12 Februari 2009

Event Two:

(the replay of true story)


Panas semusim telah basah oleh hujan sehari, pengorbanan setahun telah pupus karena logika-logika hati yang dibakar rasa cemburu… Siapa sebenarnya yang patut bercumburu? Aku ataukah Kau… kenyataan memang tak dapat aku elakkan, dia memang bersamaku. Walau seribu kata telah kucoba jelaskan bahwa ‘dia tetaplah dia sebagai teman’, pernyataanku seakan terbentur tembok cemburu yang kokoh, dan tak sempat lagi bersemai asumsi-asumsi lain yang mungkin lebih membukankan hati… lebih cerna melihat masalah … dan lebih arif menyikapi situasi…

Sebaliknya, apakah aku tak berhak cemburu, disaat dikau bersama orang yang kau juga anggap sebagai ‘kakak’? Yang dulu pernah kau sebut ketika kau tiba di Jogja? Orang yang jua tak henti-hentinya ‘memberi’ rasa dan perhatian yang dalam terhadapmu? Apakah kau anggap itu semata sikap dan tindakan yang ‘lumrah’? Apakah aku ini tak dapat melihat itu sebagai sesuatu yang ‘lebih’?

Aku menyadari, dan akupun mafhum. Kata-kata yang kau rangkai dalam baris kesedihanmu di dalam surat itu penuh dengan suasana hati yang labil, meledak-ledak sekaligus menumpahkan perasaan yang selama ini menampakkan sisi kecintaan, kesetiaan dan kejujuran. Begitulah kata pepatah; cinta yang berlebih datanglah juga kebencian yang tak berkurang.

Siapa sebenarnya yang lebih dewasa? Aku tak pantas menjawabnya. Dan akupun tak ada niat untuk membahasnya. Karena bagiku Cinta tetaplah cinta, kebencian hanyalah biasnya. Tak mungkin aku melepas ikatan yang telah mengakar kuat dalam kesadaranku ini. Sekali diikat hanyalah kematian yang dapat memutuskannya.

Oh.. waktu, oh memori-memori yang pernah menyertaiku.. tak ada lagi yang dapat menemaniku selain kalian wahai waktu dan momen-momen abadi. Kalianlah hiasan yang paling mengerti bahwa di atas event-event itu ternyata terdapat sesuatu yang melebihinya (beyond it). Peristiwa seakan cukup oleh waktu kata benda yang kaku tanpa progresivitas. Peristiwa telah menjadi momen-momen waktu itu saja. Kenangan telah menjadi kisah yang manis diingat saja.

Aku hanyalah sekedar darah, segumpal daging dan segenggam kemauan yang dapat bercerita, berbagi rasa dan menikmati hidup sejauh yang aku mampu meneguknya. Jika waktu telah mengakhiri perjalanan yang hanya seperempat ini. Aku tak kan pernah menyesal. Aku telah berusaha meyakini diriku sendiri untuk tetap jujur pada waktu, pada peristiwa dan aku tetap menganggap bahwa ini hanyalah sekedar kesalahpahman. Kesalahpahaman yang tercipta dalam situasi dan kontruks emosi yang labil. Bahasa emosi dan perasaan terkadang hanya dibatasi oleh ruang yang sangat tipis, begitu tipisnya hingga kita tak mampu lagi membedakannya.

Sungguh…. Peristiwa ini bukan sekedar momen biasa bagiku, di sini aku semakin menyadari bahwa Cinta yang pernah keluar dari hatiku ini adalah Cinta yang tulus dan bersih dari noda-noda. Jika tidak, aku telah lama melakukannya dengan orang-orang yang pernah dekat denganku. Gampang bukan? Mungkin bukan? Tapi apa maknanya bagi kedamaian hidupku? Apa maknanya bagi keabadian Cintaku? Dan apa maknanya bagi pilihan kesadaranku?

Hidup tanpa makna, cinta tanpa keabadian, dan pilihan tanpa kesadaran hanyalah seorang musafir yang tak punya tujuan bagi perjalanannya. Hanyalah hidup yang sia-sia. Aku telah memilihmu… aku telah menetapkanmu sebagai satu-satunya hidup yang berarti, satu-satunya cinta yang abadi, nan satu-satunya pilihan atas kesadaranku… mengapa aku harus memungkirinya?

Pilihan haruslah sebuah pilihan
Ketetapan haruslah ketetapan
Jangan kaburkan pilihan dengan ketetapan yang lain
Atau kita hanyalah gelobang air
Yang beriak saat angin menerjang
Atau kita hanyalah kayu
Yang mendebu karena api
Atau kita hanyalah Embun
Yang berjaya disaat pagi



Dunia akan tersenyum bila kita sama-sama menyaksikan bahwa ruang-ruang hampa berjarak di saat malam dan siang itu tidak lagi menimbulkan pra-sangka pra-sangka, bayangan-bayangan, kekelaman kekelaman. Tak ada yang dapat memisahkan hati dan jiwa kita, bila seluruh aliran darah, desahan nafas, dan detak jantung selalu berfungsi dalam kesatuan anatomi yang memberi energi bagi jasad kita. Aku yakin… tak ada lagi mendung, tak ada lagi badai, tak akan pernah ada lagi petir bila kita berteduh dalam gubuk dengan selimut kepercayaan, dan hati yang sama-sama mengagungkan ketulusan untuk saling memberi dan menerima. Tabah menghadapi cobaan. Yakinlah aku bukan seperti yang kau takutkan. Aku adalah jelmaan sekuntum mawar yang bersemi di Tawang Mangu. Amin…

3/april/2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar