terjadi. Moment-moment silih berganti. Ruang dan waktu telah memberikan dunia baru dan kesadaran yang ‘lain’. Sebuah pengalaman yang tak mungkin dilupakan. Pengalaman yang kata sebagian orang menjadi ‘guru’ sekaligus ‘kekasih’ yang tak henti-hentinya menceritakan keindahan dan kerinduan. Everything runs broadly, adalah ungkapan waktu yang tak sempat menjadi ruang, segalanya hanyalah kecepatan yang waktupun tak kuasa mengejarnya. Hanya imajenasi yang tak terbanyang yang mampu mengungkap serpihan-serpihan kisah itu bahwa kisah abadi terkadang datang sebelum kesadaran membangunkan kita....

Inilah malam pertama (the first night) di mana sepasang penganten baru saja mempertemukan hati mereka, menukarkan pandang mata mereka, saling membisikkan hati dan mempertemukan degupan detak jantung mereka.

Inilah awal kegelisahan yang sebelumnya tak pernah terlintas. Seperti kegelisahan Nabi ketika iqro’ menemuinya di gua Hero’. Kegelisahan yang semestinya menyerupai kesunyian tapi muncul dengan luapan-luapan kerinduan. Itulah logika kegelisahan yang bersemai menjadi kerinduan. Sebuah pengalaman yang non-rasional, sebuah teka-teki waktu yang menjelma menjadi wajah kekasih.

Ooh, kenapa begitu pengap hari ini, udara semaikin asyik bercengrama dengan panas, sementara angin mengusir debu hingga lari tunggang langgang. Suasana semakin tidak menentu. Pohon-pohonpun hanya mengelus kulit dan daunnya yang telah kering mengharap hujan ketika itu juga. Burung-burung berusaha memanggil sore dengan kicauannya yang memelas. Begitu mungkin suasana malam pertamaku dalam everything runs broadly, I just can feel.

RINISANCE COMMUNITIES [the ontological silence of the night]

Karena waktu
yang telah mempertemukan
Karena kesunyian
yang telah membisikkan
Karena kini kita telah bersama
Kepada siapa lagi kita harus setia

by the name of love:
everything could be done


Introduction
[Something Happen in my Heart]

Everything is love, kata itu mengawali kisah silence in the night, yaitu sebuah legenda klasik dan futuristik. Kisah ini sangat sederhana, seperti peristiwa-peristiwa yang lain, ia bertutur tentang pengalaman spesial seorang insan yang tanpa sengaja menemukan kembali cintanya melalui kisah-kisah malam (the story of the night) yang menjelma menjadi kekuatan maha dahsyat. Dibalik kesederhanaan kisah ini, ada sesuatu yang istimewa. Kisah ini tercipta dalam bahasa kesunyian dan pekatnya malam. Ia lahir dalam situasi di mana malaikat-malaikat terbang melintasi cakrawala, memberi berkah pada manusia yang senatiasa bertasbih pada Tuhan, dan membisikkan cinta pada hati setiap insan.

Kisah ini hanyalah sepenggal waktu yang secara kebetulan mengisi ruang dimensi pengalaman manusia di saat pengalaman itu telah tidak menyisakan lagi ruang-ruang asmara yang dikuburnya bersama masa lalu. Masa lalu yang menariknya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tak henti-hentinya meneriakkan “kill, kill, kill. !
Ironisnya, sang pembunuh tiba-tiba menemukan satu kenyataan pahit disaat the silence of the night datang mengusapnya dengan lembut, penuh kedamaian, dan kasih sayang yang tak pernah lagi ia rasakan seperti beberapa tahun yang silam. Sang pembunuh tafakkur, merunduk dan di saat lain menengadah meratapi sikapnya yang selama ini dianggapnya sebagai ‘kebodohan yang dia ciptakan sendiri’.

The silence of the night memang rekaan sekaligus metaporfosis dari bunga mawar yang mekar di Tawangmangu dan menginspirasikan sebuah legenda abadi dari sisi lain hubungan Adam dan Hawa. Surga yang menjadi persemaian mereka kini menjadi milik waktu dan kerinduan. Surga yang hanya bisa dirasakan dan dinikmati dengan bahasa diam dan keheningan. Seperti orang bijak bertutur “diam dan keheningan adalah bahasa segala bahasa dimana hasrat terbang tanpa batas menjelajah setiap pori-pori tubuh sampai akhirnya angin malam mengusapnya”. Kesunyian adalah puncak mediasi di mana semua bisa bebas berekpresi, berdo’a, mencinta bahkan juga mencaci dan membenci. Kesunyian satu-satu sistem yang paling demokratis ketika aspirasi hati ingin ditumpahkan.

Setiap insan mesti punya masa lalu, entah masa lalu itu indah atau kelabu. Tentunya tak perlu kita menghakimi masa lalu itu. Biarlah ia menjadi kisah dengan masanya sendiri. Biarlah ia senantiasa menjadi dongeng di waktu malam disaat kekasih kita hendak berangkat tidur. Atau biarlah ia menjadi jawaban dari karma yang kita perbuat.

The silence of night, adalah mimpi sadar tentang keinginan dan masa depan. Ia begitu indah dan abadi. Mengungkap sisi terdalam misteri hati yang baru tertumpah ketika mawar melati menariknya untuk kembali.

Gowok, 06 September 2001