05 Februari 2009

RINISANCE COMMUNITIES [the ontological silence of the night]

Karena waktu
yang telah mempertemukan
Karena kesunyian
yang telah membisikkan
Karena kini kita telah bersama
Kepada siapa lagi kita harus setia

by the name of love:
everything could be done


Introduction
[Something Happen in my Heart]

Everything is love, kata itu mengawali kisah silence in the night, yaitu sebuah legenda klasik dan futuristik. Kisah ini sangat sederhana, seperti peristiwa-peristiwa yang lain, ia bertutur tentang pengalaman spesial seorang insan yang tanpa sengaja menemukan kembali cintanya melalui kisah-kisah malam (the story of the night) yang menjelma menjadi kekuatan maha dahsyat. Dibalik kesederhanaan kisah ini, ada sesuatu yang istimewa. Kisah ini tercipta dalam bahasa kesunyian dan pekatnya malam. Ia lahir dalam situasi di mana malaikat-malaikat terbang melintasi cakrawala, memberi berkah pada manusia yang senatiasa bertasbih pada Tuhan, dan membisikkan cinta pada hati setiap insan.

Kisah ini hanyalah sepenggal waktu yang secara kebetulan mengisi ruang dimensi pengalaman manusia di saat pengalaman itu telah tidak menyisakan lagi ruang-ruang asmara yang dikuburnya bersama masa lalu. Masa lalu yang menariknya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tak henti-hentinya meneriakkan “kill, kill, kill. !
Ironisnya, sang pembunuh tiba-tiba menemukan satu kenyataan pahit disaat the silence of the night datang mengusapnya dengan lembut, penuh kedamaian, dan kasih sayang yang tak pernah lagi ia rasakan seperti beberapa tahun yang silam. Sang pembunuh tafakkur, merunduk dan di saat lain menengadah meratapi sikapnya yang selama ini dianggapnya sebagai ‘kebodohan yang dia ciptakan sendiri’.

The silence of the night memang rekaan sekaligus metaporfosis dari bunga mawar yang mekar di Tawangmangu dan menginspirasikan sebuah legenda abadi dari sisi lain hubungan Adam dan Hawa. Surga yang menjadi persemaian mereka kini menjadi milik waktu dan kerinduan. Surga yang hanya bisa dirasakan dan dinikmati dengan bahasa diam dan keheningan. Seperti orang bijak bertutur “diam dan keheningan adalah bahasa segala bahasa dimana hasrat terbang tanpa batas menjelajah setiap pori-pori tubuh sampai akhirnya angin malam mengusapnya”. Kesunyian adalah puncak mediasi di mana semua bisa bebas berekpresi, berdo’a, mencinta bahkan juga mencaci dan membenci. Kesunyian satu-satu sistem yang paling demokratis ketika aspirasi hati ingin ditumpahkan.

Setiap insan mesti punya masa lalu, entah masa lalu itu indah atau kelabu. Tentunya tak perlu kita menghakimi masa lalu itu. Biarlah ia menjadi kisah dengan masanya sendiri. Biarlah ia senantiasa menjadi dongeng di waktu malam disaat kekasih kita hendak berangkat tidur. Atau biarlah ia menjadi jawaban dari karma yang kita perbuat.

The silence of night, adalah mimpi sadar tentang keinginan dan masa depan. Ia begitu indah dan abadi. Mengungkap sisi terdalam misteri hati yang baru tertumpah ketika mawar melati menariknya untuk kembali.

Gowok, 06 September 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar