24 Februari 2009

Pokok Bahasan III

PEMIKIRAN MITOLOGI DAN AWAL LAHIRNYA FILSAFAT

Pengertian Mitologi

Istilah mitologi diambil dari bahasa Yunani mytologia (mythos: mite, mitos; dan legein: berbicara). Jadi, Mitologi adalah hal-hal yang membicarakan tentang mitos.

Lorens Bagus, Kamus Filsafat, menjelaskan mitologi sebagai:

  • Refleksi tentang realitas dalam kesadaran primitif, yang diungkapkan dalam cerita rakyat lisan tentang masa lampau. Mite-mite merupakan cerita yang dilahirkan pada tahap-tahap awal sejarah, yang gambaran-gambaran fantastiknya (dewa-dewi, pahlawan-pahlawan legendaris, peristiwa-peristiwa besar, dan sebagainya) tidak lain merupakan upaya-upaya untuk memopulerkan dan menjelaskan gejala-gejala alam dan masyarakat yang berbeda.
  • Ilmu yang mempelajari mite-mite, asal-usulnya dan refleksi tentang realitas di dalamnya
  • Suatu kumpulan cerita mite (mitos, hikayat) yang ada kaitannya dengan agama primitif atau suatu studi (penyelidikan) yang menggarap cerita-cerita tersebut. Mite-mite timbul, berkembang karena didorong oleh hasrat dan usaha manusia (yang tidak ilmiah) untuk memahami dan menjelaskan dunia sekitarnya.

Beberapa Mitos Dalam Sejarah

Sekitar 700 SM, kebanyakan mitologi Yunani ditulis oleh Homer dan Hesiod. Dan pada filsuf Yunani awal mengecam mitologi Homer sebab para Dewa terlalu menyerupai manusia dan sama egois dan sama curangnya. Salah seorang filsuf yang mengkritik itu adalah Xenophanes, yang hidup sekitar 570 SM. Katanya, manusia menciptakan dewa-dewa sesuai dengan banyangan mereka sendiri. Mereka percaya bahwa dewa-dewa itu dilahirkan dan mempunyai badan dan pakaian serta bahasa sebagaimana kita semua. Orang-orang Etiopia percaya bahwa para dewa itu hitam dan berhidung rata. Bangsa Trasia membayangkan mereka sebagai manusia bermata biru dan berambut terang.

1. Mitos Dewi Eurynome (Dewi segala sesuatu) tentang asal mula Alam Semesta:

Pada jaman Homeros, diceritakan bahwa: Dewi Eurynome, dewi segala sesuatu, dengan telanjang, ia muncul dari dalam kekacauan. Namun, ia tidak menemukan sesuatu pun yang mantap sebagai tempat pijakan kakinya. Dia lantas memisahkan laut dari langit, dan menari sendirian di atas gelombang laut itu. Eurynome bersetubuh dengan Ophion, sang ular besar, lalu mengambil rupa seekor burung merpati dan hinggap di atas gelombang lautan dan menghasilkan pada saatnya telur bakal dunia. Atas perintah Eurynome, Ophion memutari telur bakal-dunia ini sebanyak tujuh kali, sampai telur itu menjadi masak tererami dan pecah. Dari telur yang pecah itulah, muncul segala sesuatu yang ada: Matahari, Bulan, Planet-planet, Bintang-gemintang, Bumi dengan pegunungan dan sungai-sungai, pepohonan, rerumputan dan makhluk hidup.

2. Mitos Dewa Thor (Dewa Kesuburan) dengan palunya:

Di Yunani sekitar enam ratus tahun sebelum kelahiran Kristus (SM) semua pertanyaan yang diajukan oleh manusia dijawab oleh agama. Penjelasan-penjelasan agama ini disampaikan dari generasi ke generasi dalam bentuk mitos. Ada sebuah cerita yang sangat populer yang memiliki suatu lukisan mitologis tentang dunia, yaitu cerita tentang Thor dan palunya. Orang-orang Norwegia percaya bahwa Thor mengendarai sebuah kereta yang ditarik dua ekor kambing melintasi angkasa. Ketika dia mengayunkan palunya akan terdengar guntur dan halilintar. Kata "guntur" dalam bahasa Norwegia "Thor-don" yang berarti raungan Thor. Dalam bahasa Swedia, kata untuk guntur adalah "aska," aslinya "as-aka," yang berarti "perjalanan dewa" di atas lapisan-lapisan langit. Jika ada guntur dan halilintar pasti ada hujan, yang sangat penting bagi para petani Viking. Maka Thor dipuja sebagai dewa kesuburan. Sekaligus menjadi dewa paling penting di wilayah Skandinavia. Seperti halnya Dwi Sri (dewi padi atau kesuburan) dalam cerita rakyat di Indonesia.

Kesimpulan

  • Mitos memainkan peranan amat penting dalam kehidupan manusia. Hanya saja, dalam pemikiran manusia mitos sudah menjadi penyembahan "idola-idola", segala jenis benda atau hal yang disakralkan walaupun tidak layak dipuja –dengan kata lain berhala dalam bentuknya yang "primitif" dan yang lebih "modern".
  • Jadi, mitos bukan sesuatu yang harus ditiadakan demi pemodernan pemikiran manusia. Yang harus ditiadakan adalah salah pemahaman dan penyalahgunaan mitos.

Kaitan Mitos Dengan Filsafat

Pada sekitar abad VI SM, mulailah bermunculan orang-orang yang tidak puas dengan segala bentuk dongeng, hikayat atau mitos tersebut. Mereka berupaya mencari jawaban yang dapat diterima akal atas segala misteri yang ada di alam semesta ini. Dan ini merupakan awal kebangkitan pemikiran filsafat Yunani, di mana orang-orang mulai mencari kebenaran dengan menggunakan logos (akal) dan mulai meninggalkan mythos (mitos).

Kata-kata Moh. Hatta dalam bukunya Alam Pemikiran Yunani :

"...Tiap bangsa betapapun biadabnya, mempunyai dongeng takhayul. Ada yang terjadi dari kisah perintang hari, keluar dari mulut orang yang suka bercerita. Ada yang terjadi dari muslihat menakut-nakuti anak supaya ia tidak nakal. Ada pula yang timbul dari keajaiban alam yang menjadi pangkal heran dan takut. Dari itu orang menyangka alam ini penuh oleh dewa-dewa. Lama-kelamaan timbul berbagai fantasi. Dengan fantasi itu manusia dapat menyatukan ruhnya dengan alam sekitarnya. Orang yang membuat fantasi itu tidak ingin membuktikan kebenaran fantasinya karena kesenangan ruhnya terletak pada fantasinya itu. Tetapi kemudian ada orang yang ingin mengetahui lebih jauh. Di antaranya ada orang yang tidak percaya, ada yang bersifat kritis, lama-kelamaan timbul keinginan pada kebenaran.

Orang-orang Grik (Yunani) dahulunya banyak mempunyai dongeng dan takhayul. Tetapi yang ajaib pada mereka ialah bahwa angan-angan yang indah itu menjadi dasar untuk mencari pengetahuan semata-mata untuk tahu saja. Tidak mengharapkan untuk dari itu. Berhadapan dengan alam yang indah luas, yang sangat bagus dan ajaib pada malam hari, timbul di hati mereka keinginan hendak mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan di dalam hati mereka, dari mana datangnya alam ini, bagaimana terjadinya, bagaimana kemajuannya dan ke mana sampainya. Demikianlah selama beratus tahun alam ini menjadi pertanyaan yang memikat perhatian ahli-ahli pikir Yunani."

KESIMPULAN

Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa ada kaitan yang cukup dekat antara mitos yang irrasional (tidak masuk akal) dengan lahirnya filsafat yang lebih mengedepankan logos (rasionalitas) dalam mencari dasar argumentasi atas segala yang terjadi di alam semesta ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar