04 Februari 2009

Konsepsi Manusia Dalam Tradisi Islam dan Barat

“Kita hendaklah mengetahui bahwa setiap sistem agama besar bermula dari anggapan tertentu tentang hakikat manusia dan alam semesta”

(Iqbal)


Pra Wacana

TULISAN ini akan mencoba menelaah persoalan manusia dalam dua tradisi besar yaitu antara Islam dan Barat dengan menggunakan kerangka berfikir falsafati.

Dua tradisi itu, diakuti atau tidak telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam khasanah keilmuan. Konsep manusia dalam tradisi Islam dapat kita lacak pada selain tradisi kehidupan rasul sendiri juga pada pikiran-pikiran brilian para konseptor-konseptor Islam seperti Muhammad Iqbal dengan konsep pribadi manusia unggul, Ali Shari’ati dengan humanisme religius, Ayatullah Morteza Mutahhari dengan kesadaran manusia yang serba demensional atau juga Sayyed Hussein Nasr dengan krisis manusia modernnya. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang lain seperti Ibn Sina, Al Jilly, Ar Raniry ataupun Ibnu Khaldun.

Dalam tradisi Barat kita juga mengenal Sigmund Freud, Karl Marx, Friedrich Nietzsche dengan predikat three masters of prejudices. Sumbangan tiga tokoh ini telah membuat satu analisa yang tajam tentang eksistensi manusia yang terkadang terjadi penjungkirbalikan nilai. Freudian mengganggap bahwa persoalan dorongan alam bawah sadar (underconsiosness) berupa libedo tidak bisa dilepaskan dalam diri manusia. Begitu juga dengan Marx yang berasumsi bahwa kesadaran manusia sangat dipengaruhi oleh status ekonomi dan politiknya. Ataupun dalam konsep Nietzcshe kita menemukan sebuah analisa bahwa pada dasarnya dalam diri manusia terdapat dorongan untuk menguasai orang lain (will to power).

Beberapa pandangan para pemikir itu, nantinya, diharapkan dapat menjawab persoalan paling mendasar dari eksistensi manusia, misalnya tentang; apakah esensi manusia itu bersifat material atau spritual? Siapakah sesungguhnya manusia itu dan bagaimana kedudukannya di dalam alam semesta raya ini? Apakah arti, nilai, atau makna hidup manusia itu? Apakah ada kebebasan dalam diri manusia? Sejauhmana tanggungjawab yang harus dipikulnya? Apa sebenarnya tujuan asasi dari hidup manusia? Bagaimana manusia harus bersikap di dalam dunia ini, sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain? Dan masih banyak lagi pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan manusia.

Konsep Manusia dalam tradisi Islam

Dalam tradisi Islam, konsep tentang manusia dapat ditelusuri akar-akarnya pada beberapa ayat yang menjelaskan eksistensi Adam yang tercipta dari tanah liat yang busuk dan juga pada proses tahapan-tahapan penciptaan mulai dari nuthfah, ‘alaqah, mudghah, idzam dan daging. (al mu’minun:11-14), yang kemudian proses akhirnya Tuhan meniupkan roh-Nya pada manusia. (al Hijr: 29)

Unsur-unsur, roh Tuhan dan tanah/lumpur pada diri manusia membuatnya mempunyai dua dimensi dalam dirinya, (1) dimensi ketuhanan dan (2) dimensi kerendahan atau kehinaan. Dalam pengertian simbolis, lumpur menunjuk pada keburukan, kehinaan, tidak berarti, stagnan, dan mati. Dimensi keilahian mengajak manusia cenderung untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Guna mencapai roh Tuhan dan atau Tuhan pribadi.

Bagi ali Shari’ati, karena melalui proses inilah manusia pada satu saat dapat meraih derajat yang sangat tinggi tapi pada sisi lain ia juga dapat meluncur pada derajat yang hina, bahkan paling rendah. Di sini kebebasan manusia untuk memilih terbuka selebar-lebarnya. Apakah ia menuju lebih dekat pada Tuhan atau Setan. Kemudian Ali Shari’ati memberikan pendefinisian pada filsafat manusia pertama, semua manusia tidak sama, tetapi bersaudara. Kedua, persamaan antara pria dan wanita berarti bahwa mereka berasal dari sumber yang sama yakni dari Tuhan, walaupun dalam beberapa aspek mereka memiliki perbedaan. Ketiga, manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan malaikat karena pengetahuannya. Keempat, manusia mempunyai fenomena dualistis; unsur lumpur dan roh Tuhan, yang membuatnya bebas untuk memilih.
Dalam merangkai konsep humanisme religiusnya, Ali Syari’ati, membangun sebuah keterpaduan dua unsur itu dalam bentuk tanggungjawab yang harus pikul oleh manusia sebagai khalifatullah (wakil Tuhan) di bumi. Karena manusia sebagai khalifatullah merupakan cita ideal. Manusia harus menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai kelompok masyarakat atau individu. Dalam menuju cita ideal itu ia harus mempunyai tiga aspek; kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Dengan kata lain, manusia harus memiliki; pengetahuan, etika, dan seni.

Jika angan-angan yang diidealkan oleh Shari’ati ini tercapai maka sosok manusia yang humanis religius tersebut harus juga diperkuat dengan sebuah pribadi yang kuat pula. Yaitu apa yang diistilahkan oleh Iqbal sebagai khudi. Sebuah kepribadian manusia yang dapat menjelma menjadi kekuatan yang mampu mengubah sejarah. Dan terkait dengan khalifatullah Iqbal membayang sesosok eksistensi yang ‘insal kamil’ —yang berbeda dengan konsep ubermensch seperti konsep Nietcsche— yang mengisi kehidupan dengan akhlak ilahiah, yaitu sifat-sifat ilahi yang ditumbuhkan pada diri manusia yang dapat menciptakan suatu peradaban manusia di muka bumi dengan sikap iman dan tindakan amal shaleh.

Untuk menuju kearah manusia insan kamil, seseorang —kata Iqbal— harus memiliki khudi (selfhood, ego, pribadi/individualitas), yaitu suatu kesatuan nyata, dan benar-benar mempunyai arti, yang merupakan pusat dan landasan keseluruhan organisasi kehidupan manusia. Seperti sajaknya :

Segalanya penuh luapan ‘ntuk menyatakan diri
Tiap dzarrah merupakan tunas keagungan
Hidup tanpa gejolak menuju kematian
Dengan menyempurnakan diri
Insan mengarahkan pandang kepada Tuhan
Kekuatan khudi mengubah biji sawi setinggi gunung
Kelemahannya mengubah gunung menjadi biji sawi
Engkaulah cuma realitas di alam semesta
Selain kau maya belaka

Makna khudi bagi Iqbal sangat jelas, ia merupakan elemen mendasar yang harus dimiliki oleh setiap insan. Khudi adalah power (kekuatan), keteguhan dan kepastian adalah kebajikan yang bekerja aktif ke arah pembaharuan, perubahan, dan penciptaan. Karena itu, prakarsa untuk mengembangkan khudi harus datang dari individu sendiri. Relevan dengan firman Tuhan (QS. 12:11) “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri mengubah nasib mereka sendiri”. Dalam kata-kata Iqbal mengenai ayat ini “kalau manusia tidak mengambil prakarsa, kalau manusia tidak bersedia mengembangkan kekayaan batinnya, kalau manusia berhenti merasakan gejolak batin hidup yang lebih tinggi, roh yang ada di dalam dirinya akan mengeras menjadi batu, dan dia merosot turun ke tingkat benda mati” . Ungkapan Iqbal ini mengisyaratkan bahwa manusia harus selalu bergerak dinamis, kreatif, aktif, terus menerus dan lalu bereaksi dengan penuh tujuan terhadap lingkungannya. Ide ini diambilnya dari konsep bahwa “al Qur’an” kata Iqbal dalam bukunya yang terkenal The Reconstruction of Religious Thought in Islam adalah “kitab yang lebih mengutamakan perbuatan daripada gagasan”.

Semangat yang besar terhadap terbentuknya manusia insan kamil ini adalah sebuah bangunan yang para pemikir sufipun menginginkannya. Termasuk Ibn Arabi, dan Al Jilli. Bagi Ibn Arabi, insan kamil adalah mikrokosmos yang sesungguhnya, sebab sebenarnyalah dia memanifestasikan semua sifat dan kesempurnaan ilahi, dan manifestasi semacam ini tidaklah sempurna tanpa perwujudan penuh kesatuan hakiki dengan Tuhan. Insan kamil adalah miniatur dari kenyataan. Sedangkan menurut Al Jilli, seperti dalam bukunya ‘Al-Insanul Kamil fi Ma’rifatil Awakhiri wal Awail mengatakan, manusia adalah suatu wujud yang utuh dan merupakan manifestasi ilahi dan alam semesta. Manusia adalah citra Tuhan dengan alam semesta. Manusia adalah tujuan utama yang ada di balik penciptaan alam, karena tiada ciptaan lain yang mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk menjadi cermin sifat-sifat ilahi yang sesungguhnya. Hanya saja Iqbal tak sepenuhnya sependapat dengan konsep para ahli Sufi yang menurutnya konsep itu melemahkan khudi dan membunuh individualitas. Konsep insan kamil yang Iqbal ingini adalah mirip konsep ubermensch (Superman) nya Nietzsche. Jika ubermensch Nietsche lahir dari ‘kematian tuhan’ (God is dead) maka insan kamilnya Iqbal adalah makhluk moralis, yang dianugerahi kemampuan rohani dan agamawi, yang untuk menumbuhkan kekuatan di dalam dirinya ia senantiasa meresapi dan menghayati akhlak ilahi. Proses menjadi insal kamil bukan terjadi begitu saja tapi melalui proses-proses; (1) ketaatan kepada hukum, (2) penguasaan diri sebagai bentuk tertinggi kesadaran diri tentang pribadi, dan (3) kekhalifahan Ilahi.

Proses-proses kelahiran insal kamil itu akan terus diharapkan terutama bagaimana menghadapi krisis manusia modern yang diprediksi oleh Sayyed Hussein Nars. Bahwa pengaruh modernitas telah sedemikian jauhnya menenggelamkan manusia sehingga manusia telah kehilangan spiritualitasnya. Barat yang lebih bercorak positivis-rasionalistik atas pengaruh pemikiran Descartes dengan jargonnya yang terkenal cogito ergo sumnya telah membuat dunia kehilangan dimensi-dimensi yang lain dan cenderung menafikan keberadaan manusia lebih utuh sebagai totalitas yang bereksistensi. Lebih jauh, pengaruh ini pula telah mengesampingkan spritualitas sebagai suatu kebutuhan pokok sehingga terjadilah apa yang oleh Nasr sebagai kehampaan spirtual. Solusinya, kata Nasr adalah mau tidak mau manusia modern harus menghidupkan kembali dimensi-dimensi keilahian dan merubah pandangan serta sikap hidup keagamaan dalam kehidupan mereka. Dalam kata-kata Nars: “Hajat untuk menangkap kembali pandangan tentang pusat (centre) bagi masyarakat Barat menjadi lebih mendesak. Hal ini tampak pada dunia khayal yang mereka ciptakan di sekeliling mereka sendiri, sehingga melupakan hilangnya nilai transendental dalam kehidupan mereka.

Seruan untuk menghidupkan kembali dimensi-dimensi ketuhanan di dalam hati dan prilaku mereka itu merupakan satu kenyataan yang harus disadari. Karena di satu sisi manusia modern telah terlalu jauh terlarut dengan lumpurnya tidak makin mendekat pada roh Tuhannya. Kebebasan memilih yang diberikan pada manusia telah mengindahkan kesadaran yang berbasis kehadiran Ilahi.

Konsep Manusia dalam tradisi Barat

Dalam tradisi Barat kajian tentang manusia sebenarnya sudah lama dilakukan. Dalam filsafat Yunani Klasik manusia dipelajari dalam suatu kerangka kosmosentris, dan dalam filsafat modern dan kontemporer dikaji dengan kerangka antroposentris. Jelas, pendekatan yang berbeda itu menghasilkan gambaran manusia yang variatif. Ada beberapa pemikiran tokoh yang akan dibicarakan di sini sebagai refresentasi dari pemikiran Barat secara umum. Meskipun hal ini mungkin terlalu menyederhanakan. Tapi yang jelas, tokoh-tokoh seperti Nietzsche, Frued dan Mark merupakan tokoh-tokoh besar dan mereka dikenal sebagai three masters of prejudices.

Bagi Nietzsche, manusia dilahirkan dengan dorongan untuk berkuasa (will to power). Di dalam bukunya, The Will to Power, Attempt at a Revaluation of All Values, Nietzsche dengan ambisius meneliti dan mengkritik tentang nilai, baik itu yang diajukan oleh agama, moral dan filsafat. Dan kritik itu kemudian melahirkan dengan apa yang ia istilahkan sebagai ‘nihilisme’. Nihilisme secara sederhana dapat diartikan sebagai runtuhnya nilai-nilai tertinggi dan kegagalan manusia menjawab persoalan “untuk apa”? Dengan runtuhnya nilai-nilai, orang dihadapkan pada persoalan bahwa segalanya menjadi tak bermakna dan tak ternilai. Disinilah Nietzsche menawarkan sebuah evaluasi terhadap nilai itu untuk akhirnya memperoleh “nilai baru”. Nilai baru yang dimaksud Nietzsche kurang lebih adalah membebaskan manusia dari nilai-nilai moral dan sejarah dan mempercepat proses nihilisme sebagai upaya transvaluasi nilai-nilai, yang membuat orang menjadi bebas dan sanggup berkata “ya” pada hidupnya.

Keberanian Nietzsche melakukan pengembaraan dengan meninggalkan pulau-pulau dogma dimulai dengan ‘membunuh Tuhan’, menghina metafisika, menertawakan ilmu pengetahuan dan logika, dan akhirnya mengakui satu ‘kebenaran’ bahwa tidak ada kebenaran. Nietzsche hanya percaya bahwa menjadi ubermensch dapat membawa seseorang pada pengenalan terhadap dunia ini. Karena ubermensch pada dasarnya adalah ajakan untuk mengafirmasikan hidup tanpa membiarkan sedikit sisa pun untuk ditolak. Afirmasi hidup ini secara konkret terwujud dalam pengakuan akan segala macam dorongan —baik yang menakutkan maupun yang mempesonakan— yang oleh orang-orang dekaden dipersonikasikan sebagai Tuhan.

Singkatnya, Nietzsche menginginkan bahwa tujuan hidup manusia itu sebenarnya adalah bagaimana ia menghilangkan ketergantungan pada yang lain dan mencoba membangun diri yang kuat untuk memperoleh kebahagiaan, mengatakan “ya” terhadap hidupnya sendiri.

Berbeda dengan Sigmund Frued yang beranggapan bahwa manusia pada dasarnya dikendalikan oleh naluri-nalurinya yang bertujuan untuk mencari kepuasan. Apabila naluri ini tidak dikendalikan, maka dampaknya akan bersifat anti-sosial dan menimbulkan barbarisme dan anarki. Tapi manusia tidak bisa sepenuhnya menindas keinginannya dan hasratnya terhadap kesenangan tersebut. Di sini manusia dihadapkan pada pilihan antara hasrat untuk memenuhi kesenangan (pleasure principle) dan kenyataan bahwa tanpa pengendalian, maka nafsu manusia itu akan bersifat destruktif (reality principle). Tapi bagi Frued, peradaban hanya akan berkembang apabila prinsip realitas dapat mengalahkan prinsip kesenangan. Dengan kata lain, orang-orang dalam masyarakat harus bisa menahan dan mengendalikan diri. Inilah fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia.

Berkaitan dengan dorongan naluriah tersebut Frued juga menjelaskan tentang struktur kepribadian yang terdiri dari Id, Ego dan Superego. Menurut Frued, perbedaan kepribadian seseorang dibentuk oleh cara bagaimana ia mengendalikan dorongan-dorongan dasariyahnya (eros dan thanatos). Dalam diri seseorang terjadi pergumulan terus menerus antara dua bagian personalitas, yaitu Id dan Superego, yang dikendalikan oleh aspek ketiga, yaitu “kedirian” atau Ego. Aspek Ego inilah yang memberi ciri kemanusiaan seseorang. Id, dalam pengertian Frued adalah naruri primitif, bagian bawah sadar dari sebuah kepribadian. Id bekerja secara tidak rasional, bersifat impulsif dan mendorong ekspresi dan gravitasi, tanpa mempedulikan apa akibatnya, tanpa pertimbangan apakah keinginan seseorang itu cukup realistis atau secara moral dapat dipertanggungjawabkan. Ego adalah bagian yang berperan sebagai arbitrator atau pengendali konflik antara Id dan Superego. Ego mewakili persepsi manusia terhadap kenyataan fisik dan sosial. Ia mengarahkan seseorang ke sesuatu yang lain beserta pertimbangan tentang apa yang mungkin bisa dilakukan di dunia ini, seperti yang dipersepsikan seseorang. Superego, adalah tempat penyimpanan nilai-nilai luhur yang dimiliki seseorang, termasuk moral atau sikap-sikap yang ditanamkan melalui proses sosialisasi dalam masyarakat. Aspek ini berperan sebgai hati nurani atau kesadaran yang tumbuh ketika seseorang mengalami proses internalisasi dari larangan dan suruhan orang tua atau orang yang dewasa. Superego juga merupakan Ego-ideal yang berkembang dari pandangan-pandangan orang lain dan membentuk gambaran mengenai manusia idaman yang ia harus berjuang untuk menjadi.

Dalam membentuk manusia yang ideal, maka diperlukan keseimbangan dalam mengolah kepribadian tersebut dengan menekankan kepribadian Superego melalui proses Ego, guna mengendalikakan pleasure principle yang mengarah pada reality principle.

Yang terakhir adalah Karl Marx. Bagi Marx yang menekankan eksistensi manusia pada persoalan status ekonomi dan politik, bahwa sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kelas dan negara hanya merupakan alat yang digunakan kelas yang berkuasa untuk menindas seluruh oposisi. Manusia dilihatnya tak lebih hanya sekedar esensi material dengan menghilangkan aspek immaterialnya. Memang Marx bukan agamawan tapi mengkritik habis-habisan doktrin agama yang menurutnya dianggap ovium bagi manusia. Dengan materialisme dialektisnya Marx mencoba memetakan masyarakat pada kelas-kelas yang dalam realitasnya berlangsung melalui proses pertentangan dialektis, dengan menggunakan pola tesis-antitesis-sintesis, yang melahirkan kualitas-kualitas baru. Pertentangan ini membawa pada wilayah konflik antara kelas, karena distribusi ekonomi dan politik yang tidak seimbang.

Konsep Manusia: mencari sintesa dan kritik.

Dalam pembacaan dua tradisi besar antara Islam dan Barat seperti yang dipaparkan di atas. Bahwa manusia bagaimanapun, tidak bisa tidak, harus dipahami dalam konteksnya baik sebagai pribadi ataupun dalam komunitasnya. Seperti dua wilayah yang diberikan oleh agama, (1) sebagai khalifa fi al ardy, dan (2) diri yang menyembah Tuhannya.(illa li ya’ budun).

Dua konsep ini, mempuyai konsekuensi-konsekuensi logis, dan saling terkait. Seperti dijelaskan dalam dua tradisi besar di atas, terlepas dari kelemahan dan keunggulan pada masing-masing kubu. Bahwa dalam membangun konsep tentang manusia dibutuhkan seperangkat intrumen yang harus dipenuhi, (1) integritas diri dengan kepribadian khudi/ubermensch,Superego yang dapat membawa kesadaran akan perilaku iman dan beramal saleh. (2) Adanya kehendak untuk selalu membuat perubahan hidup, karena hidup itu sebenarnya adalah kehendak ingin berkuasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar