24 Februari 2009

Pokok Bahasan IV

FILSAFAT YUNANI KUNO

Mengapa Mempelajari Filsafat Yunani Kuno ?

Setidaknya ada 2 alasan, mengapa kita perlu mempelajari sejarah filsafat Yunani.

Pertama, gaya dan alam pemikiran Yunani membantu kita memahami unsur-unsur yang sebagian besar menjadi batu bangunan untuk kultur modern (misalnya, cara berpikir modern yang logis berdasarkan prinsip-prinsip ilmu logika, serta cara penalaran ilmiah dengan prinsip kausalitas, paham demokrasi, dan keutamaan-keutamaan hidup). Dengan mempelajarinya, kita bisa retrospektif untuk memahami mengapa dan bagaimana kultur modern dan ilmiah sekarang ini terbentuk. Sekaligus mendapatkan prinsip-prinsip pokoknya.

Kedua, bagi mereka yang secara khusus menekuni studi filsafat, ada alasan tersendiri: Filsafat Yunani memuat dan merumuskan problem-problem filsafat yang masih hangat didiskusikan sampai hari ini. Tema-tema tersebut adalah:

Ada

Keutamaan

Kebenaran

Jiwa

Pengenalan

Allah

Dunia


Secara umum, tema-tema pokok filsafat Yunani mencakup tiga hal:

  1. Permasalahan tentang asas (arkhe) dan hukum (logos) alam semesta, serta upaya menemukan satu prinsip yang mempersatukan segalanya.
  2. Tema-tema yang berkaitan dengan paham aletheia (Yunani, Ketidaktersembunyian), seperti "Ada", "Kebenaran", "Pengetahuan Sejati".
  3. Pertanyaan tentang kodrat manusia dan penentuan tindakan etisnya; "Jiwa", "yang baik", dan "keutamaan" (arete).

Ahmad Tafsir mengatakan bahwa : Ciri umum dari filsafat Yunani adalah rasionalisme

Periodeisasi Filsafat Barat Kuno

Para sejarawan filsafat sepakat membagi sejarah filsafat Barat Kuno ke dalam tiga jaman.

Jaman pra-Sokrates

Jaman Klasik

Jaman Yunani-Romawi / Jaman Helenistis

  1. Jaman pra-Sokrates

    Jaman ini mencakup filsafat Alam dari para pemikir asal Miletos (Thales, Anaximandros, dan Anaximenes), Parmenides, Herakleotos.

    (650-500 SM).

  2. Jaman Klasik

    Jaman Klasik ditandai dengan munculnya Sokrates, Plato dan Aristoteles. Termasuk yang dimasukkan pada priode ini adalah kaum Sofis. Pusat filsafat jaman ini adalah Athena.

  3. Jaman Yunani-Romawi / Jaman Helenistis

    Bermula dari saat muncul sampai tenggelamnya kekuasaan Alexander Agung (abad ke-4 SM) hingga jaman kekuasaan bangsa Romawi (abad ke-2 SM). Ada dua madzhab utama dalam jaman ini, yaitu:

  • Madzhab Epikuros, dan
  • Madzhab Stoa.

Kedua Madzhab di atas memiliki concern pada bidang filsafat Moral (etika).

Pada abad ke-1 SM sampai akhir kekuasaan kerajaan Romawi Barat, ada ajaran-ajaran baru dalam sejarah filsafat Barat kuno, khususnya Skeptisisme dan neo-Platonisme. Selain itu, ada juga ajaran-ajaran lain yang datang dari India, Persia, Yudaisme, dan Kristianisme.

Tokoh-Tokoh Filosof Pra-Sokrates

  • THALES (624-546 SM)

Thales adalah founding father bagi sejarah filsafat Barat dengan memberi jawaban yang tidak mitologis atas pertanyaan:

  • What is nature of the World stuff ?
  • Water is the basic prinsiple of the Universe

Bagi Thales, air adalah sebab yang pertama dari segala yang ada dan yang jadi, sekaligus juga akhir dari segala yang ada dan yang jadi. Di awal air di ujung air. Air adalah yang penghabisan. Air merupakan subtrat (bingkai) sekaligus substansi (isi) itu sendiri.

  • ANAXIMANDROS (610-547 SM)

    Tidak seperti Thales, Anaximandros berpendapat lain. Ia mengatakan bahwa prinsip segala sesuatu bukanlah anasir alam yang kongkret seperti Air. Mengapa? Sebab, seandainya air sebagai unsur basah sungguh-sungguh merupakan prinsip segala sesuatu, seharusnya terdapat juga dalam segala sesuatu, misalnya pada Api. Tetapi nyatanya tidak demikian.

    Anaximandros lalu menetapkan prinsip lain sebagai asas segala sesuatu. Prinsip itu adalah prinsip abstrak yang dinamainya to apeiron (yang tidak terbatas). To
    apeiron ini bersifat ilahi, abadi, tidak terubahkan dan meliputi segala-segalanya.

  • ANAXIMENES (585-528 SM)

    Kesulitan menerima ajaran gurunya, Anaximandros, Anaximenes mengembalikan lagi prinsip segala sesuatu kepada anasir Alam, yakni Udara. Udara di sini menurut pengertian orang-orang Yunani meliputi baik udara atau kabut atau uap.

    Menurut Anaximenes, semua benda di alam semesta tercipta karena suatu proses pengenceran dan pemadatan dari udara sebagai anasir dasariah ini: Kalau udara menjadi encer, muncullah api. Sebaliknya, kalau udara semakin bertambah kepadatannya, muncullah berturut-turut air, tanah, dan batu.

    Pandangan mengenai udara ini, dikembangkan oleh Anaximenes pada Jiwa manusia, yang tak lain adalah udara. "sebagaimana jiwa kita, yang tidak lain daripada udara, menyatukan tubuh kita, demikian pula udara mengikat dunia ini jadi satu".

KESIMPULAN

Dari ketiga pemaparan para filosof tersebut, dapat disimpulkan:

  1. Alam semesta merupakan keseluruhan yang bersatu, maka harus diterangkan dengan menggunakan satu prinsip (the one) saja.
  2. Alam semesta dikuasai oleh suatu hukum. Kejadian-kejadian alam tidak terjadi secara kebetulan, tetapi ada semacam keharusan teratur di belakang kejadian-kejadian itu.
  3. Akibatnya, alam semesta merupakan kosmos. Kata Yunani dari kosmos dapat diartikan sebagai DUNIA, sebuah dunia yang teratur sebagai lawan kata dari khaos, dunia yang kacau balau.
  • HERACLITUS (540-480 SM)

    Heraclitus yang berasal dari Ephesus di Asia Kecil. Dia beranggapan bahwa perubahan terus menerus, atau aliran, sesungguhnya merupakan ciri alam yang paling mendasar. "Segala sesuatu terus mengalir," kata Heraclitus.

    Segala sesuatu mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap. Karena itu kita "tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama," dalam ungkapan bahasa Inggrisnya "you can not step twice into the same river for the fresh waters are ever flowing upon you".

    Menurut Heraclitus, Alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah; yang panas jadi dingin, yang dingin jadi panas. Artinya ada ke-dinamis-an di dalam alam ini. Jadi kesimpulannya adalah bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahan (stuff)nya seperti Thales sebelumnya mengatakan, tapi prosesnya

  • PARMENIDES (540-480 SM)

    Rekan sejaman dengan Heraclitus adalah Parmenides adalah logikawan pertama dalam sejarah filsafat. Sistemnya secara keseluruhan disandarkan pada deduksi logis.

    Parmenides beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada pasti telah selalu ada. Dan juga tidak ada sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan. Demikian juga, tidak ada sesuatu pun yang ada dapat menjadi tiada. Namun demikian, tidak ada yang disebut perubahan aktual. Tidak ada yang dapat menjadi sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya.

    Cara pandang di atas, membawa Parmenides pada suatu kesimpulan bahwa keaneka-ragaman realitas yang ada, dapat dijumpai suatu hal yang tetap, sama dan berlaku umum. Sesuatu yang tetap, sama dan berlaku umum itu tidak dapat ditangkap melalui pencerapan panca-indera, namun hanya dapat dicerna oleh pikiran (rasionalitas). Karena bagi Parmenides, indra-indra kita memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia, suatu gambaran yang tidak sesuai dengan akal kita. Untuk itulah, tugas seorang filsuf adalah menyingkapkan segala bentuk ilusi perseptual. Atas pemikirannya inilah kemudian Parmenides dikenal sebagai seorang rasionalis. Atau rasionalisme. @

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar