12 Februari 2009

The Second Night

[Me, Love and Being]


Pagi-pagi sekali, tetes embun telah menyentakkan aku ketika semalaman aku begadang dengan perasaan. Hari ini aku kesiangan. Entah mengapa tak seperti biasanya kulihat pagi ini begitu segar dan tenang, seakan-akan baru saja Malaikat melintasi cakrawala dan memberkati pagi ini dengan kedamaian.

Sungguh indah, betapa diriku tenggelam dalam suasana yang telah lama sirna, dan kini, tepatnya tadi malam aku telah berbulan madu dengan canda tawa, bercengrama mesra, dan berpelukan dengan wajah ilusimu yang hadir dalam ruang waktuku. Wajahmu menghiasi malam pertamaku, hingga pagipun merasakannya. Layaknya malam lailatul Qadar, engkau telah menganuhgerahkan berkah dan rahmah yang dibawa para malaikat dengan dzikirnya berkeliling sepanjang malam. Karena engkau, semua fenomena kosmos sesaat berhenti bergerak; angin berhenti bertiup, ombak berhenti bergelombang, rembulan berhenti berputar dan bumi menyaksikan segalanya dengan diam dan takjub. Segalanya sunyi dan sakral. Perjalanan waktu itulah yang telah memberikan aku kesempatan bermimpi dan merangkai kata dan masa dalam kemasan yang indah dan bersahaja. Bukankah setiap tempat di dunia, ketika Tuhan memberkatinya adalah Surga? Bukankah setiap perasaan, ketika Tuhan meniupnya dengan kehadiranNya adalah wahyu? Bukankah setiap kata, ketika Tuhan membisiknya adalah firman? Dan bukankah dirimu, ketika Tuhan menjelma adalah ayat-ayatNya yang harus dibaca dan diamalkan?

Dalam renunganku semalam, tak banyak waktu sia-sia untuk sejenakpun aku biarkan berlalu begitu saja. Semua berjalan seakan telah menjadi takdir bahwa malam itu telah menjadi malam seribu malam yang dinanti para insan untuk merasakan kehadiran diri dalam CINTA yang maujud dalam penyatuan jamal dan jamil-Nya. Cinta lahir tidak dalam ruang hampa, Cinta menjelma tidak pula dalam hati yang kosong, Namun hanya dengan kisah dan peristiwa yang meaningful keberadaannya menjadi berarti, eksistensi dirinya menjadi serupa dengan teks-teks suci yang berwujud dalam firman-Nya. Aku memuja Cinta seperti aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada Tuhan. Aku melihat Cinta seperti aku membaca ayat-ayat al Qur’an. Dan aku bercinta seperti aku sholat memuji kebesaran-Nya. Cintaku menjadi Dia yang menjelma dalam seluruh kesadaranku.

Sejak perjumpaanku dengan dirimu, aku selalu berdzikir dan tak henti-hentinya bersyukur. Kini aku telah menemukan kembali aku yang telah hilang, aku yang telah hampa, aku yang telah tiada. Dirimu menjadi inspirasi yang terus mengalir dalam ruang dan waktuku, mengisi kesadaranku dengan ketulusan dan keyakinan bahwa merasakan kehadiran Ilahi bukan semata-mata karena ibadah ritual yang dihayati tapi juga harus tenggelam dalam titik kegelisahan kemanusiaan. Dan dirimu adalah refresentasi kemanusiaan yang seutuhnya bagiku.

Tanpa kusadari, terik matahari telah membakar tubuhku yang belum mandi. Udara pagi telah berganti dengan siang yang panas dan pengap. Buru-buru aku lari kekamar mandi karena sebentar lagi aku pergi dan bernyanyi sambil menghabiskan hari ini untuk kemudian bercerita lagi untuk malam berikutnya dengan suasana yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar