02 September 2009

Titik Temu Pemikiran Islam dan Hellenisme

(Pokok Bahasan III)

Melacak Jejak-Tapak Sejarah Pertemuan Kebudayaan Yunani Vs Islam

Secara Umum:

Falsafah tumbuh sebagai hasil interaksi intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan bangsa-bangsa sekitarnya. Khususnya interaksi mereka dengan bangsa-bangsa yang ada di sebelah utara Jazirah Arabia, yaitu bangsa-bangsa Syria, Mesir, dan Persia.
Interaksi itu berlangsung setelah adanya pembebasan-pembebasan (al-futuhat) atas daerah-daerah tersebut segera setelah wafat Nabi s.a.w., di bawah para khalifah.

Daerah-daerah yang segera dibebaskan oleh orang-orang Muslim itu adalah daerah-daerah yang telah lama mengalami Hellenisasi. Lebih dari itu, kecuali Persia, daerah-daerah yang kemudian menjadi pusat-pusat peradaban Islam itu adalah daerah-daerah yang telah terlebih dahulu mengalami Kristenisasi.

Bahkan sebenarnya daerah-daerah Islam sampai sekarang ini, sejak dari Irak di timur sampai ke Spanyol di barat, adalah praktis bekas daerah agama Kristen, termasuk heartlandnya, yaitu Palestina.

Daerah-daerah itu, dibawah kekuasaan pemerintahan orang-orang Muslim, selanjutnya memang mengalami proses Islamisasi. Tetapi proses itu berjalan dalam jangka waktu yang panjang, selama berabad-abad, dan secara damai.

Satu indikasi yang menarik dari pembebasan-pembebasan (futuhat) yang dilakukan oleh orang-orang Arab-Islam terhadap bangsa-bangsa non-Muslim itu adalah sikap-sikap penuh penghargaan dan pengertian kepada bangsa-bangsa dan budaya-budaya (termasuk agama-agama) yang mereka kuasai. Hasilnya ialah, seperti dikatakan Halkin sebagai berikut :
“...It is to the credit of the Arabs that although they were the victors militarily and politically, they did not regard the civilization of the vanquished lands with contempt. The riches of Syrian, Persian, and Hindu cultures were no sooner discovered than they were adapted into Arabic. Caliphs, governors, and others patronized scholars who did the work of translation, so that a vast body of non-Islamic learning became accessible in Arabic. During the ninth and tenth centuries, a steady flow of works on Greek medicine, physics, astronomy, mathematics, and philosophy, Persian belles-lettres, and Hindu mathematics and astronomy poured into Arabic.”
Interaksi intelektual orang-orang Muslim dengan dunia pemikiran Hellenik terutama terjadi antara lain di Iskandaria (Mesir), Damaskus, Antioch dan Ephesus (Syria), Harran (Mesopotamia) dan Jundisapur (Persia).

Di tempat-tempat itulah lahir dorongan pertama untuk kegiatan penelitian dan penterjemahan karya-karya kefilsafatan dan ilmu pengetahuan Yunani kuna, yang kelak kemudian didukung dan disponsori oleh para penguasa Muslim.

Gelombang Hellenisme

Gelombang Pertama (tahun 130 H/750 M - tahun 340 H/950 M)

Pada gelombang pertama ini, ada dua tokoh filosof Islam yang lahir, yaitu; Al-Kindi (801 M -873 M) dan Al-Farabi (870 M – 950 M).

Pada tahap awal pertemuan ini, unsur-unsur Neoplatonisme yang menyusup ke dalam alam pikiran Islam, baik yang sejalan ataupun tidak dengan Alquran berkisar pada:

1. Penegasan akan transendensi Asal Pertama (الاصل الاول) atau Tuhan;
2. Emanasi segala yang ada daripadaNya;
3. Peranan Akal sebagai perantara penciptaan oleh-Nya dan merupakan letak bentuk benda-benda serta sebagai sumber penerangan jiwa manusia;
4. Kedudukan Jiwa pada perbatasan dunia intelek dan sebagai sambungan atau cakrawala antara dunia intelek dan dunia indera; dan
5. Sikap merendahkan materi sebagai ciptaan atau emanasi paling hina dari Yang Maha Esa dan tingkat paling bawah dalam susunan kosmis. (Majid Fakhry:Sejarah Filsafat Islam)

Gelombang Kedua (tahun 340 H/950 M - tahun 660 H/1260 M)

Jika gelombang pertama Hellenisme terjadi pada saat-saat kemunduran rezim Umayyah di Damaskus dan permulaan kebangkitan kaum ‘Abbasiyyah, maka gelombang kedua ini berlangsung ketika kekuasaan Baghdad itu mulai merosot dan situasi politik intern Dunia Islam menjadi tidak menentu.

Pada tahap ini muncullah tokoh-tokoh falsafah seperti; Ibn Sina (980 M – 1037 M) hingga Quthb al-Din al-Syirazi (1236 M – 1311 M)

Aliran-Aliran Filsafat Islam

Terdapat, sedikitnya, lima aliran dalam filsafat Islam:
1. Teologi Dialektik (‘ilm al-Kalam)
2. Peripatetisme (Masysya’iyyah)
3. Iluminisme (Isyraqiyyah)
4. Sufisme/Teosofi (Tashawwuf atau ‘Irfan), khususnya yang dikembangkan Ibn ‘Arabi
5. Filsafat Hikmah (al-Hikmah al-Muta’aliyah)

Penjelasan:
Metode epistemologi yang digunakan oleh Teologi Dialektik hampir sama dengan metode Peripatetisme, yaitu bersifat deduktif-silogistik. Yakni, prosedur untuk mendapatkan kesimpulan (silogisme) dari mempersandingkan dua premis. Dalam silogisme Aristotelian, dua premis itu masing-masingnya adalah premis mayor dan premis minor.

Perbedaan silogistik antara peripatetisme dan Teologi Dialektik adalah sebagai berikut:

Penjelasan:
Sementara metode epistemologi yang digunakan oleh iluminisme dan sufisme atau Teosofi (‘irfan) adalah metode intuitif atau eksperiensial. Intuisi ini, dalam khazanah Islam, diidentikkan dengan hati (qalb atau fu’ad) atau bahkan dengan ruh, dan sebagainya.

Prinsip dasar iluminisme, seperti juga Sufisme, adalah bahwa : “mengetahui sesuatu adalah untuk memperoleh suatu pengalaman tentangnya, yang berarti intuisi langsung atas hakikat sesuatu.”

Perbedaan Iluminisme dengan Sufisme –dalam hal ini ‘irfan (teosofi)– antara lain bahwa, meskipun sama-sama mengandalkan pada pengalaman langsung, iluminisme percaya pada kemungkinan pengungkapan pengalaman tersebut melalui bahasa-bahasa diskursif-logis.

Dalam ranah ontologi.
Peripatetisme Islam tak secara khusus memberikan perhatian pada aspek ontologi. Di luar aspek epistemologi, aliran peripatetisme banyak membahas tentang kosmologi.
Sementara aliran ‘irfan, iluminisme, dan filsafat hikmah memberikann perhatian yang cukup jelas pada wilayah ontologi.
1. ‘irfan :
Menekankan pada prinsip kesatuan wujud segala sesuatu dan tingkatan-tingkatan (hierarkhi) nya.
2. Iluminisme
Menekankan pada filsafat cahaya (nur), yakni pengidentikkan wujud dengan cahaya, dan non-wujud/nirwujud dengan kegelapan. Di antara keduanya terdapat lapisan-lapisan wujud antara cahaya dan kegelapan.
3. Filsafat Hikmah
Menekankan prinsipialitas (fundamentalitas) eksistensi terhadap esensi. Yakni bahwa yang real –yang memiliki korespondensi dengan realitas– adalah eksistensi. Sedangkan esensi –penampakan atau atribut-atribut lahiriyah dan mental– sebenarnya tidak real dan hanya merupakan bentukan (keterbatasan) persepsi manusia (I’tibari).
Mengembangkankan juga prinsip ambiguitas (tasykik) wujud. Yakni bahwa wujud bersifat tidak tetap, melainkan berpindah-pindah dalam hierarki wujud sejalan dengan gerak substansial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar