22 Februari 2009

Pokok Bahasan II


SISTEMATIKA PEMBAGIAN FILSAFAT


Sistematika Filsafat ini disebut juga dengan struktur filsafat. Sistematika ini, oleh beberapa tokoh, dibagi ke dalam cabang-cabang :

1. ARISTOTELES
Filsafat di bagi ke dalam tiga bidang studi, yaitu:

a. Filsafat Spekulatif/Teoretis
Filsafat spekulatif atau teoritis ini bersifat objektif. Termasuk dalam bidang ini ialah Fisika, Matematika, Biopsikologi, dan sebagainya. Tujuan utama filsafat spekulatif ialah pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri.
b. Filsafat Praktikal
Filsafat praktikal memberi petunjuk dan pedoman bagi tingkah laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya. Termasuk dalam bidang ini adalah Etika dan Politik. Sasaran terpenting bagi filsafat praktikal ialah membentuk sikap dan perilaku yang akan memampukan manusia untuk bertindak dalam terang pengetahuan itu.
c. Filsafat Produktif
Filsafat produktif adalah pengetahuan yang membimbing dan menuntun manusia menjadi produktif lewat suatu keterampilan khusus. Termasuk dalam bidang ini ialah kritik sastra, retorika, dan estetika. Adapun sasaran utama yang akan dicapai adalah agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu, baik secara teknis maupun puitis dalam terang pengetahuan yang benar.
2. CHRISTIAN WOLFF (seorang filsuf rasionalis Jerman)

Membagi cabang-cabang filsafat ke dalam:


a. Logika

Studi tentang metode berpikir dan metode penelitian ideal, yang terdiri dari observasi, introspeksi, deduksi dan induksi, hipotesis dan eksperimen, analisis dan sintesis, dan sebagainya.
b. Ontologi
Membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan membedakan dan memisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari penampakan eksistensi.
c. Kosmologi
Secara tradisional dianggap sebagai cabang metafisika yang bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai asal dan susunan alam raya, penciptaan dan kekekalannya, vitalisme atau mekanisme, kodrat hukum, waktu, ruang, dan kausalitas.
d. Psikologi
Ilmu yang membahas tentang jiwa dan bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku.
e. Teologi Naturalis
Teologi adalah ilmu tentang Allah. Teologi natural adalah teologi yang dimulai dengan pengetahuan alamiah manusia tentang Tuhan.
f. Etika
Studi tentang perilaku ideal.
3. AHMAD TAFSIR

Bahwa secara garis besar filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu:

a. Epistemologi (teori Pengetahuan)
Epistemologi atau teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan cara memperoleh pengetahuan.
Menurut Dagobert D. Runes dalam kamusnya, Dictionary of Philosophy (1971), menjelaskan bahwa:
Epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge”.
Epistemologi memiliki beberapa aliran yaitu:
1) Empirisme
John Locke (1632-1704) adalah bapak aliran ini. Ia mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya adalah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Melalui proses keterlibatan indra, maka ditangkaplah suatu pengetahuan, sehingga sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.
2) Rasionalisme
Bapak aliran ini (biasanya) dirujukkan pada Rene Descartes (1596-1650). Pengetahuan yang benar menurut aliran ini adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan akal dalam menangkap objek. Jadi, akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Sebenarnya, rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan; pengalaman indera diperlukan guna merangsang akan dapat bekerja. Namun, untuk proses akhirnya kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal.
3) Positivisme
Tokoh aliran ini adalah August Comte (1798-1857). Pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya, yang terukur. “Terukur” inilah sumbangan penting positivisme. Misalnya, hal panas. Positivisme mengatakan bahwa air mendidih adalah 100 derajat celcius, besi mendidih 1000 derajat celcius, dan yang lainnya misalnya tentang ukuran meter, ton, dan seterusnya. Ukuran-ukuran tadi adalah operasional, kuantitatif, tidak memungkinkan perbedaan pendapat.
4) Intuisionisme
Tokoh aliran ini adalah Henri Bergson (1859-1941). Menurutnya, tidak hanya indera yang terbatas tapi akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal itulah, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh manusia, yaitu intuisi. Ini adalah hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Pengembangan kemampuan (intuisi) ini memerlukan suatu usaha. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap, yang unique. Berkaitan dengan intuisionisme, ada sebuah aliran yang mirip dengannya, namanya iluminasionisme. Aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh Islam. Teori yang menjadi mainstream adalah teori kasyf yang menyatakan bahwa manusia –yang hatinya telah bersih– telah ‘siap’ sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan. Pencapaiannya dilalui dengan cara latihan atau di dalam Islam disebut suluk, atau lebih khusus lagi riyadhah. Umumnya, metode ini diajarkan di dalam thariqat. Menurut ajaran thariqat/tashawwuf, manusia itu dipengaruhi (ditutupi) oleh hal-hal yang material, dipengaruhi oleh nafsunya. Bila nafsu itu dapat dikendalikan, penghalang material (hijab) disingkirkan, maka kekuatan rasa itu mampu bekerja, laksana antena yang mampu menangkap objek-objek gaib.
b. Ontologi (Teori Hakikat)
Teori hakikat atau ontologi membahas semua objek. Apa itu hakikat? Hakikat adalah realitas sementara realitas adalah kenyataan yang sebenarnya; jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah. Ada banyak cabang-cabang di dalam teori hakikat. Kosmologi adalah ilmu yang berbicara tentang hakikat asal, susunan, berada, juga tujuan kosmos. Antropologi adalah ilmu yang mengupas tentang hakikat manusia. Fheodicea atau sering juga disebut theologia adalah ilmu yang membahas tentang hakikat Tuhan. Dan masih banyak lagi yang lain seperti filsafat pendidikan dan filsafat hukum.

Kalau yang kita bicarakan mengenai realitas benda-benda, apakah ia sesuai dengan penampakannya atau bersembunyi di balik penampakannya (appearence) itu, maka untuk menjawab hal ini ada beberapa aliran yang termasuk di dalamnya. (1) materialisme, (2) idealisme, (3) dualisme, (4) skeptisisme, dan (5) agnostisisme.
c. Aksiologi (Teori Nilai)
Teori nilai atau disebut juga aksiologi membicarakan guna pengetahuan atau disebut aksiologi. Kalau kita kontekskan dengan filsafat, maka apa kegunaan pengetahuan filsafat? Untuk menjawab ini, tentu kita akan melihat filsafat sebagai tiga hal:

Filsafat sebagai kumpulan teori. Di sini filsafat digunakan untuk memahami –dan merespons– dunia pemikiran. Sebuah contoh, jika anda tidak setuju dengan komunisme maka sebelumnya anda harus mengetahui teori-teori filsafat marxisme karena teori filsafat dalam komunisme itu ada di dalam filsafat marxisme. Dan demikian juga hal lainnya.

Filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life). Dalam posisi ini filsafat menjadi jalan kehidupan. Jika dalam agama Islam dikatakan bahwa Islam itu adalah al-shirath al-mustaqim, maka filsafat sebagai philosophy of life demikian juga halnya. Ia menjadi pedoman dan ajarannya diamalkan dalam kehidupan.

Filsafat sebagai metode pemecahan masalah. Bagaimana cara filsafat menyelesaikan (to solve) masalah? Sesuai dengan sifat filsafat, ia menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian masalah secara mendalam artinya ia menyelesaikan masalah dengan cara pertama-tama mencari penyebab yang paling awal munculnya masalah. Universal maksudnya melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar