02 September 2009

Pokok Bahasan II

PEMIKIRAN FILSAFAT HELLENISME

Istilah Hellenisme adalah istilah modern yang diambil dari bahasa Yunani kuno hellenizein yang berarti berbicara atau berkelakuan seperti orang Yunani (to speak or make Greek). Dalam pengertian yang lebih luas, Helenisme adalah istilah yang menunjuk kebudayaan yang merupakan gabungan antara budaya Yunani dan budaya Asia Kecil, Syiria, Mesopotamia, dan Mesir yang lebih tua. Gabungan itu terjadi selama tiga abad setelah meninggalnya Alexander Agung pada tahun 323 SM.

Setelah Aristoteles, pemikiran filsafat Yunani tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti. Bahasan-bahasan yang diwacanakan hanyalah pengulangan-pengulangan (reproductived discourse) dari para filsuf sebelumnya. Tidak ada filsuf yang berhasil menggali dan membuahkan pemikiran yang cemerlang, sampai akhirnya muncul seorang Plotinus sebagai filsuf yang genial.

Pada jaman ini, terjadi pergeseran pemikiran filsafat, yaitu dari yang bersifat teoritis ke wilayah praktis. Ada banyak aliran yang muncul, yang masing-masing berusaha menentukan cita-cita hidup manusia dengan warnanya sendiri-sendiri. Termasuk aliran-aliran yang memiliki kaitannya penting dengan pemikiran filsafat Islam adalah Neo-Platonisme dan Neopytagoras. Mengenai kedua aliran ini akan dijelaskan kemudian secara rinci.

Secara umum, sejarah filsafat Barat dimulai di Yunani. Sifat-sifat filsafat Yunani sangatlah mempengaruhi seluruh alam pikiran Barat; melepaskan diri dari mitos-mitos dan mencari pertanggungjawaban yang rasional dari kenyataan; mencari apa yang tetap dan kekal dalam kenyataan-kenyataan yang berubah-ubah, realistis, terang, tajam dalam perumusan-perumusan, teratur, rapi.

Ringkasnya, tahapan-tahapan sejarah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

A. KELAHIRAN: (Pra-Sokrates: Filsafat alam, mencari penjelasan dari alam, khususnya terjadinya segala-galanya dari Prinsip Pertama (arche).

1.Mazhab Miletos: Thales (625-545), Anaximandros (610-540), Anaximenes (585-528)
2.Pythagoras (580-500)
3.Herakleitos (540-480)
4.Mazhab Elea: Parmenides (530-540), Zeno (490)
5.Yonisi: Empedokles (483), Anaxagoras (499-428), Demokritos (460-370)

B. PERKEMBANGAN: Memusatkan penyelidikan pada manusia. Filsafat alam tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, maka timbullah sikap kaum sofis ("pedagang pengetahuan").

1.Kaum Sofis: Pythagoras (481-411), Gorgias (483-375).
2.Sokrates (470-400)

C. JAMAN KEEMASAN: Mencari sintesis antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia.

1.Plato (429-347), meneruskan dan menyempurnakan ajaran Sokrates. Inti ajarannya: ajaran ide-ide, tentang pengetahuan, prinsip pertama, kesusilaan, jiwa, alam, dan negara.
2.Aristoteles (384-322), murid Plato, filsuf pertama yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar dari filsafat, yang dipersatukannya dalam satu system, meliputi: logika, filsafat alam, ilmu jiwa, metafisika (sebab Pertama), etika, ilmu politik. Hasil-hasil pemikirannya sekarang masih berlaku (Hylemorfisme).

C. JAMAN KERUNTUHAN - Sistem-sitem Etika

1.Stoa (300 SM – 200 SM) hendak memberikan ajaran-ajaran hidup praktis, agak materialistis; memperkenalkan logika lebih lanjut. Yang terkenal: Zeno (336-264), Seneca, Empitektus (50-117).
2.Epikurus (341-271), materialistis dan "aku-istis": kebahagiaan adalah kepuasaan diri, "permulaan dan akar kebaikan ialah kenikmatan perut".
3.Skeptisis: Kesangsian, tak mungkin orang mencapai kepastian. Pyrrho (360-270), Sextus Empiricus (150).

D. PERKEMBANGAN BARU : Neo-Platonis, bersikap religious, kebatinan.

1. Plotinos (205-270)
2. Porphyrius (232-315), muridnya. Buku yang terkenal: Enneaden (9 buku), ajaran emanasi.

Itulah deskripsi singkat mengenai tahapan-tahapan awal sejarah filsafat barat. Keberadaan filsafat barat tersebut, dalam beberapa hal, mempengaruhi pemikiran-pemikiran Islam. Terutama dua aliran yang akan dijelaskan berikut ini:

1. Neo-Platonisme

Aliran ini muncul kira-kira lima abad setelah Aristoteles. Pemikiran filsafatnya disusun secara sistematis. Kebangkitan pemikiran filsafat kuno ini bersamaan waktunya dengan kelahiran agama Kristen, sehingga terjadi pergumulan yang dahsyat antara keduanya. Tokoh yang sering dihubung-hubungkan dengan aliran ini adalah Ammonius Sakkas dan Platinos. Ammonius Sakkas tidak meninggalkan tulisan apapun, sehingga pemikiran filsafatnya hampir tidak dapat diketahui. Kita dapat mengetahui tentang pemikiran filsafatnya melalui Plotinus (204-270) yang hasil karyanya dibukukan oleh muridnya, Porphyrios.

Secara ringkas Plotinus adalah filsuf pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta yang dikenal dengan teori emanasi. Teori ini banyak diikuti oleh para filsuf Islam. Teori emanasi ini sebenarnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan Thales, ± 8 abad sebelumnya, yang menanyakan apa bahan alam semesta ini. Plotinus menjawab: bahannya adalah Tuhan. Filsafat Plotinus kebanyakan bernapas mistik, bahkan tujuan filsafat menurutnya adalah mencapai pemahaman mistik. Yang paling menarik dari seluruh gagasan pemikiran filsafat Plotinus adalah tentang Metafisika.

Dalam berbagai hal, Plotinus banyak bersandar pada doktrin-doktrin Plato. Artinya ia menganut realitas idea. Sistem metafisika Plotinus ditandai oleh konsep transendens. Menurutnya, di dalam pikiran terdapat tiga realitas, yaitu; The One, The Mind, dan The Soul. Realitas yang pertama, The One, yang bisa kita artikan sebagai Tuhan adalah suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami melalui metode sains dan logika. Ia berada di luar eksistensi, di luar nilai. The One itu adalah puncak semua yang ada; Ia itu maha mutlak, cahaya di atas cahaya. Kita tidak mungkin mengetahui esensinya; kita hanya mengetahui bahwa Ia itu pokok atau prinsip yang berada di belakang akal dan jiwa. Ia adalah pencipta semua yang ada. The One itu tidak dapat didekati melalui penerimaan panca indra dan juga tidak dapat dipahami lewat pemikiran logis. Kita hanya dapat menghayati adanya; artinya kita tidak dapat memikirkannya seperti ketika kita memikirkan sesuatu yang ada definisinya. Ia transenden terhadap segala makhluk. Ia hanya dapat didekati lewat tanda-tanda dalam alam.

Realitas kedua, The Mind, atau dalam istilah latinnya Nous merupakan gambaran tentang Yang Esa (The One) yang di dalamnya mengandung ide-ide Plato. Idea-idea itu merupakan bentuk asali objek-objek. Kandungan Nous adalah benar-benar suatu kesatuan. Untuk menghayatinya dibutuhkan suatu permenungan/penghayatan.

Realitas ketiga, The Soul, merupakan arsitek semua fenomena yang ada di alam ini, The Soul mengandung satu jiwa dunia dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, iada adalah energi di belakang dunia, dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta.

Tentang penciptaan, Plotinus berpendapat bahwa alam semesta ini diciptakan melalui proses emanasi (al-fâid). The One (Yang Esa) adalah yang paling awal dan merupakan Sebab Pertama. Emanasi itu berlangsung tidak di dalam waktu. Emanasi itu laksana cahaya yang membias (emanation) dari matahari. Dengan beremanasi itu The One tidak mengalami perubahan. Mengenai Emanasi ini, Muhammad Hatta melukiskan demikian:

Yang Esa (The One) itu adalah sumber semuanya, tetapi tidak mengandung di dalamnya satu pun dari barang yang banyak (makhluk). Dasar yang banyak tidak mungkin yang banyak itu sendiri, dasar yang banyak adalah Yang Esa. Di dalam Yang Esa itu yang banyak belum ada, sebab di dalam-Nya yang banyak itu tidak ada, tetapi yang banyak itu datang dari Dia. Karena Yang Esa itu sempurna, tidak memerlukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa, maka beremanasilah dari Dia yang banyak itu. Di dalam filsafat klasik Yang Asal itu dikatakan sebagai Yang Bekerja atau sebagai Penggerak Pertama. Di situ selalu dikemukakan dua hal yang berlawanan, seperti yang bekerja dan yang dikerjakan, idea dan benda, pencipta dan ciptaan. Penggerak Pertama itu berada di luar alam nyata, sifatnya transendens.

Itulah konsep emanasi yang berasal dari filsafat timur. Sementara yang berkaitan dengan konsep emanasinya Plotinus, Hatta menjelaskan lebih lanjut:

... Tidak ada (dua hal) yang bertentangan. Padanya alam ini terjadi dari Yang Melimpah, yang itu tetap menjadi bagian dari Yang Melimpah itu. Bukan Tuhan berada di dalam alam, melainkan alam berada di dalam Tuhan. Hubungannya sama dengan hubungan benda dengan bayangannya. Makin jauh yang mengalir itu dari Yang Asal, makin tidak sempurna ia. Alam ini bayangan Yang Asal, tetapi tidak sempurna, tidak lengkap, tidak cukup, tidak sama dengan Yang Asal. Kesempurnaan bayangan itu bertingkat menurut jaraknya dari Yang Asal. Sama dengan cahaya, semakin jauh dari sumber cahaya, semakin kurang terangnya.

Penggambaran Emanasi di atas, menegaskan bahwa kemutlakan Sang Maha Tunggal(The One;Yang Esa) tak terbanding dengan lainnya. Ia transenden. Dan yang perlu diingat lagi adalah bahwa dalam Emanasi itu proses-proses di dalamnya terjadi tidak dalam ruang-waktu . Ruang dan waktu terletak pada tingkat yang paling bawah dalam proses emanasi. Ruang dan waktu adalah suatu pengertian tentang dunia benda. Untuk menjadikan alam, The Soul mula-mula menghamparkan sebagian dari kekekalan-Nya, lalu membungkusnya dengan waktu. Selanjutnya energi-Nya bekerja terus, menyempurnakan alam semesta itu. Waktu berisi kehidupan yang bermacam-macam waktu bergerak terus hingga menghasilkan waktu lalu, sekarang, dan akan datang. Waktu, dalam pemikiran filsafat Plotinus, tidak terpisah dari jiwa, ia merupakan suatu yang inheren dalam jiwa. Bila mencapai kesatuannya yang asli, artinya bila ia terpisah dari jiwa, waktu akan hilang, misalnya bila ia menyatu dengan alam semesta.

2. Neo-Pythagoras.

Walaupun bernama Neo-Pythagoras, aliran ini bukanlah kelanjutan yang murni dari filsafat Pythagoras. Sebenarnya, ajaran aliran ini bersumber dari ajaran Plato yang dicampur dengan ajaran dari Aristoteles dan Kaum Stoa. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Appolonius dar Tyana yang hidup pada abad pertama sebelum masehi. Isi ajarannya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Yang Ilahi atau Yang Ada merupakan suatu realitas sempurna yang tidak bergerak dan tidak berjasad, sedangkan benda mengandung di dalam dirinya gerak yang tidak beraturan, yang merupakan kemungkinan murni pengandaian eksistensi segala yang ada. Yang Ilahi ini merupakan sumber idea yang merupakan gagasan-gagasan Yang Ilahi, yang menjadi pola dasar dari segala kenyataan. Segala yang ada terbentuk sesuai dengan gagasan Ilahi. Idea-idea juga merupakan bilangan. Penciptaan dunia dengan segala keanekaragamannya tidak dilakukan oleh Yang Ilahi, melainkan hasil karya dari "jiwa dunia".

Sementara manusia memiliki dua macam daya, yaitu daya untuk mengenal dunia rohani yang merupakan daya intuitif, yang timbul karena kerja sama dengan akal, dan daya pengamatan. Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh yang saling terpisah satu dari yang lain. Jiwa terbelenggu dalam tubuh, sehingga hanya kematianlah yang dapat membebaskan diri dari pengaruh tubuhnya dengan berpantang tidak makan daging dan tidak melakukan persetubuhan misalnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar