25 Februari 2009

Pokok Bahasan V

THE BATTLE OF SOCRATES VS SOFIS

Asal Usul Sofis

  • Sofis asal mulanya bermakna ahli.
  • Sejak pertengahan abad ke V SM, Kaum Sofis adalah golongan guru yang merantau ke mana-mana untuk memberi pengajaran dan dengan demikian mencari nafkah.
  • Pada mulanya, sebutan Sofis tidak memiliki konotasi jelek. Founding father nya adalah Georgias dan Protagoras, keduanya mempunyai image yang baik.

Asbabul Wurud Aliran Sofis

  • Ada dua faktor, intern dan ekstern.
Intern : ada suatu kejemuan yang melanda para generasi yang berkembang di sekitar tahun 450 SM. Perdebatan yang bermula sejak zaman Thales tentang timbulnya alam semesta, indra dan intelek pada jaman Herakleitos dan Parmenides merupakan suatu fakta yang tak bisa dielakkan. Puncaknya adalah ketika perdebatan-perdebatan itu dikonfrontasikan dengan pengalaman sehari-hari yang dalam banyak hal menimbulkan rasa keragu-raguan terhadap pikiran filsafat. Akhirnya mereka menghentikan permenenungan Metafisik tersebut.

Ekstern : Faktor keadaan politik saat itu. Atau lebih tepatnya perubahan jaman. Bangsa Yunani mengalami perubahan kebudayaan akibat peperangan melawan persia. Yang secara langsung bersentuhan dengan munculnya aliran Sofis adalah adanya sistem demokrasi di Athena. Dalam sistem demokrasi ini memungkinkan setiap orang menjadi penguasa. Akhirnya ini memunculkan hasrat untuk belajar dan mencari kecakapan untuk memperoleh kedudukan dalam masyarakat. Di sinilah kaum sofis berperan.

Apa Yang Kaum Sofis Ajarkan ?

  • Setting sosial di Yunani waktu itu menuntut para sofis untuk mementingkan kecakapan berpolitik dan mempergunakan alat-alat kesibukan politik, seperti rapat-rapat, berpidato, menarik masyarakat, dan lain-lain. Soal kebenaran kebanyakan dikesampingkan.
  • Intinya adalah bagaimanakah orang dapat mempengaruhi dan menarik massa dengan jalan apa saja.
  • Untuk kepentingan itu, ilmu yang diajarkan para sofis adalah ilmu bahasa, retorika, dialektik. Dan diajarkan pula ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu falak, bahkan juga mistik.
  • Meski beberapa dari ilmu di atas pernah juga diajarkan oleh filsuf sebelum mereka, ada perbedaan yang mencolok, yaitu; ilmu pasti, ilmu falak, dls itu tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan pikiran yang tinggi. Metafisika adalah di luar minat mereka.

Pendapat Sarjana Muslim

Al-Baghdadi, Al-Nasafi, Al-Taftazani, Nur Al-Din Al-Raniri, dan Naquib al-Attas, membagi para sofis ke dalam tiga kelompok;

Pertama, disebut dengan kelompok al-la adriyyah atau gnostik, karena selalu mengatakan tidak tahu atau selalu ragu-ragu tentang keberadaan sesuatu sehingga menolak kemungkinan seseorang meraih ilmu pengetahuan. Orang yang seperti ini, pada gilirannya juga akan meragukan sikapnya yang serba meragukan keberadaan segala sesuatu.

Kedua, ialah kelompok al-indiyyah, yaitu mereka yang selalu bersikap subjektif. Kelompok ini menerima kemungkinan ilmu pengetahuan dan kebenaran, tetapi menolak tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran. Bagi mereka, tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah subjektif (indi, yaitu ''Menurut saya''), bergantung pada pendapat masing-masing.

Ketiga, ialah kelompok al-'inadiyyah, yaitu mereka yang keras kepala, yang menafikan realitas segala sesuatu dan menganggapnya sebagai fantasi (auham) dan khayalan semata-mata. Kelompok terakhir ini lebih mirip dengan kelompok kedua.

Tokoh-tokoh Aliran Sofis

  • Protagoras ( + 485-411)

    Filsuf pertama yang secara sadar dan sengaja meninggalkan cita-cita para pra-Socratic. Bagi para pra-Socratik, pemungkiran dan (atau) kesangsian itu hanya mengenai alam indra. Maka bagi Protagoras yang disangsikan juga alam metafisik. "Tidak ada pengertian yang tetap, yang benar untuk semua orang. Manusia hanya menangkap dengan indra dan tangkapan ini tidak sama untuk setiap orang. Karena manusia terus-menerus berubah maka tangkapannya juga berubah. Apakah artinya berbicara tentang benar dan salah? " maka dalam konteks ini protagoras mengatakan, homo mensura (Manusia adalah norma dari segala-galanya)

    Manusia dalam pengertian yang mana? Manusia dalam kodradnya atau individualnya? Individualnya, begitu kata Pratogoras (C.J. De Vogel)

    Segala-galanya apa maksudnya? Segala-galanya dalam konteks tangkapan indra atau dalam pengertian yg tidak terbatas?

    Konkritnya, Pratagoras ingin mengusung suatu kebenaran subjektif bukan suatu kebenaran objektif. Karena kebenaran menurutnya adalah seseorang punya kecakapan untuk memutuskan manakah yang menguntungkan bagi Negara pada suatu saat tertentu. Dg kata lain, "segala sesuatu yang berguna pada suatu saat tertentu menurut keadaan saat itu".

  • Gorgias (483 – 375)

    Ia lebih tepat dikatakan sebagai ahli bicara ketimbang ahli pikir. Karenanya ia disebut "Bapak ilmu pidato" (retorika).

    Bagi Gorgias, benar dan salah tidak jadi soal yang penting bagaimana mempertahankan setiap pernyataan.

    Salah satu kata-katanya yang terkenal adalah "sama sekali tidak ada barang yang-ada. Andaikata ada, tidak dapat dimengerti dan jika dapat dimengerti, tidak dapat dikatakan".

    Sebab apakah tidak ada apa-apa?

    Sebab jika ada sesuatu, yang ada itu KEKAL atau DILAHIRKAN. Nah, kedua-duanya tidak mungkin, katanya. Jadi tidak ada apa-apa sama sekali.

    Sebab apa DILAHIRKAN tidak mungkin? Sebab lahir berarti lahir dari yang-ada atau dari yang-tidak-ada. Nah, dari yang-tidak-ada tidak dapat dilahirkan apa-apa ! Akan tetapi juga tidak mungkin dilahirkan dari yang-ada. Sebab yang sudah ada itu sudah ada, dan jika sudah ada tidak dapat dilahirkan ! Jadi jika ada sesuatu, hal itu tidak dapat dilahirkan.

    Atau KEKAL !

Akan tetapi inipun tidak mungkin. Sebab apa? Sebab jika kekal, tidak ada batasnya. Akan tetapi jika tidak ada batasnya, tidak dapat berada di suatu tempat karena ada di suatu tempat sama dengan dibatasi oleh tempat. Jika demikian, yang ada itu tidak ada di manapun juga. Jika tidak ada di manapun juga, ini berarti tidak ada sama sekali. Jelaslah bahwa tidak ada apa-apa sama sekali.

Kalau kita membaca "puncak pikiran" Gorgias itu, tentulah bertanya permainankah ini atau sungguh-sungguhkah? Ada yang berpendapat bahwa nihilisme Gorgias itu sungguh-sungguh. Ada pula yang mengatakan hanya dagelan saja.

Tapi yang jelas, dalam konteks ini kita dapat membayangkan semangat sofis, yang tidak peduli akan benar dan salah.

Sokrates (470-400 sm)

Sepenggal Hidup Sokrates

Socrates adalah filsuf pertama yang dilahirkan di Athena dan selama hidup tinggal di kota itu. Ayahnya seorang pemahat patung, ibunya seorang bidan. Jika hanya dipandang rupanya, maka Sokrates bukanlah orang yang menarik, karena roman mukanya jelek. Terkenallah juga bahwa istrinya, Xantippe, adalah wanita yang sangat galak.

Namun, Sokrates tetaplah Sokrates yang punya kepribadian menawan; budi pekertinya halus, tabiatnya yang tidak mencari keuntungan sendiri. Dan menjungjung moral yang luhur. Karenanya, masyarakat menghormatinya kala itu. Xenophon menulis dalam Memorabilia "Saya mengerti bahwa Sokrates selalu tampak sebagai orang yang bermoral tinggi. Kepada murid-muridnya, ia memberi pengajaran yang tinggi tentang kebajikan dan lain-lain kewajiban manusia."

Karena bakat Socrates yang piawai berdebat, berani , selalu mengemukakan pikirannya dengan terus terang dan tajam maka banyak juga yang membenci dan dendam padanya. Akhirnya, ia difitnah dan dituduh tidak menghormati dewa-dewa Negara Athena dan berpengaruh buruk pada generasi muda. Pada Usia 70 tahun, filsuf yang ulung ini dihukum mati oleh Pengadilan Rakyat Athena. Kepadanya diusulkan supaya meninggalkan kota. Akan tetapi ditolaknya, karena dia menghormati hukum Negara. Hukuman diterimanya dengan minum bisa.

Pesan terakhir Sokrates pada murid-muridnya:

"Lebih baik kita didhalimi orang ketimbang mendhalimi orang."

Perbedaan Sokrates Vs Sofis

Ada perbedaan cukup penting antara Sokrates dan Sofis. Tidak seperti kaum sofis, dia mengajar bukan untuk mendapatkan uang. Dia menyebut dirinya seorang filsuf dalam pengertian yang sebenarnya, yaitu "orang yang mencintai kebijaksanaan". Seorang filsuf sejati adalah orang yang mencari kebenaran tanpa pamrih.

Seorang filsuf mengetahui bahwa dalam kenyataannya hanya sedikit saja yang diketahuinya.

Kata-kata Sokrates yang terkenal;

Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa. Atau dengan kata lain, Orang yang paling bijaksana adalah yang mengetahui bahwa dia tidak tahu.

Sokrates meng counter paradigma pemikiran kaum Sofis dengan mengatakan bahwa ada yang namanya kebenaran Objektif, yang tidak bergantung pada Saya atau Kita.

Untuk membuktikan argumennya, Sokrates menggunakan dialektika yang dalam bahasa Yunani dialegesthai yang artinya bercakap-cakap atau berdialog.

Dalam catatan Aristoteles yang dituangkan dalam traktatnya tentang Metafisika, ada dua penemuan dalam metode Sokrates, kedua-duanya berkenaan dengan dasar pengetahuan, yaitu Induksi dan definisi.

Glosarium

Subyektif

  • (Inggris) Subyecitve. Beberapa pengertian: mengacu ke apa yang berasal dari pikiran (kesadaran, ego, diri, persepsi-persepsi kita, putusan pribadi kita) dan bukan dari sumber-sumber objektif, luar.
  • Subjektivisme: Suatu kategori umum yang meliputi semua doktrin yang menekankan unsur-unsur subyektif pengalaman.

Relativisme

  • (Inggris) relarivism, dari relative, dari Latin: relativus (berhubungan dengan).
  • Relativisme Protagoras; beberapa hal yang terkait dengan relativismenya adalah:

    Teori tentang relativisme pengetahuan dan relativisme persepsi indrawi. Sering dihubungkan dengan teori homo mensura (manusia sebagai ukuran) yang berdasarkan suatu perkataan bahwa "manusia adalah ukuran dari segala sesuatu; dari segala sesuatu yang ada sebagaimana adanya; dari segala sesuatu yang tidak ada sejauh tidak ada";

  • Relativisme Protagoras:
    • Apa yang diamati ada sebagaimana diamati oleh si pengamat.
    • Apa yang diamati benar bagi si pengamat
    • Kebenaran identik dengan apa yang diamati dan berhubungan dengan kondisi fisik si pengamat.
    • Dengan adanya alat-alat indera yang berbeda, apa yang diamati akan berbeda dan apa yang dianggap benar akan berbeda,
    • Kebenaran tidak ada terlepas dari si pengamat dan dari pernyataan bahwa sesuatu itu benar.

    Contoh dari beberapa pokok di atas: X berkata "angin itu dingin", Y berkata "angin itu panas", kedua pernyataan ini tidak benar. Baik X atau Y mengucapkan pernyataan yang salah. Kedua pernyataan adalah benar berhubungan dengan bagaimana X dan Y mengamati (merasakan) angin. Tidak ada metode atau standar yang mengatasi persepsi tersebut dan yang dapat digunakan untuk menentukan pernyataan mana yang benar dan pernyataan mana yang salah.

Skeptisisme

  • Skepticism, dari Yunani Skepsis (Pertimbangan atau keraguan).
  • Skeptisisme Gorgias: argumen pokok; tidak ada hal yang dapat dikatakan ada (versi nihilistik yang lebih kuat: yang ada tiada). Kalau apapun sungguh ada, kita tidak akan mampu mengetahuinya; dan kalau kita mampu mengetahuinya, kita tidak akan mampu mengomunikasikannya.

Nihilisme

  • (Inggris) nihilisme. Dari bahasa Latin nihil (tidak ada). Secara harfiah: ketiadaan.
  • Beberapa Pengertian:
    • Penyangkalan mutlak. Dalam konteks ini nilihilisme berarti titik pandang yang menolak ideal positif mana pun.
    • Dalam epistemologi, penyangkalan terhadap setiap dasar kebenaran yang obyektif dan real.
    • Teori bahwa tidak ada yang dapat diketahui. Semua pengetahuan adalah ilusi, tidak bermanfaat, tidak berarti, relatif (nisbi) dan tidak bermakna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar