04 Februari 2009

Bunuhlah Tuhan, Dan Kitapun Akan Bebas Berkuasa: [prespektivisme; sebentuk filsafat moral nietzsche]

A. Pendahuluan

Nietzsche, yang telah membunuh Tuhan dengan pemikiran dan pernyataannya bahwa Gott ist tot, Tuhan sudah mati, telah mati. Akan tetapi selama seratus tahun kemudian, sampai tahun 2000 ini, namanya terus hidup, pemikirannya tak mungkin dilalaikan. Dalam arti tertentu, Nietzsche adalah satu penentu nasib filsafat di Eropa. Dia menyuarakan ilusi mengenai kebenaran dan ketetapan makna, keyakinannya terhadap kehendak untuk berkuasa (the will to power) dan dukungannya terhadap jalan hidup dionysian serta permusuhannya terhadap egalitarianisme.

Keseluruhan pemikiran Nietzsche hampir tidak dapat diketemukan dalam model tulisan yang sistematis. Dia selalu mengungkapkan pemikiran dan gagasannya dalam bentuk aforisme atau pernyataan-pernyataan. Dapat dibeberkan bahwa satu aforisme terdiri atas beberapa kalimat saja atau hanya satu paragraf. Bahkan ada satu kalimat cukup menyatakan satu model aforisme yang diambil. Satu aforisme itu merupakan gagasan utuh, yang tak tergantung pada aforisme yang lain, baik sebelum dan sesudahnya .
Pemikiran dasar Nietzsche secara jelas, lengkap dan ringkas dapat dilihat pada telaah Sunardi dan juga sinopsis Lechte terhadap filosof tersebut. Dapat disingkatkan bahwa tema dasar filsafat Nietzsche adalah pertama, keinginan untuk membebaskan orang dari beban moral dengan melakukan penggantian nilai moral dengan moral seni. Dia berusaha menyerang arus sentral yang berkembang pada filsafat Barat waktu itu, yaitu berupa pandangan Kant tentang moral dan idealisme Fichte. Selain itu dia juga menyerang moralitas yang berdasarkan pada nilai-nilai dan sangsi-sangsi ilahi yang terutama berakar pada iman seperti dianjurkan oleh agama wahyu. Untuk meruntuhkan pandangan moral demikian dia mencari ide dalam semangat seperti terdapat pada pandangannya mengenai tragedi-tragedi Yunani, yakni semangat apollinian dan dionysian.

Semangat apollinian mencerminkan dimensi kejeniusan orang Yunani yang bercirikan kekuatan akan nilai keharmonisan, keindahan, prinsip individuasi, daya untuk memberi bentuk dan simbol cahaya, ukuran dan hambatan. Semangat ini menghasilkan seni yang berupa mitologi, cerita-cerita plastis dan patung. Sedang semangat dionysian menyimbulkan suatu kegilaan atau arus hidup yang mengancam untuk merusak semua bentuk pembatasan. Bagi Nietzsche perpaduan harmonis antara kedua semangat tersebut menjadi tolak ukur kebudayaan yang tinggi.

Seni dalam keyakinan Nietzsche merupakan jawaban untuk membebaskan orang dari kungkungan moral. Dia mengkritik pendekatan moral yang didasarkan pada keyakinan akan adanya hukum moral universal dan nilai-nilai moral absolut. Dengan alternatif demikian dapat disimpulkan bahwa Nietzsche sebenarnya melihat hidup sebagai pergulatan orang untuk memadukan dua semangat tersebut. Dari sini nampak ternyata pergulatan hidup dalam konsep Nietzsche berada pada lingkungan estetik dan bukan normatif.

Kedua, keinginan untuk membebaskan orang dari beban sejarah dengan memperlihatkan pemahaman lain mengenai kegunaan dan kerugian sejarah bagi hidup. Kegunaan sejarah, yakni dengan mempelajarinya orang dapat terdorong untuk mengafirmasi hidup. Sedang kerugian sejarah dapat berupa penolakan orang terhadap hidup karena kengerian-kengerian sejarah sebagai tantangan yang menekan orang lemah. Pada sisi yang lain Nietzsche juga memperlihatkan bahwa pengetahuan sejarah telah dapat dijadikan idolisasi atau pemberhalaan dan dijadikan substitusi kebudayaan yang dihayati.
Dari sini dapat dirunut apa sebenarnya yang hendak dikemukakan oleh Nietzsche mengenai persoalan nilai. Menurut Nietzsche nilai moral tidak bersifat supra-historis. Sedang nilai seni dekat pada kesupra-historisan dengan tidak tergantung pada perubahan sejarah tetapi melalui sejarah. Dan agar orang tidak melulu dibebani nilai-nilai moral dan sejarah, maka Nietzsche berambisi mempercepat proses nihilisme untuk mematahkan pemutlakan nilai-nilai moral yang berkembang dalam sejarah. Dengan jalan ini dia sebenarnya mengajarkan sebuah trans-valuasi nilai-nilai, yang menjadikan orang mandiri dan merdeka dalam bersikap terhadap hidupnya.

B. Sepotong Perjalanan Hidup Nietzsche

Friedrich Nietzsche, dilahirkan di Rocken, Prussia pada tahun 1844. Ayahnya Ludwid Nietzsche adalah seorang pendeta gereja Lutheran, ibunya juga seorang Lutheran yang taat dan saleh. Nietzsche dilahirkan pada hari yang sama dengan kelahiran Friedrich Wilhelm IV. Raja Prussia saat itu. Ayahnya kemudian memberikan nama depan Raja dengan menambahkan nama keluarga. Friedrich Wilhelm Nietzsche. Kelak sang raja mengalami gila, sementara Nietzsche pada tahun 1889 menderita sakit jiwa (ingatan).

Masa kecil Nietzsche dijuluki sebagai ‘Yesus Kecil’ karena ia anak yang soleh, taat. Ia mempelajari teologi di Universitas Bonn dan Filologi di Universitas Leipzig, dari sinilah kemudia ia berproses menjadi seorang atheis. Belum genap 25 tahun ia sudah diserahi jabatan profesor dalam kajian filologi klasik di Universitas Basel, Switzerland. Jabatan itu hanya dipangkunya selama sepuluh tahun dikarenakan penyakit menggrogoti tubuhnya. Karier akademiknya dimulai ketika ia pindah dari Pforta dan menjadi profesor di Universitas Basel tanpa melalui tes sebagaimana umumnya pada tahun 1869. Akan tetepi kesuksesan awal dalam karir akademis itu tidak berkelanjutan, perjalanan Nietzsche tak mengarah pada cita-cita sebagai filolog dan ilmuwan terkemuka sebagaimana diharapkan para koleganya di Universitas. Ia merasa lebih bahagia dan mantap dengan kehidupan yang bebas dan ekpresif, mengikuti naluri kehidupan yang penuh gairah ketimbang memasuki bidang ilmu tertentu yang lurus dan teratur. Di samping itu, ia juga tidak cukup beruntung dengan kondisi kesehatannya yang memaksa ia harus berungkali cuti dari tugasnya, pada akhirnya penyakitnya memaksa ia untuk benar-benar berhenti sebagai profesor di Basel setelah ia jalani selama seputuh tahun pada 1879 dan mulailah ia menjadi freethinker.

Pada akhir hayatnya, Nietzsche banyak menderita, sahabat-sahabat dan koleganya satu persatu meninggalkannya dan bahkan memusuhinya akibat pemikiran-pemikirannya yang liar. Didera penyakit mental selama beberapa tahun dan pengasingan membuat ia menderita dan kesepian. Padahal ketika muda Nietzsche banyak berteman dan disukai orang karena bakat dan kecerdasannya. Karenanya, banyak orang menganggap bahwa karangan-karangan Nietzsche itu tak lebih dari ungkapan-ungkapan penderitaannya menghadapi rasa sakit. Pada tahun 1888 ia menderita sakit ingatan, kehilangan kontak dengan dunia luar, lumpuh secara mental dan fisik sampai akhirnya meninggal pada 25 Agustus 1900. Saat-saat terakhir hidup Nietzsche sungguh tragis. Selama dua tahun terakhir masa hidupnya ia sudah tidak dapat mengetahui apa-apa dan tidak dapat lagi berpikir. Bahkan ia tidak tahu kalau ibunya sudah meninggal dan juga tidak tahu bahwa dia mulai menjadi termasyhur.

Meskipun Nietzsche hidup berpacu dengan penyakitnya, ia termasuk orang yang produktif menulis. Diantara karya-karyanya adalah The Birth of Tragedy and The Geneology of Morals (1872), Untimely Meditations (1873-1876), dua bagian pertama dari Human, All too Human (1878-1879), Thus Spake Zarathustra (Also Sprach Zarathustra) yang ditulis sepanjang 1883-1885, Beyond Good and Evil (1886), Ece Homo (1885), dan Twilinght of Idols (1889).

C. Manusia: The Will to Power

Bila Schopenhaur beranggapa hidup adalah the-will-to-life, maka Nietzsche memandangnya sebagai the-will-to-power. Kehendak-untuk-berkuasa yang ditabuhkan oleh Nietzsche bukan sekedar refleksi atau kontemplasi hidupnya saja tapi benar-benar menjadi sebuah sistem pemikiran yang luar biasa. Dalam bukunya Beyond Good and Evil, Nietzsche menyebutkan bahwa hakekat dunia adalah kehendak-untuk-berkuasa. Dan dalam The Geneology of Morals dikatakan bahwa hakekat hidup adalah kehendak-untuk-berkuasa. Lagi, dalam The Will to Power ia menyebutkan bahwa hakekat terdakalam dari ada (being) adalah kehendak-untuk-berkuasa. Singkatnya, kehendak-untuk-berkuasa adalah hakekat dari dunia, hidup, dan ada. Kehendak-untuk-berkuasa adalah hakekat dari segala-galanya.

Kalau kehendak-untuk-berkuasa merupakan hakekat dari segala-galanya, hal ini jangan dipahami seperti dipahami kaum metafisik. Kehendak-untuk-berkuasa bukanlah merupakan substansi atau subtratum yang mendasari segala-galanya. Bagi Nietzsche kehendak-untuk-berkuasa merupakan khaos yang tak mempunyai landasan apapun. Dan Khaos ini berada di bawah segala dasar seperti dibayangkan kaum metafisi. Dan dasar dari segala sesuatu merupakan dinamisme yang masih berada dalam status khaos. Dunia, hidup dan ada seolah terapung di atas gelora samudera, dan bukannya tertancap pada suatu benua atau pulau. Karena itu, Gagasan Nietzsche ini harus dilihat dalam seluruh pemikirannya yang diliputi suasana nihilistik atau suasana kematian setiap bentuk model tuhan. Dengan demikian kehendak-untuk-berkuasa dan nihilisme merupakan dua sisi dari satu mata uang.

D. Tipologi Moral: Antara Moralitas Tuan dan Moralitas Budak

Dari pandangannya tentang The Will to Power, Nietzsche akhirnya memilah dua moralitas, yaitu moralitas tuan dan moralitas budak. Moralitas tuan ini banyak terinspirasi dari diskripsi manusia yang dilukiskan oleh Aristoteles sebagai seorang yang mempunyai jiwa, spirit yang unggul. Dalam moralitas tuan, baik adalah sama dengan luhur, yang bisa meningkatkan kehendak untuk berkuasa, sementara buruk sama dengan hina, yaitu semua yang keluar dari sikap lemah, perintah, cintailah sesamamu dan diri sendiri, harus diubah dengan berperanglah melawan sesamamu dan diri sendiri. Sebab hanya dengan ini ia akan semakin merasa kuat, otonom, dan bebas serta merasa semakin berbeda dengan kelompok dekaden (moralitas budak). Moralitas tuan membenarkan kekuasaan dan kekuatan, cirinya adalah orang membenarkan dirinya sendiri, dan ini merupakan ungkapan dari kehendak-untuk-berkuasa.

Sementara moralitas budak adalah moralitas orang kecil, dekaden, dan gerombolan. Moralitas orang yang tidak mampu untuk bangkit dan menentukan hidupnya sendiri. Kebencian Nietzsche terutama ditujukan untuk agama Kristen. Karena agama Kristen mengajarkan cinta kasih, kesediaan untuk menerima, tidak membalas dendam, memaafkan, mencintai musuh dan bersedia mengorbankan diri. Pujian Kristen terhadap si miskin, mau berdamai, baik hati, dan lemah lembut merupakan bentuk pemujaan terhadap yang kalah dan lemah. Oleh karena itu, bagi Nietzsche, moralitas Kristiani merupakan moralitas khas budak. Sebenarnya para budak tidak suka ditindas, tapi mereka juga tidak sanggup melepaskan diri dari penindasan, dan sebagai ungkapan kekecewaannya maka mereka yang bermoral budak memutarbalikkan semua nilai yang sampai saat itu dianggap positif yang menjadi ciri khas moralitas tuan sebagai tanda keburukan. Sedangkan kelemahan dan ketidakmampuan mereka sendiri dianggap sebagai sesuatu yang baik. Dari sinilah Nietzsche mengatakan bahwa kemenangan agama Kristiani terhadap Romawi tak lebih adalah pemberontakan kaum budak, yang sudah dimulai dalam agama Yahudi.

Sebenarnya moralitas budak lahir karena munculnya kekecewaan, atau sentimen orang lemah terhdap orang kuat. Budak tidak dapat menjadi tuan, yang lemah tidak dapat menjadi kuat, karenanya ia sentimen dan kecewa, ia merendahkan sifat-sifat orang kuat dan meninggalkan sifat-sifat orang lemah. Dengan begitu maka terjadi pemutarbalikan nilai, yang baik dalam moralitas tuan dianggap buruk dalam moralitas budak, begitu juga sebaliknya. Setidaknya terdapat beberapa sifat yang membedakan antara moralitas tuan (master morality) dengan moralitas budak (slave morality).

SLAVE MORALITY
Benci yang dipendam
Reaksioner
Mementingkan orang lain
Mementingkan akhirat
Rendah hati/diri
Altruis
Takut melangkah
Demokratis
Jujur
Memegangi prinsip-prinsip moral
Lemah
Baik (lemah) Vs buruk (Kuat)


MASTER MORALITY
Mengungkapkan kemarahan langsung
Kreatif
Mementingkan diri sendiri
Dunia tujuan utama
Bangga, angguh
Egois
Selalu berani mencoba [ekprimental]
Aristokratis
Bohong
Moral individu
Kuat
Baik (kuat) Vs buruk (lemah)

E. Geneologi Moral: Kritik Terhadap Moralitas Kristen

Geneologi Moral adalah sebuah istilah yang digunakan Nietzsche untuk membangun moralitas baru sekaligus kritiknya terhadap moralitas ‘budak’ atau nilai-nilai yang diberikan oleh ajaran Kristen. Geneologi moral juga menunjuk pada sebuah metodologi geneologis dan karyanya Zur Genealogi der Moral, yang berupaya mengungkap asal asul dari semua nilai. Penyelidikannya ini mengungkap beberapa tahap penting perkembangan moralitas Barat, yaitu bahwa kode-kode moral pada mulanya diberlakukan dan diperkuat secara eksternal melalui hukuman dan disiplin keras. Rasa takut yang terus menerus dari setiap individu terhadap hukuman balasan lantas menjadi dorongan besar bagi pelatihan memori, dan ini kemudian mengarah pada ditanamkannya rasa akan tanggung jawab pribadi. Seluruh proses itu akhirnya menghasilkan individu-individu ‘berdaulat’ yang bisa menjalankan moral itu secara otomatis karena telah menanamkan aturan-aturan moral masyarakat ke dalam ‘nurani’nya. Mereka menjadi komponen-komponen masyarakat yang moralitasnya dirancang untuk membuat manusia menjadi ‘teratur, bisa dikalkulasi dan seragam’.

Pembacaan tantang moral itu kemudian dirangkum Nietzsche dalam tiga disertasi yang kemudian memunculkan suatu pembacaan yang baik tentang asal-usul moral tradisional (moral kristiani) yang disebutnya sebagai moral kawanan atau moral kaum lemah. Pertama, tentang asal usul yang baik dan yang jahat. Kedua, Tentang rasa salah, kesadaran yang keliru dan yang menyerupai kedua hal tersebut. Ketiga, tentang apa makna dari semua ideal asketis.

Bagian pertama dari tiga disertasi di atas, ditunjukkan dalam hidup bahwa moralitas Kristen lahir dari perasaan kebencian (ressentiment). Moralitas ini lahir sebagai hasil dari revolusi orang-orang lemah atau para budak yang memendam rasa kebencian dan iri yang mendalam dengan dipelopori oleh para imam. Gagasan ‘baik’ dalam moralitas ini tidak lahir karena mereka ingin menciptakan apa yang baik, tapi ‘baik’ muncul karena reaksi kelemahannya terhadap lingkungan sekitarnya. Terhadap lingkungan, orang-orang ini lebih suka berkata ‘tidak’ dan mengurung diri, kemudian membentuk dunianya sendiri. Gagasan yang baik dan jahat dalam dunia Eropa merupakan warisan orang-orang Kristen yang diwarisinya dari Yahudi. Dengan tampil dan naiknya kebudayaan Kristen, kebudayan lain tak lebih adalah kebudayaan barbar yang mandul akan kebaikan. Padahal justru moralitas Kristenlah yang mengantarkan Eropa masuk ke dalam nihilisme yang anti manusia dan anti kehidupan. Dalam kategori moralitas Kristen, moralitas aristokrat digolongkan sebagai moralitas barbar.

Bagian kedua, Nietzsche menguraikan pandangannya tentang suara hati. Suara hati atau juga kesadaran moral yang oleh sementara kalangan dipahami sebagai suara Allah dalam hati, padahal itu adalah naluri, insting kekejaman. Pandangan yang keliru tentang suara hati ini telah membuat orang mengabaikan kecenderungan-kecenderungan alami manusia yang tidak lain adalah kehidupan itu sendiri. Ide tentang suara hati yang salah membuat orang selalu merasa bersalah atau konformitas dengan moralitasnya.
Disertasi kedua ini menyimpulkan bahwa kesadaran yang keliru merupakan efek psikologis dari ciri sosial mengenai ketakutan yang dipaksakan pada individu melalui peralihan dari kawanan primitif ke bentuk pertama organisasi sosial yaitu negara. Efek sosial ini terdiri dari dua tahap. Pertama pembatinan agresivitas yang tidak mencapai kepenuhannya di luar. Tahap pertama ini adalah pembalikan kekuatan aktif melawan diri-sendiri, penghasil rasa sakit yang kemudian ini dibatinkan dan dispiritualisasikan menjadi perasaan bersalah yang berkembang menjadi sebuah dosa yang merupakan bentuk tertinggi yang diidealisir dari mistifikasi ini. Kesadaran yang keliru ini dihasilkan oleh para budak, orang lemah dan sakit.

Pada bagian ketiga, yang berisi tujuan-tujuan asketik sebenarnya, Nietzsche
menunjukkan bahwa kekuatan luar biasa yang muncul dari cita-ciata dan tujuan asketis pada dirinya adalah cita dan tujuan yang merusak kehidupan. Sejalan dengan ketakutan manusia terhadap dorongan-dorongan kehidupan, orang menciptakan berbagai macam kebijaksanaan yang diungkapkan dengan praktek-praktek asketis. Semangat dan praktek asketis ini dijumpai dalam banyak kalangan, dari para seniman –disini ia banyak mengomentasi Wagner–, filsuf, laki-laki wanita, para imam, sampai para orang suci dan santo.

Pendiriannya yang lain tentang moralitas adalah bahwa tidak ada fakta moral. Sebenarnya yang disebut moralitas pada dirinya sendiri itu tidak ada. Yang ada hanyalah interpretasi moral yang berasal dari luar moral (extra moral), karena dalam pandangan Nietzsche, moralitas tak lebih dari sebuah sistem penilaian. Sedangkan penilaian itu sendiri selalu bersifat exegesis, jadi moralitas bagi Nietzsche selalu berarti penafsiran untuk suatu penilaian.

F. Catatan Akhir

Sebagai pemikir perspektivisme Nietzsche ingin membuat tafsir terhadap fenomena kehidupan. Baginya yang ada hanyalah tafsir-tafsir yang tak sempurna dan tak pernah ada kebenaran mutlak tentang dunia. Pemikirannya ini melahirkan dan mengandaikan suatu individualisme yang kuat; suatu yang didasarkan pada nilai-nilai relativistik yang melahirkan nihilisme. Pandangan ala Nietzschean ini tentu di satu sisi dapat membongkar semua nilai yang pernah ada, berbagai simptom, kepalsuan, dan kebohongan. Hanya saja di sisi yang lain kehilangan kekuatan understandability (kesepahaman bersama) dan communitabilitynya. Padahal dua valiabel itu, sekurang-kurangnya, mesti ada dalam kehidupan ini.

Understandability dan communitability inilah yang menjadi satu kelemahan paling mendasar dari semua konsep Nietzsche. Gagasan Nietzsche tak ubahnya sebagai sebuah letupan pemikiran ditengah absolutisme dokmatisme agama dan sains yang memegang peranan sangat penting kala itu sehingga tak sedikitpun seseorang yang dapat keluar dari pengaruh-pengaruh itu. Tapi justru posisi ini yang membuat pemikiran Nietzsche menjadi suatu inspirasi bagi pemikir sesudahnya. Seperti pernyataan Foucault berikut: Satu-satunya penghargaan yang benar terhadap pemikiran seperti yang dikemukakan Nietzsche adalah dengan memamfaatkannya, membedahnya, sehingga pemikiran itu akan meraung dan memprotes. Dan jika para komentator mengatakan bahwa saya tidak setia terhadap Nietzsche, itu jelas di luar urusan saya.

KEPUSTAKAAN

Bartens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1998.

F. W. Nietzsche, Geneologi Moral, Yogyakarta, Jalasutra, 2001.

Foucault, Michel, “Prison Talk” terj. Colin Gordon, dalam Radical Philosophy, No. 16 Spring, 1977.

Haryatmoko, “Pembongkaran Agama dan Aspek Destruktifnya” dalam Basis, nomor 11-12, tahun ke-49, November-Desember 2000.

Kaufmann, Walter, “Fiedrich Nietzsche” dalam Paul Edwards, ed., The Encyclopedia of
Philosophy, vol. 6 New York, London: Callier Macmillan Publisher, 1872.

Lechte, John, Fifty Key Contemporary Thinkers: From structuralism to postmodernity London & New York: Routledge, 1994

Magill, Fank N., Masterpieces of World Philosophy, New York: Harpercollins Publishers, 1990.

Magnis-Suseno, Franz, 13 Tokoh Etika; Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19, Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Pojman, Louis P., Philosophy: The Pursuit of Wisdom, 2nd editon, USA: Wadsrorth Publishing Company, 1998.

Pojman, Louis P., Philosophy: The Quest for Truth, USA: Wadsworth Publishing Company, 1999.

Russell, Bertrand, History of Western Philosophy, London: George Allen & Unwin Ltd. 1974.

Sindhunata, “Nietzsche Si Pembunuh Tuhan” dalam Basis, nomor 11-12, tahun ke-49, November-Desember 2000, p. 4-17.

Sunardi, St., Nietzsche, Yogyakarta: LKiS, 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar