01 Maret 2009

Pokok Bahasan VII

REALISME ARISTOTELES

Biografi Aristoteles

Dikalangan Islam, Aristoteles dikenal sebagai si Guru Pertama (al-Mu'allim al-Awwal). Putra Negara Yunani yang termasyhur ini dilahirkan di Stagyra di daerah Thrakia, Yunani Utara tahun 384 SM.

Delapan belas tahun kemudian, Aristoteles masuk Akademia di Athena dan selama 20 tahun mengikuti kuliah-kuliah Plato. Namun kemudian ia meninggalkan ajaran gurunya itu.

"Amicus Plato, magis amica veritas"

[Plato memang sahabat karibku, tetapi kebenaran jauh lebih akrab denganku], demikian kata-kata Aristoteles.

Tahun 335 SM, Aristoteles mendirikan sekolah yang diberi nama Lykaion, nama salah satu gelar dewa Apolo. Karena caranya mengajar dan caranya bertukar pikiran dengan kelompok-kelompok kecil, berlangsung sambil berjalan-jalan, maka sekolahnya dijuluki dengan Peripatetik.

Akhirnya, pada tahun 322 SM Aristoteles meninggal dunia di kota Chalcis (di pulau Eubua).

Percikan Pemikiran Filsafat Aristoteles

Seperti halnya Plato, Aristoteles juga senang menulis. Diogenes Laertius, seorang sejarawan filsafat abad ke-3, menyebut 146 judul tulisan. Seorang yang banyak berjasa menyelamatkan dan menyebarkan ajaran Aristoteles ke dunia Barat adalah tokoh filsuf Islam, Ibnu Rushd. Hingga akhirnya dunia Barat mengakui sang guru pertama dengan sebutan Filosof.

Pemikiran filsafatnya meliputi banyak hal, mulai soal Metafisika, Logika, Etika, Politik, hingga ilmu pengetahuan umum seperti Biologi, fisika, dan psikologi. Sekedar catatan, tulisan Aristoteles dikenal sangat kering dan kaku. Tidak seperti Plato yang bergaya sastra dan memuat mite-mite.

Tentang Metafisika

Asal muasal lahirnya pemikiran metafisika Aristoteles ini terkait dengan banyak hal, yaitu terkait dengan:

Pertama, idea-idea Plato yang dianutnya, kemudian dikritik, ditentang, dan dilepaskan.

Kedua, kosmos. Bagaimana adanya aturan yang pasti dalam kosmos itu dapat diterangkan? Dari manakah aturan itu? Dengan demikian, permenungan Aristoteles berkisar pada "arche" atau "purba" (dasar yang pertama).

Dalam pemikiran Plato, terdapat dualisme realitas yaitu antara dunia ide-ide dan dunia benda-benda konkret.

Aristoteles mengkritik pandangan tersebut, dengan berkata: "Hakikat suatu benda itu berada dalam benda itu sendiri bukan dalam segala macam ide ala Plato."

Solusinya ! Aristoteles mengemukakan suatu ajaran tentang Hylemorfisme.

Hylemorfisme : Setiap benda selalu merupakan pengejewantahan dari materi (hyle) dan bentuk (morphe). Keduanya merupakan prinsip-prinsip metafisik.

Contoh telephon, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menurut ajaran Aristoteles: dalam telephon dari plastik itu, terdapat dua unsur yang menyatu sekaligus yakni plastik dan rupa telephon. Materi dalam benda konkret itu adalah plastik. Sedangkan "telephon" adalah bentuk. Bentuk telephon memerlukan bahan plastik agar jelas nampak sebagai telephon. Sementara bahan plastik memerlukan bentuk telephon agar dapat melaksanakan kemungkinannya menjadi telephon sungguhan.

Jadi, bentuk tidak pernah lepas dari bahan dan bahan tidak pernah lepas dari salah satu bentuk.

Atas dasar ajarannya itu, Aristoteles membedakan empat penyebab untuk mengartikan suatu kejadian/penampakan.

1. Penyebab formal (causa formalis)

Inilah bentuk yang menyusun bahan. Misalnya bentuk Telephon ditambahkan pada plastik sehingga menjadi sebuah telephon.

2. Penyebab final (causa finalis)

Inilah tujuan yang menjadi arah seluruh kejadian. Misalnya, telephon dibuat agar orang dapat berkomunikasi.

3. Penyebab efisien (causa efficiens)

Inilah "motor" yang menjalankan kejadian. Misalnya, tukang telephon membuat telephon.

4. Penyebab material (causa materialis)

Inilah bahan dari mana suatu benda dibuat. Misalnya, bahan material telephon adalah plastik.

Kesimpulan

Hakikat benda, demikian menurut Aristoteles, tidak berada di luar. Melainkan di dalam benda itu sendiri. Dengan kata lain, hakikat suatu benda bukan terletak pada ide-ide yang berada entah di mana nun jauh di sana, melainkan mengejewantahkan dirinya secara riil dan secara bertahap dalam serangkaian kejadian atau penampakan.

Ajaran Tentang Tuhan

Salah satu tema yang terkait dengan metafisika, khususnya perihal gerak perkembangan suatu benda, adalah ajaran mengenai TUHAN.

Menurut Aristoteles, suatu gerakan atau proses perkembangan dalam jagad raya tidak mempunyai awal dan akhir dalam waktu. Maka alam semesta ABADI sifatnya. Namun karena sesuatu yang bergerak digerakkan oleh penggerak yang lain, maka perlu diterima satu PENGGERAK PERTAMA yang tidak digerakkan oleh penggerak lain, yaitu TUHAN.

Ciri Penggerak Pertama adalah:

  • Abadi atau tidak terikat oleh waktu, sama seperti Jagat Raya yang disebabkan oleh-Nya.
  • Bukan materi sebab segala sesuatu yang material, selain tidak kekal sifatnya, juga mempunyai potensi untuk bergerak dan digerakkan. Dengan demikian,
  • Penggerak Pertama itu merupakan aktus murni, bukan potensi.

Tuhan sebagai aktus murni, menurut Aristoteles, memiliki dua alasan:

  • Tuhan bersifat non-material atau tidak badaniah, maka kegiatan-Nya pun harus bersifat murni rohaniah. Oleh karenanya, PEMIKIRAN adalah satu-satunya kegiatan yang bersifat murni rohaniah.
  • Segala aktivitas jenis lain, yaitu selain aktivitas PEMIKIRAN itu sendiri, selalu menuntut objek material yang terbatas dan berada di luar dirinya; dan dengan demikian juga menuntut ketergantungan pada objek itu sebagai arah atau tujuannya (potensi).

Tuhan sebagai aktus murni, menurut Aristoteles…

  • PEMIKIRAN sebagai aktivitas yang sama sekali tidak bersifat material, maka –seandainya ada objek- maka objek aktivitas inipun tentu tidak bersifat material atau terbatas. Tetapi objek yang paling tinggi dan sempurna. Nah, objek ini menurut Aristoteles adalah PEMIKIRAN itu sendiri.
  • Jadi, kalau Tuhan adalah aktus murni maka objek pemikiran Tuhan tidak lain adalah PEMIKIRAN ILAHI miliknya sendiri. "Tuhan adalah pemikiran yang memandang pemikirannya (noesis noeseoos)", demikian kata Aristoteles.

Bagaimana Penggerak Pertama itu menyebabkan gerak dalam jagad raya?

Bukan sebagai penyebab efisien (karena Dia adalah aktus murni yang tidak menuntut objek material), melainkan sebagai penyebab final Allah menyebabkan semuanya bergerak kepada diri-Nya sebagai telos, sebagai tujuan. Artinya, segala sesuatu yang ada mengarah kepada Penggerak Pertama itu. Gerak dalam jagad raya sama saja dengan gerak menuju Allah. Dalam bahasa puitisnya Aristoteles berucap, "Ia menggerakkan karena dicintai" (kinei de hos eromenon)

Namun, Tuhan sebagai Penggerak Pertama tidak mengenal dan mencintai sesuatu yang lain dari pada diri-Nya sendiri. Karena seandainya Tuhan sampai mengenal dan mencintai dunia (sebagai objek), Dia harus mempunyai potensi juga. Jika demikian halnya, Dia bukan lagi aktus murni.

Bagaimana kita memperoleh pengetahuan tentang Allah ini?

Menurut Aristeles, berkat rasio (nous), tetapi bukan sebagai rasio pasif (nous patheikos atau intelectus possibilis) yang terutama dipengaruhi oleh kesan-kesan indrawi, melainkan sebagai rasio aktif (nous poietikos atau intellectus agens) yang ikut menentukan isi pemahaman manusia berkat daya kreatifnya sendiri.

Sebagai intellectus agens, rasio mampu memahami adanya Tuhan dibelakang semua gejala alam (misalnya gerak) meskipun pemahaman ini melampaui pengamatan dan pengalaman indrawi yang terbatas jangkauannya.

Catatan :

Perbedaan antara rasio pasif dan rasio aktif menunjuk pada funsi rasio manusia. Rasio bersifat pasif jika hanya menerima hakikat suatu benda yang disajikan pada panca indra. Namun menerima dari mana ? Jawabannya, kata Aristoteles, dari rasio aktif.

Rasio Aktif ini berfungsi melepaskan hakikat dari sesuatu benda konkret yang disajikan pada pancaindra. Misalnya, dengan membandingkan berbagai jenis, bentuk, dan warna bunga Mawar yang pernah dilihat, rasio aktif harus membentuk hakikat bunga Mawar. Proses ini disebut ABTRAKSI.

Dalam proses ABTRAKSI (dari kata latin ab = ke atas, dan trahere = menarik) ini, rasio aktif menarik hakikat suatu dan/atau beberapa benda "ke atas" dan sekaligus membentuk pengertian yang tepat mengenai hakikat benda itu. Bagi Aristoteles, selain mengkritik "Ide Plato", bahwa pengenalan yang tepat tentang hakikat sesuatu itu bukan berasal dari dunia ide-ide Plato, tapi berasal dari proses ABSTRAKSI ini. Karenanya, ilmu pengetahuan dimungkinkan tanpa pengandaian ide-ide Plato.

Dalam konteks filsafat pengetahuan, Aristoteles berbeda dengan Plato. Dasar filsafat pengetahuan Aristoteles bukanlah INTUISI melainkan ABSTRAKSI.@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar