05 Februari 2009

The First Night

[Everything runs broadly, I just can feel]


SAAT ITU senja mengusap bumi, warna kuning keemasan telah pula berjalan memanggil malam. Gema adzan Maghrib membahana dari menara-menara masjid. Dan Sebuah keluarga dengan wajah lesu dan debu masih menempel jelas dikulitnya. Mereka menggantungkan harapannya di Jogja. Ya.., mereka baru saja tiba di Jogja. Sepenggal harapan yang mereka bawa dari negeri timur masih hangat dari desah nafasnya yang berhembus penuh kepenatan.

Keluarga itu tak lama tinggal di Jogja, mereka hanya menitipkan adiknya yang baru saja selesai ngaji untuk belajar lagi. Dengan perasaan masih bimbang, sang adik mencoba meyakinkan dirinya untuk sebuah cita-cita yang pernah dirangkainya dulu.

Jauh ketika kenyataan itu seakan takkan pernah terjadi seperti saat ini di mana kakinya benar-benar merasakan bau harum bumi Jogja. Ya.. pada akhirnya, Jogja adalah sebuah kisah baru baginya. Harapan, cita dan perjuangan harus segera dikobarkan. Hanya satu kata yang mesti dibulatkan, “study is everything” dan “study withot steady is better”. Kata-kata itu menjadi jimat dihati dan langkahnya. Hari-harinya penuh dengan pencarian bersama buku dan novel yang selalu menemaninya disaat pagi mulai terjaga hingga wajah mentari terlelap dibungkus kekelapan malam. Oh hidup..
Haripun terus berlalu, dan waktu terus menyisakan harapan dan tekat yang bulat. Tak terasa, semuanya telah berjalan beberapa bulan. Dalam perjalanan itu, ada banyak peristiwa yang terjadi. Moment-moment silih berganti. Ruang dan waktu telah memberikan dunia baru dan kesadaran yang ‘lain’. Sebuah pengalaman yang tak mungkin dilupakan. Pengalaman yang kata sebagian orang menjadi ‘guru’ sekaligus ‘kekasih’ yang tak henti-hentinya menceritakan keindahan dan kerinduan. Everything runs broadly, adalah ungkapan waktu yang tak sempat menjadi ruang, segalanya hanyalah kecepatan yang waktupun tak kuasa mengejarnya. Hanya imajenasi yang tak terbanyang yang mampu mengungkap serpihan-serpihan kisah itu bahwa kisah abadi terkadang datang sebelum kesadaran membangunkan kita....

Inilah malam pertama (the first night) di mana sepasang penganten baru saja mempertemukan hati mereka, menukarkan pandang mata mereka, saling membisikkan hati dan mempertemukan degupan detak jantung mereka.

Inilah awal kegelisahan yang sebelumnya tak pernah terlintas. Seperti kegelisahan Nabi ketika iqro’ menemuinya di gua Hero’. Kegelisahan yang semestinya menyerupai kesunyian tapi muncul dengan luapan-luapan kerinduan. Itulah logika kegelisahan yang bersemai menjadi kerinduan. Sebuah pengalaman yang non-rasional, sebuah teka-teki waktu yang menjelma menjadi wajah kekasih.

Ooh, kenapa begitu pengap hari ini, udara semaikin asyik bercengrama dengan panas, sementara angin mengusir debu hingga lari tunggang langgang. Suasana semakin tidak menentu. Pohon-pohonpun hanya mengelus kulit dan daunnya yang telah kering mengharap hujan ketika itu juga. Burung-burung berusaha memanggil sore dengan kicauannya yang memelas. Begitu mungkin suasana malam pertamaku dalam everything runs broadly, I just can feel.

2 komentar:

  1. i just wanna say....
    WUiiiiiiiiiiH....!

    BalasHapus
  2. arapa'a Daman reyah koh! ma' ma' malemma'

    BalasHapus