02 September 2009
Pokok Bahasan II
Istilah Hellenisme adalah istilah modern yang diambil dari bahasa Yunani kuno hellenizein yang berarti berbicara atau berkelakuan seperti orang Yunani (to speak or make Greek). Dalam pengertian yang lebih luas, Helenisme adalah istilah yang menunjuk kebudayaan yang merupakan gabungan antara budaya Yunani dan budaya Asia Kecil, Syiria, Mesopotamia, dan Mesir yang lebih tua. Gabungan itu terjadi selama tiga abad setelah meninggalnya Alexander Agung pada tahun 323 SM.
Setelah Aristoteles, pemikiran filsafat Yunani tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti. Bahasan-bahasan yang diwacanakan hanyalah pengulangan-pengulangan (reproductived discourse) dari para filsuf sebelumnya. Tidak ada filsuf yang berhasil menggali dan membuahkan pemikiran yang cemerlang, sampai akhirnya muncul seorang Plotinus sebagai filsuf yang genial.
Pada jaman ini, terjadi pergeseran pemikiran filsafat, yaitu dari yang bersifat teoritis ke wilayah praktis. Ada banyak aliran yang muncul, yang masing-masing berusaha menentukan cita-cita hidup manusia dengan warnanya sendiri-sendiri. Termasuk aliran-aliran yang memiliki kaitannya penting dengan pemikiran filsafat Islam adalah Neo-Platonisme dan Neopytagoras. Mengenai kedua aliran ini akan dijelaskan kemudian secara rinci.
Secara umum, sejarah filsafat Barat dimulai di Yunani. Sifat-sifat filsafat Yunani sangatlah mempengaruhi seluruh alam pikiran Barat; melepaskan diri dari mitos-mitos dan mencari pertanggungjawaban yang rasional dari kenyataan; mencari apa yang tetap dan kekal dalam kenyataan-kenyataan yang berubah-ubah, realistis, terang, tajam dalam perumusan-perumusan, teratur, rapi.
Ringkasnya, tahapan-tahapan sejarah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
A. KELAHIRAN: (Pra-Sokrates: Filsafat alam, mencari penjelasan dari alam, khususnya terjadinya segala-galanya dari Prinsip Pertama (arche).
1.Mazhab Miletos: Thales (625-545), Anaximandros (610-540), Anaximenes (585-528)
2.Pythagoras (580-500)
3.Herakleitos (540-480)
4.Mazhab Elea: Parmenides (530-540), Zeno (490)
5.Yonisi: Empedokles (483), Anaxagoras (499-428), Demokritos (460-370)
B. PERKEMBANGAN: Memusatkan penyelidikan pada manusia. Filsafat alam tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, maka timbullah sikap kaum sofis ("pedagang pengetahuan").
1.Kaum Sofis: Pythagoras (481-411), Gorgias (483-375).
2.Sokrates (470-400)
C. JAMAN KEEMASAN: Mencari sintesis antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia.
1.Plato (429-347), meneruskan dan menyempurnakan ajaran Sokrates. Inti ajarannya: ajaran ide-ide, tentang pengetahuan, prinsip pertama, kesusilaan, jiwa, alam, dan negara.
2.Aristoteles (384-322), murid Plato, filsuf pertama yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar dari filsafat, yang dipersatukannya dalam satu system, meliputi: logika, filsafat alam, ilmu jiwa, metafisika (sebab Pertama), etika, ilmu politik. Hasil-hasil pemikirannya sekarang masih berlaku (Hylemorfisme).
C. JAMAN KERUNTUHAN - Sistem-sitem Etika
1.Stoa (300 SM – 200 SM) hendak memberikan ajaran-ajaran hidup praktis, agak materialistis; memperkenalkan logika lebih lanjut. Yang terkenal: Zeno (336-264), Seneca, Empitektus (50-117).
2.Epikurus (341-271), materialistis dan "aku-istis": kebahagiaan adalah kepuasaan diri, "permulaan dan akar kebaikan ialah kenikmatan perut".
3.Skeptisis: Kesangsian, tak mungkin orang mencapai kepastian. Pyrrho (360-270), Sextus Empiricus (150).
D. PERKEMBANGAN BARU : Neo-Platonis, bersikap religious, kebatinan.
1. Plotinos (205-270)
2. Porphyrius (232-315), muridnya. Buku yang terkenal: Enneaden (9 buku), ajaran emanasi.
Itulah deskripsi singkat mengenai tahapan-tahapan awal sejarah filsafat barat. Keberadaan filsafat barat tersebut, dalam beberapa hal, mempengaruhi pemikiran-pemikiran Islam. Terutama dua aliran yang akan dijelaskan berikut ini:
1. Neo-Platonisme
Aliran ini muncul kira-kira lima abad setelah Aristoteles. Pemikiran filsafatnya disusun secara sistematis. Kebangkitan pemikiran filsafat kuno ini bersamaan waktunya dengan kelahiran agama Kristen, sehingga terjadi pergumulan yang dahsyat antara keduanya. Tokoh yang sering dihubung-hubungkan dengan aliran ini adalah Ammonius Sakkas dan Platinos. Ammonius Sakkas tidak meninggalkan tulisan apapun, sehingga pemikiran filsafatnya hampir tidak dapat diketahui. Kita dapat mengetahui tentang pemikiran filsafatnya melalui Plotinus (204-270) yang hasil karyanya dibukukan oleh muridnya, Porphyrios.
Secara ringkas Plotinus adalah filsuf pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta yang dikenal dengan teori emanasi. Teori ini banyak diikuti oleh para filsuf Islam. Teori emanasi ini sebenarnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan Thales, ± 8 abad sebelumnya, yang menanyakan apa bahan alam semesta ini. Plotinus menjawab: bahannya adalah Tuhan. Filsafat Plotinus kebanyakan bernapas mistik, bahkan tujuan filsafat menurutnya adalah mencapai pemahaman mistik. Yang paling menarik dari seluruh gagasan pemikiran filsafat Plotinus adalah tentang Metafisika.
Dalam berbagai hal, Plotinus banyak bersandar pada doktrin-doktrin Plato. Artinya ia menganut realitas idea. Sistem metafisika Plotinus ditandai oleh konsep transendens. Menurutnya, di dalam pikiran terdapat tiga realitas, yaitu; The One, The Mind, dan The Soul. Realitas yang pertama, The One, yang bisa kita artikan sebagai Tuhan adalah suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami melalui metode sains dan logika. Ia berada di luar eksistensi, di luar nilai. The One itu adalah puncak semua yang ada; Ia itu maha mutlak, cahaya di atas cahaya. Kita tidak mungkin mengetahui esensinya; kita hanya mengetahui bahwa Ia itu pokok atau prinsip yang berada di belakang akal dan jiwa. Ia adalah pencipta semua yang ada. The One itu tidak dapat didekati melalui penerimaan panca indra dan juga tidak dapat dipahami lewat pemikiran logis. Kita hanya dapat menghayati adanya; artinya kita tidak dapat memikirkannya seperti ketika kita memikirkan sesuatu yang ada definisinya. Ia transenden terhadap segala makhluk. Ia hanya dapat didekati lewat tanda-tanda dalam alam.
Realitas kedua, The Mind, atau dalam istilah latinnya Nous merupakan gambaran tentang Yang Esa (The One) yang di dalamnya mengandung ide-ide Plato. Idea-idea itu merupakan bentuk asali objek-objek. Kandungan Nous adalah benar-benar suatu kesatuan. Untuk menghayatinya dibutuhkan suatu permenungan/penghayatan.
Realitas ketiga, The Soul, merupakan arsitek semua fenomena yang ada di alam ini, The Soul mengandung satu jiwa dunia dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, iada adalah energi di belakang dunia, dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta.
Tentang penciptaan, Plotinus berpendapat bahwa alam semesta ini diciptakan melalui proses emanasi (al-fâid). The One (Yang Esa) adalah yang paling awal dan merupakan Sebab Pertama. Emanasi itu berlangsung tidak di dalam waktu. Emanasi itu laksana cahaya yang membias (emanation) dari matahari. Dengan beremanasi itu The One tidak mengalami perubahan. Mengenai Emanasi ini, Muhammad Hatta melukiskan demikian:
Yang Esa (The One) itu adalah sumber semuanya, tetapi tidak mengandung di dalamnya satu pun dari barang yang banyak (makhluk). Dasar yang banyak tidak mungkin yang banyak itu sendiri, dasar yang banyak adalah Yang Esa. Di dalam Yang Esa itu yang banyak belum ada, sebab di dalam-Nya yang banyak itu tidak ada, tetapi yang banyak itu datang dari Dia. Karena Yang Esa itu sempurna, tidak memerlukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa, maka beremanasilah dari Dia yang banyak itu. Di dalam filsafat klasik Yang Asal itu dikatakan sebagai Yang Bekerja atau sebagai Penggerak Pertama. Di situ selalu dikemukakan dua hal yang berlawanan, seperti yang bekerja dan yang dikerjakan, idea dan benda, pencipta dan ciptaan. Penggerak Pertama itu berada di luar alam nyata, sifatnya transendens.
Itulah konsep emanasi yang berasal dari filsafat timur. Sementara yang berkaitan dengan konsep emanasinya Plotinus, Hatta menjelaskan lebih lanjut:
... Tidak ada (dua hal) yang bertentangan. Padanya alam ini terjadi dari Yang Melimpah, yang itu tetap menjadi bagian dari Yang Melimpah itu. Bukan Tuhan berada di dalam alam, melainkan alam berada di dalam Tuhan. Hubungannya sama dengan hubungan benda dengan bayangannya. Makin jauh yang mengalir itu dari Yang Asal, makin tidak sempurna ia. Alam ini bayangan Yang Asal, tetapi tidak sempurna, tidak lengkap, tidak cukup, tidak sama dengan Yang Asal. Kesempurnaan bayangan itu bertingkat menurut jaraknya dari Yang Asal. Sama dengan cahaya, semakin jauh dari sumber cahaya, semakin kurang terangnya.
Penggambaran Emanasi di atas, menegaskan bahwa kemutlakan Sang Maha Tunggal(The One;Yang Esa) tak terbanding dengan lainnya. Ia transenden. Dan yang perlu diingat lagi adalah bahwa dalam Emanasi itu proses-proses di dalamnya terjadi tidak dalam ruang-waktu . Ruang dan waktu terletak pada tingkat yang paling bawah dalam proses emanasi. Ruang dan waktu adalah suatu pengertian tentang dunia benda. Untuk menjadikan alam, The Soul mula-mula menghamparkan sebagian dari kekekalan-Nya, lalu membungkusnya dengan waktu. Selanjutnya energi-Nya bekerja terus, menyempurnakan alam semesta itu. Waktu berisi kehidupan yang bermacam-macam waktu bergerak terus hingga menghasilkan waktu lalu, sekarang, dan akan datang. Waktu, dalam pemikiran filsafat Plotinus, tidak terpisah dari jiwa, ia merupakan suatu yang inheren dalam jiwa. Bila mencapai kesatuannya yang asli, artinya bila ia terpisah dari jiwa, waktu akan hilang, misalnya bila ia menyatu dengan alam semesta.
2. Neo-Pythagoras.
Walaupun bernama Neo-Pythagoras, aliran ini bukanlah kelanjutan yang murni dari filsafat Pythagoras. Sebenarnya, ajaran aliran ini bersumber dari ajaran Plato yang dicampur dengan ajaran dari Aristoteles dan Kaum Stoa. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Appolonius dar Tyana yang hidup pada abad pertama sebelum masehi. Isi ajarannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Yang Ilahi atau Yang Ada merupakan suatu realitas sempurna yang tidak bergerak dan tidak berjasad, sedangkan benda mengandung di dalam dirinya gerak yang tidak beraturan, yang merupakan kemungkinan murni pengandaian eksistensi segala yang ada. Yang Ilahi ini merupakan sumber idea yang merupakan gagasan-gagasan Yang Ilahi, yang menjadi pola dasar dari segala kenyataan. Segala yang ada terbentuk sesuai dengan gagasan Ilahi. Idea-idea juga merupakan bilangan. Penciptaan dunia dengan segala keanekaragamannya tidak dilakukan oleh Yang Ilahi, melainkan hasil karya dari "jiwa dunia".
Sementara manusia memiliki dua macam daya, yaitu daya untuk mengenal dunia rohani yang merupakan daya intuitif, yang timbul karena kerja sama dengan akal, dan daya pengamatan. Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh yang saling terpisah satu dari yang lain. Jiwa terbelenggu dalam tubuh, sehingga hanya kematianlah yang dapat membebaskan diri dari pengaruh tubuhnya dengan berpantang tidak makan daging dan tidak melakukan persetubuhan misalnya.
05 April 2009
MENAKAR KUALITAS PENDIDIKAN KITA
Pendidikan adalah salah satu persoalan paling kompleks yang dihadapi oleh bangsa kita. Kompleksitasnya tak pernah berhenti dari dulu hingga sekarang. Masalahnya bukan hanya pada sarana, prasarana, dana serta tenaga pengajar tetapi inti soalnya adalah perdebatan tentang tujuan pendidikan nasional Indonesia yang tak kunjung menemukan titik kesepakatan antara pemerintah sebagai komponen utama dalam sistem pendidikan kita dan berbagai kelompok masyarakat serta antar berbagai komponen masyarakat sendiri.
Bicara tentang tujuan pendidikan di Indonesia seperti yang termaktup dalam Undang Undang adalah mencetak manusia yang beriman dan berilmu, cerdas tapi juga bermoral. Kalau ini yang menjadi target terjauh dari pendidikan maka sudah seharusnya tahapan-tahapan pendidikan mulai mengarah dan fokus di sini. Tapi apakah sudah demikian kenyataannya?
Melanjutkan pertanyaan di atas, saya cukup pesimis target itu bisa dicapai. Hal ini dilihat dari sistem pendidikan yang diusung oleh pemerintah. Saat ini kita melihat paradigma yang digunakan oleh pemerintah adalah paradigma penyeragaman dalam melihat pendidikan. Misalnya yang disebut pendidikan itu adalah penyelenggaraan pendidikan formal seperti di tingkat SD, SLTP, SLTA, Akademi, Perguruan Tinggi. Hal ini juga dikuatkan dengan subsidi pemerintah yang mengalokasikan dana 20 persen dari APBN bagi pendidikan yang berdampak pada kenaikan rata-rata 50 persen dari bantuan sebelumnya. Tidak cukup dari kebijakan 20 persen subsidi tersebut, pemerintah juga gencar menyuarakan pendidikan gratis melalui intruksi menteri pendidikan nomor 186/MPN/KU/2008. Atau belum lagi kita bicara tentang standar kualitas lulusan untuk tingkat SD, SLTP dan SLTA dan yang sederajat melalui kebijakan yang tertuang dalam kebijakan Ujian Nasional yang lagi-lagi mengedepankan aspek kuantitas ketimbang kualitas yang sebenarnya dari pendidikan kita atau dengan kata lain, lebih menganggap penting aspek formalitasnya ketimbang substansinya.
Problem-problem di atas akan menjadi pijakan kita dalam melihat lebih jauh persoalan yang sebenarnya dari mutu atau kualitas pendidikan ke depan. Hemat saya, bicara tentang kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dua faktor yang saling mendukung. Faktor internal yang meliputi instansi pemerintah, sekolah, madrasah dan faktor eksternal yang mencakup keterlibatan masyarakat dalam mengontrol, menilai, dan memberi masukan.
Mendasarkan pada pola pengembangan di atas, dua ranah tersebut dapat berjalan secara sinergis dan saling mendukung bahwa kesuksesan sekolah juga akan berimbas pada kesuksesan masyarakat. Artinya, apa yang menjadi masalah masyarakat dapat dijawab oleh sekolah dengan melahirkan lulusan yang siap pakai. Bukan lulusan yang banyak menguasai teori tapi kesulitan mempraktekkannya di dalam kehidupan masyarakat.
Ada sebuah cerita mengenai kualitas pendidikan di Indonesia dan negara lain. Pada era 60-an hingga 80-an, banyak orang Malaysia yang kuliah di berbagai perguruan tinggi Indonesia baik di PTN maunpun IAIN. Tapi akhir-akhir ini terjadi arus balik: orang Indonesia belajar ke Malaysia. Pada tahun-tahun 1970-an Vietnam belajar mengembangkan pendidikan dasar dari Indonesia. Sekarang Vietnam mengungguli kita. Pada tahun-tahun 1970-an Vietnam belajar bercocok tanam padi, sekarang menjadi eksportir beras untuk Indonesia. Masih tentang Indonesia dan Vietnam, semangat membaca masyarakatnya ternyata lebih bagus Vietnam. Hal ini dibuktikan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk 225 juta jiwa setiap tahun memproduksi 8000 judul buku. Sementara Vietnam dengan 80 juga penduduk memproduksi 15000 judul. Vietnam baru merdeka tahun 1968, Indonesia tahun 1945.
Selain cerita suram keberadaan pendidikan kita dibanding negara lain, ada cerita lain dari Kalibening, Salatiga tepatnya sekolah berbasis komunitas Qoryah Tayyibah. Sekolah dengan biaya terjangkau mampu melahirkan lulusan-lulusan yang “berkualitas”. Kualitas di sini sebenarnya adalah penilaian dari sisi kebutuhan masyarakat, bukan penilaian dari sisi pemerintah yang mengedepankan formalitas dengan gedung sekolah yang mentereng, satpam yang gagah, pagar sekolah yang kokoh dan semacamnya. Bagi Qoryah Tayyibah, keberhasilan itu diukur dengan seberapa besar keterlibatan masyarakat bagi komunitas sekolah. Dan seberapa jauh sekolah mampu menerjemahkan proses perubahan jaman bagi kebutuhan masyarakat.
Sekali lagi bicara kualitas pendidikan berarti juga bicara tentang kebutuhan masyarakat. Sangat naif misalnya, masyarakat Indonesia dianggap sebagai masyarakat agraris tapi soal sembako kita masih impor dari negara lain. Di mana peran sekolah dan kepedulian pemerintah dalam hal ini?
08 Maret 2009
Pokok Bahasan IX
FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN
(FILSAFAT PATRISTIK DAN FILSAFAT SKOLASTIK)
FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN
Istilah Abad Pertengahan merupakan istilah untuk menunjuk suatu jaman peralihan atau jaman tengah antara dua jaman penting sesudah dan sebelumnya; yakni Jaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Jaman Modern yang diawali dengan masa Renaissans pada abad ke-17.
Sejarah Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad ke-17.
Peta Kronologis | ||
600 SM – 500 M Jaman Kuno Yunani-Romawi | 500 M – 1700 M Abad Pertengahan Dimulai tahun 476 M, yaitu masa berakhirnya Kerajaan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, berakhir 1492 penemuan benua Amerika oleh Columbus | 1700 M – SEKARANG Jaman Modern Masa Renaissans pada abad ke-17 |
Ciri Filsafat Abad Pertengahan
- Adanya hubungan erat antara Agama Kristen dan Filsafat. Dengan kata lain, filsafat Abad Pertengahan adalah filsafat Kristiani.
- Tema Filsafat Abad Pertengahan adalah hubungan antara iman yang berdasarkan wahyu-Ilahi dan pengetahuan yang berdasarkan kemampuan rasio-manusia.
- Dapatlah dikatakan bahwa Filsafat Abad Pertengahan adalah filsafat agama dengan agama kristiani sebagai basisnya.
Dua Jaman Penting Abad Pertengahan
Sejarah Abad Pertengahan dibagi menjadi dua jaman, yakni JAMAN PATRISTIK dan JAMAN SKOLASTIK
Jaman Patristik [Abad ke-2 sampai Abad ke-7]
Istilah "Patristik" (Patres, Latin) yang menunjuk pada Bapa-bapa Gereja, dan juga berarti pujangga-pujangga Kristen dalam abad pertama Masehi yang meletakkan dasar intelektual untuk agama Kristen. Dalam konteks saat itu, agama Kristen juga dihadapkan pada kebudayaan Yunani terutama pikiran-pikiran filosofis yang beredar dalam masyarakat. Di sinilah muncul pro dan kontra terhadap penerimaan filsafat. Karenanya, Jaman Patristik ditandai dengan usaha keras para Bapa Gereja untuk mengartikulasikan, menata, dan memperkuat isi ajaran Kristen serta membelanya dari serangan kaum kafir dan bid'ah kaum Gnosis. Menurut pendapat mereka, sesudah manusia berkenalan dengan Wahyu Ilahi yang tampak dalam diri Yesus Kristus, filsafat sebagai kecerdikan manusiawi belaka merupakan sesuatu yang berlebihan saja, bahkan suatu bahaya yang mengancam kemurnian iman kristiani.
Sebagai contoh, sebut di antaranya seperti;
1. YUSTINUS MARTIR melihat "Nabi dan Martir" Kristus dalam diri Sokrates. Dan dikenal sebagai Filsuf Kristen pertama.
2. TERTULIANUS mengatakan tidak ada hubungan antara Athena (simbol Filsafat) dan Yerussalem (simbol teologi ajaran kristiani).
3. ORIGENES berpendapat wahyu Ilahi adalah akhir dari filsafat manusiawi yang bisa salah. Orang hanya boleh mempercayai sesuatu sebagai kebenaran bila hal itu tidak menyimpang dari tradisi Gereja dan ajaran para rasul.
Kemudian pada abad ke-5, Augustinus muncul. Ajarannya yang kuat dipengaruhi oleh neo-Platonisme merupakan sumber inspirasi bagi pemikir Abad Pertengahan sesudah dirinya selama sekitar 800 tahun.
Tentang Augustinus
"Jiwa Resah Mendambakan Istirahat"
Kesan yang kita tanggap bagi seorang Agustinus bahwa hidup, berpikir, dan mencintai adalah satu kegiatan dalam iman. Dia dilahirkan di Tagaste tahun 354.
Agustinus muda adalah lelaki yang suka foya-foya dan menikmati kesenangan duniawi yang kelak perbuatannya itu dianggap sebagai "kebejatan nafsu daging", "kegilaan nafsu birahi yang liar". Yang khas dalam pandangan Agustinus adalah mengenai pengenalan diri adalah keterarahannya pada Tuhan:
"Aku mengenal diriku hanya di dalam terang kebenaran dari Dia, yang selalu mengenal (menciptakan) aku" Dengan iman, manusia dapat mengembangkan berbagai kemungkinan pengetahuannya. Begitu juga sebaliknya, dengan pengetahuan, manusia dapat meneguhkan imanya! Maka, "percayalah untuk bisa mengetahui, dan upayakanlah pengetahuan agar dapat percaya" (Crede ut intelligas, intellige ut credas).
Ajaran Mengenai Iluminasi
Ajaran ini terkait erat dengan penolakannya pada SKEPTISISME; yaitu suatu faham yang mengajarkan bahwa manusia tidak dapat mencapai kepastian pengetahuan. Dulunya, Agustinus menganut paham ini tapi kemudian menolaknya. Alasannya, memang tentang segala sesuatu di luar aku, aku bisa menyangsikan kepastiannya. Akan tetapi, dengan menyangsikan kepastian segala sesuatu, ada satu kepastian yang tidak dapat aku sangsikan lagi, yakni kepastian bahwa aku ini tengah menyangsikan segala sesuatu. Dengan kata lain, harus diterima bahwa pasti ada Aku yang tengah sangsi, keliru, bingung, ragu-ragu, dan seterusnya: "Jadi, kalau aku keliru, aku ada" (Si enim fallor, sum).
Atas dasar pemikiran di atas, Agustinus mengemukakan jalan menuju kepastian pengetahuan. Namun, bukan di luar, melainkan di dalam, pada batin atau jati diri manusia itu sendiri. Kata-katanya yang terkenal:
"Janganlah pergi ke luar, kembalilah ke dalam dirimu sendiri; di dalam batin manusia tinggal kebenaran" (noli foras ire, in te ipsum redi; in interiore homine habitat veritos).
Di dalam batinnya, manusia menemukan kebenaran-kebenaran yang niscaya dan berlaku di mana-mana. Kebenaran ini tidak berasal dari pengalaman inderawi, karena pengalaman indrawi sendiri mengandaikan adanya ide-ide tertentu. Pertanyaannya? Bagaimana kita bisa mendapatkan ide-ide mengenai sesuatu, tanpa tergantung pada pengalaman indrawi?
Manusia dapat mencapai kebenaran-kebenaran yang abadi dan sejati berkat terang (lumen, Latin) dari Allah. Karena dalam keyakinan Agustinus, manusia secara alamiah sudah terdapat suatu benih kebenaran yang tidak dapat padam atau mati. Inilah ajaran Agustinus tentang ILUMINASI.
Proses ilumniasi dapat dianalogkan dengan akibat yang dihasilkan Sang Surya pada penglihatan kita. Mata kita adalah daya / kekuatan manusia (yakni rasionya, di mana ada "benih kebenaran"), benda yang diterangi merupakan objek-objek pengetahuan kita, sedangkan Sang Surya sendiri adalah sumber kebenaran pengetahuan kita (Tuhan).
Dalam analog yang lain, Agustinus mengambil contoh dalam dunia pendidikan. Bahwa proses belajar-mengajar hanya mungkin karena adanya "dasar pengetahuan" atau "pengertian" dalam diri manusia. Ini tinggal dihidupkan saja dengan perkataan dan penjelasan bapak guru. Tindakan "menghidupkan" ini tentu sama sekali berbeda, misalnya, dengan sekedar "memberikan" pengetahuan seperti memberikan sebuah jeruk kepada seorang anak.
Jaman Skolastik [Abad ke-9 sampai Abad ke-14]
Para sejarawan filsafat membagi Jaman Skolastik ini ke dalam tiga periode;
- Periode Skolastik Awal (800-1200 M)
- Periode Skolastik Puncak (1200-1300 M)
- Periode Skolastik Lanjut/Akhir (1400 M)
Istilah Skolastik erat kaitannya dengan didirikannya banyak sekolah (schola, Latin) pada Abad Pertengahan. Namun dalam arti yang lebih khusus, kata "Skolastik" menunjuk pada suatu metode tertentu, yakni "metode skolastik". Dengan metode ini, berbagai masalah dan pertanyaan diuji secara tajam dan rasional, ditentukan pro-kontra nya untuk kemudian ditemukan pemecahannya. Karenanya, ciri filsafat skolastik adalah "tuntutan ke-masuk-akal-an dan pengkajian yang teliti dan kritis atas pengetahuan yang diwariskan".
1. Periode Skolastik Awal (800-1200 M)
Ajaran Agustinus dan neo-Platonisme banyak berpengaruh. Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian Tuhan berdasarkan rasio murni tanpa berdasarkan Kitab Suci. Tokohnya adalah ANSELMUS.
Selain para pemikir dari kristen, jangan pula dilupakan peran filosof Islam seperti IBN SINA dan IBN RUSHD. Keduanya berperan hebat dalam memperkenalkan pemikiran Aristoteles dan neo-Platonis sehingga juga mempengaruhi Abad Pertengahan. IBN SINA misalnya, berusaha mensintesiskan neo-Platonisme dan Aristotelianisme.
2. Periode Skolastik Puncak (1200-1300 M)
Filsafat Aristoteles memberikan pengaruh yang besar. Universitas-universitas pertama didirikan di Bologna (1158), Paris (1170), Oxford (1200). Pada periode ini pula, terjadi kontrontasi dua golongan rohaniawan (ordo) antara ordo Fransiskan (berorientasi pada filsafat Agustinus) dan ordo Dominikan (berorientasi pada filsafat Aristoteles).
Pada abad ke-13, terjadi sintesis besar dua khazanah pemikiran antara kristiani (ajaran Augustinus) dan filsafat Yunani (Plato, neo-Platonisme, dan Aristoteles). Tokohnya, Yohanes Fidanza (Bonaventura), Albertus Magnus, dan Thomas Aquinas. Hasil sintesis ini disebut Summa (keseluruhan, Latin).
- Periode Skolastik Lanjut/Akhir (1400 M)
Kepercayaan orang pada kemampuan rasio dalam memberi jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Timbullah semacam keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat dipersatukan. Rasio tidak dapat mempertanggungjawabkan ajaran Gereja. Dan hanya iman yang dapat menerimanya. Kesalehan dan hidup mistik mendapatkan perhatian istimewa. Tokohnya seperti THOMAS A. JEMPIS. Dan muncul tokoh lainnya di Jerman, NICOLAUS CUSANUS. Ia menampilkan "Pengetahuan mengenai Ketidaktahuan" ala Socrates dalam pemikiran kristianinya: "Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dapat kuketahui bukanlah Tuhan."
Setelah periode ini, filsafat mulai memasuki periode jaman modern yang diawali dengan jaman Renaissans, jaman "Kelahiran Kembali" kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa.
Tentang Thomas Aquinas
Filsuf Sekaligus Teolog
Tidak dapat dibantah bahwa Thomas Aquinas adalah tokoh terpenting kala itu pada jaman Skolastik. Ia berjasa dalam memadukan secara orisinil pemikiran Augustinus dengan filsafat Aristoteles. Lewat sebuah ensiklik (surat edaran dari kepausan). Ajaran Thomas Aquinas dinyatakan sebagai dasar bagi filsafat kristiani dan wajib diajarkan pada semua sekolah filsafat dan teologi Katolik.
Menurut Thomas, iman dan akal budi tidak mungkin bertentangan karena keduanya berasal dari Allah. Maka baik teologi maupun filsafat pada akhirnya akan sampai pada kebenaran hakiki yang sama. Hanya saja keduanya menggunakan metode yang berbeda. Filsafat memulai penyelidikannya dari benda-benda ciptaan (dalam kawasan yang alamiah), dan dari sinilah dapat mencapai Allah. Sementara teologi justru sudah menerima Allah sebagai asal dan fundamen untuk penyelidikannya atas benda-benda alamiah. Maka, teologi memerlukan wahyu Allah.
Dengan beriman, ia dapat mencapai pengetahuan adikodrati yang disampaikan wahyu kepadanya (misalnya pengetahuan tentang misteri trinitas, inkarnasi, sakramen). Semua pengetahuan ini memang berada di luar batas-batas akal budi, namun sama sekali tidak boleh dikatakan bahwa pengetahuan itu bersifat irasional atau bertentangan dengan prinsip-prinsip akal budi, melainkan jauh melampaui dan mengatasinya. Dengan kata lain, semua pengetahuan yang berasal dari wahyu bersifat metarasional (meta, Yunani: sesudah, di atas).
- Periode Skolastik Lanjut/Akhir (1400 M)
01 Maret 2009
Pokok Bahasan VII
REALISME ARISTOTELES
Biografi Aristoteles
Dikalangan Islam, Aristoteles dikenal sebagai si Guru Pertama (al-Mu'allim al-Awwal). Putra Negara Yunani yang termasyhur ini dilahirkan di Stagyra di daerah Thrakia, Yunani Utara tahun 384 SM.
Delapan belas tahun kemudian, Aristoteles masuk Akademia di Athena dan selama 20 tahun mengikuti kuliah-kuliah Plato. Namun kemudian ia meninggalkan ajaran gurunya itu.
"Amicus Plato, magis amica veritas"
[Plato memang sahabat karibku, tetapi kebenaran jauh lebih akrab denganku], demikian kata-kata Aristoteles.
Tahun 335 SM, Aristoteles mendirikan sekolah yang diberi nama Lykaion, nama salah satu gelar dewa Apolo. Karena caranya mengajar dan caranya bertukar pikiran dengan kelompok-kelompok kecil, berlangsung sambil berjalan-jalan, maka sekolahnya dijuluki dengan Peripatetik.
Akhirnya, pada tahun 322 SM Aristoteles meninggal dunia di kota Chalcis (di pulau Eubua).
Percikan Pemikiran Filsafat Aristoteles
Seperti halnya Plato, Aristoteles juga senang menulis. Diogenes Laertius, seorang sejarawan filsafat abad ke-3, menyebut 146 judul tulisan. Seorang yang banyak berjasa menyelamatkan dan menyebarkan ajaran Aristoteles ke dunia Barat adalah tokoh filsuf Islam, Ibnu Rushd. Hingga akhirnya dunia Barat mengakui sang guru pertama dengan sebutan Filosof.
Pemikiran filsafatnya meliputi banyak hal, mulai soal Metafisika, Logika, Etika, Politik, hingga ilmu pengetahuan umum seperti Biologi, fisika, dan psikologi. Sekedar catatan, tulisan Aristoteles dikenal sangat kering dan kaku. Tidak seperti Plato yang bergaya sastra dan memuat mite-mite.
Tentang Metafisika
Asal muasal lahirnya pemikiran metafisika Aristoteles ini terkait dengan banyak hal, yaitu terkait dengan:
Pertama, idea-idea Plato yang dianutnya, kemudian dikritik, ditentang, dan dilepaskan.
Kedua, kosmos. Bagaimana adanya aturan yang pasti dalam kosmos itu dapat diterangkan? Dari manakah aturan itu? Dengan demikian, permenungan Aristoteles berkisar pada "arche" atau "purba" (dasar yang pertama).
Dalam pemikiran Plato, terdapat dualisme realitas yaitu antara dunia ide-ide dan dunia benda-benda konkret.
Aristoteles mengkritik pandangan tersebut, dengan berkata: "Hakikat suatu benda itu berada dalam benda itu sendiri bukan dalam segala macam ide ala Plato."
Solusinya ! Aristoteles mengemukakan suatu ajaran tentang Hylemorfisme.
Hylemorfisme : Setiap benda selalu merupakan pengejewantahan dari materi (hyle) dan bentuk (morphe). Keduanya merupakan prinsip-prinsip metafisik.
Contoh telephon, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Menurut ajaran Aristoteles: dalam telephon dari plastik itu, terdapat dua unsur yang menyatu sekaligus yakni plastik dan rupa telephon. Materi dalam benda konkret itu adalah plastik. Sedangkan "telephon" adalah bentuk. Bentuk telephon memerlukan bahan plastik agar jelas nampak sebagai telephon. Sementara bahan plastik memerlukan bentuk telephon agar dapat melaksanakan kemungkinannya menjadi telephon sungguhan.
Jadi, bentuk tidak pernah lepas dari bahan dan bahan tidak pernah lepas dari salah satu bentuk.
Atas dasar ajarannya itu, Aristoteles membedakan empat penyebab untuk mengartikan suatu kejadian/penampakan.
1. Penyebab formal (causa formalis)
Inilah bentuk yang menyusun bahan. Misalnya bentuk Telephon ditambahkan pada plastik sehingga menjadi sebuah telephon.
2. Penyebab final (causa finalis)
Inilah tujuan yang menjadi arah seluruh kejadian. Misalnya, telephon dibuat agar orang dapat berkomunikasi.
3. Penyebab efisien (causa efficiens)
Inilah "motor" yang menjalankan kejadian. Misalnya, tukang telephon membuat telephon.
4. Penyebab material (causa materialis)
Inilah bahan dari mana suatu benda dibuat. Misalnya, bahan material telephon adalah plastik.
Kesimpulan
Hakikat benda, demikian menurut Aristoteles, tidak berada di luar. Melainkan di dalam benda itu sendiri. Dengan kata lain, hakikat suatu benda bukan terletak pada ide-ide yang berada entah di mana nun jauh di sana, melainkan mengejewantahkan dirinya secara riil dan secara bertahap dalam serangkaian kejadian atau penampakan.
Ajaran Tentang Tuhan
Salah satu tema yang terkait dengan metafisika, khususnya perihal gerak perkembangan suatu benda, adalah ajaran mengenai TUHAN.
Menurut Aristoteles, suatu gerakan atau proses perkembangan dalam jagad raya tidak mempunyai awal dan akhir dalam waktu. Maka alam semesta ABADI sifatnya. Namun karena sesuatu yang bergerak digerakkan oleh penggerak yang lain, maka perlu diterima satu PENGGERAK PERTAMA yang tidak digerakkan oleh penggerak lain, yaitu TUHAN.
Ciri Penggerak Pertama adalah:
- Abadi atau tidak terikat oleh waktu, sama seperti Jagat Raya yang disebabkan oleh-Nya.
- Bukan materi sebab segala sesuatu yang material, selain tidak kekal sifatnya, juga mempunyai potensi untuk bergerak dan digerakkan. Dengan demikian,
- Penggerak Pertama itu merupakan aktus murni, bukan potensi.
Tuhan sebagai aktus murni, menurut Aristoteles, memiliki dua alasan:
- Tuhan bersifat non-material atau tidak badaniah, maka kegiatan-Nya pun harus bersifat murni rohaniah. Oleh karenanya, PEMIKIRAN adalah satu-satunya kegiatan yang bersifat murni rohaniah.
- Segala aktivitas jenis lain, yaitu selain aktivitas PEMIKIRAN itu sendiri, selalu menuntut objek material yang terbatas dan berada di luar dirinya; dan dengan demikian juga menuntut ketergantungan pada objek itu sebagai arah atau tujuannya (potensi).
Tuhan sebagai aktus murni, menurut Aristoteles…
- PEMIKIRAN sebagai aktivitas yang sama sekali tidak bersifat material, maka –seandainya ada objek- maka objek aktivitas inipun tentu tidak bersifat material atau terbatas. Tetapi objek yang paling tinggi dan sempurna. Nah, objek ini menurut Aristoteles adalah PEMIKIRAN itu sendiri.
- Jadi, kalau Tuhan adalah aktus murni maka objek pemikiran Tuhan tidak lain adalah PEMIKIRAN ILAHI miliknya sendiri. "Tuhan adalah pemikiran yang memandang pemikirannya (noesis noeseoos)", demikian kata Aristoteles.
Bagaimana Penggerak Pertama itu menyebabkan gerak dalam jagad raya?
Bukan sebagai penyebab efisien (karena Dia adalah aktus murni yang tidak menuntut objek material), melainkan sebagai penyebab final Allah menyebabkan semuanya bergerak kepada diri-Nya sebagai telos, sebagai tujuan. Artinya, segala sesuatu yang ada mengarah kepada Penggerak Pertama itu. Gerak dalam jagad raya sama saja dengan gerak menuju Allah. Dalam bahasa puitisnya Aristoteles berucap, "Ia menggerakkan karena dicintai" (kinei de hos eromenon)
Namun, Tuhan sebagai Penggerak Pertama tidak mengenal dan mencintai sesuatu yang lain dari pada diri-Nya sendiri. Karena seandainya Tuhan sampai mengenal dan mencintai dunia (sebagai objek), Dia harus mempunyai potensi juga. Jika demikian halnya, Dia bukan lagi aktus murni.
Bagaimana kita memperoleh pengetahuan tentang Allah ini?
Menurut Aristeles, berkat rasio (nous), tetapi bukan sebagai rasio pasif (nous patheikos atau intelectus possibilis) yang terutama dipengaruhi oleh kesan-kesan indrawi, melainkan sebagai rasio aktif (nous poietikos atau intellectus agens) yang ikut menentukan isi pemahaman manusia berkat daya kreatifnya sendiri.
Sebagai intellectus agens, rasio mampu memahami adanya Tuhan dibelakang semua gejala alam (misalnya gerak) meskipun pemahaman ini melampaui pengamatan dan pengalaman indrawi yang terbatas jangkauannya.
Catatan :
Perbedaan antara rasio pasif dan rasio aktif menunjuk pada funsi rasio manusia. Rasio bersifat pasif jika hanya menerima hakikat suatu benda yang disajikan pada panca indra. Namun menerima dari mana ? Jawabannya, kata Aristoteles, dari rasio aktif.
Rasio Aktif ini berfungsi melepaskan hakikat dari sesuatu benda konkret yang disajikan pada pancaindra. Misalnya, dengan membandingkan berbagai jenis, bentuk, dan warna bunga Mawar yang pernah dilihat, rasio aktif harus membentuk hakikat bunga Mawar. Proses ini disebut ABTRAKSI.
Dalam proses ABTRAKSI (dari kata latin ab = ke atas, dan trahere = menarik) ini, rasio aktif menarik hakikat suatu dan/atau beberapa benda "ke atas" dan sekaligus membentuk pengertian yang tepat mengenai hakikat benda itu. Bagi Aristoteles, selain mengkritik "Ide Plato", bahwa pengenalan yang tepat tentang hakikat sesuatu itu bukan berasal dari dunia ide-ide Plato, tapi berasal dari proses ABSTRAKSI ini. Karenanya, ilmu pengetahuan dimungkinkan tanpa pengandaian ide-ide Plato.
Dalam konteks filsafat pengetahuan, Aristoteles berbeda dengan Plato. Dasar filsafat pengetahuan Aristoteles bukanlah INTUISI melainkan ABSTRAKSI.@
Pokok Bahasan VI
Idealisme Plato
Siapa Plato
Nama aslinya Aristokles. Nama Plato diberikan karena dahi dan bahunya lebar (Plato berarti 'yang berbentuk lebar'). Plato adalah seorang bangsawan, yang dalam sejarah tampil ke muka bukan saja sebagai filsuf dan ahli fikir yang saleh, melainkan juga sebagai penyair dan seniman yang bercita rasa tinggi.
Plato dilahirkan di Athena pada 427-347 SM dan seorang yang sangat mengagumi Sokrates, gurunya. Maka tak heran kalau Sokrates benar-benar mempengaruhi hidup dan pemikirannya. Namun, tidak seperti Sokrates, Plato rajin menulis buku. Karangan yang terakhir, Nomoi (undang-undang), bahkan belum rampung ditulis saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 80 tahun.
Cicero mengungkapkan situasi itu dengan "Plato scribens est mortuus" (Plato meninggal ketika sedang menulis).
Kalau dicermati, filsafat Plato memiliki tiga karakteristik, yaitu:
1. Bersifat Sokrates.
Plato senantiasa menampilkan kepribadian dan perkataan Sokrates sebagai topik sentral karyanya.
2. Berbentuk Dialog
Dalam Surat VII, Plato menulis, "pena dan tinta membekukan pemikiran sejati dalam huruf-huruf yang membisu. Kalau toh pemikiran itu perlu dituliskan, bentuk yang paling cocok adalah bentuk percakapan (dialog-dialog)"
3. Adanya Mite-Mite
Plato memakai mite-mite untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak dan adiduniawi (misalnya tentang ide-ide, keutamaan, dan jiwa)
Ajaran Tentang Ide-ide
Kebenaran ! Bukanlah manusia senantiasa merindu akan benar? Memang di dunia ini manusia dapat mencapainya, tetapi tidak sepenuhnya, tidak seutuhnya.
Menurut Plato kebenaran yang diperoleh di dunia ini selamanya bercampuran dengan yang tidak benar / sesatan.
Kenapa? Sebab dunia yang fana ini hanyalah semacam bayangan dari dunia yang baka, dunia yang lebih tinggi, yang menjadi modelnya. Hanya dalam dunia yang elok dan luhur itulah terdapat Kebenaran yang mutlak.
Dunia ini tak dapat ditangkap dengan Panca Indera, dunia ini adalah dunia dari idea-idea, dunia ini adalah dunia rohani.
Berdasarkan pandangan-pandangan itulah ia memiliki teori tentang idea-idea. Ajaran ini juga disebut "Dialektika" sebab merupakan perjalanan ke pengertian tentang Kebenaran.
Apa yang dimaksud Idea?
Menurut Plato:
Idea itu adalah intisari sesuatu. Ia adalah realitas; realitas yang ada, yang berdiri sendiri, baik kita pikir maupun tidak.
Di awal kita telah mengenal pemikiran Parmenides bahwa dalam pengertian akal terdapat idea-idea yang kekal, yang tidak berubah, yang universal. Namun bagaimana datang dan adanya idea-idea ini dalam intelek manusia? Permenides belum menjawab ini.
Plato mencoba menjelaskan yang belum terjawab oleh Parmenides tersebut.
Dari mana isi pikiran kita?
Dari dunia panca indera ini ?
Mustahil !!!!
Bukanlah dulu Herakleitos pernah menjelaskan bahwa hal-hal di dunia ini senantiasa mengalami perubahan, selalu mengandung pertentangan-pertentangan dan tidak dapat ditangkap dengan pengertian yang tetap?
Dapatkah penangkapan panca indera kita percaya?
Jika daya tangkap panca indera kita tak dapat dipercaya, lantas bagaimana?
Ya jawabannya; intelek. Dalam pengertian intelek, ada penangkapan yang tetap, yang tidak berubah.
Kesimpulannya: jiwa manusia harus mengerti suatu realitas yang berlainan dari dunia ini, suatu realitas yang mengatasi kemampuan panca indera, suatu realitas yang menjadi contoh dan ukuran realitas yang kita alami di dunia ini.
Jadi di luar dunia yang fana ini adalah dunia yang baka, yang tetap, yang kekal, yang abadi. Itulah dunia idea-idea.
Itulah kira-kira jalan pikiran Plato.
Terdapat sebuah perumpamaan yang terdapat di buku ketujuh Politeia, mengenai idea yang dimaksud Plato, yaitu "perumpamaan tentang gua".
Perumpamaan Manusia Gua
Bayangkan sebuah gua; di dalamnya ada sekelompok tahanan yang tidak dapat memutarkan badan, duduk, menghadap tembok belakang gua. Di belakang para tahanan itu, di antara mereka dan pintu masuk, ada api besar. Di antara api dan para tahanan (yang membelakangi mereka) ada budak-budak yang membawa berbagai benda, patung, dan lainnya. Yang dapat dilihat oleh para tahanan hanyalah bayang-bayang dari benda-benda itu.
Karena itu, mereka berpendapat bahwa bayang-bayang itulah seluruh realitas. Namun, ada satu dari para tahanan dapat lepas. Ia berpaling dan melihat benda-benda yang dibawa para budak dan api itu. Sesudah ia susah payah keluar dari gua dan matanya membiasakan diri pada cahaya, ia melihat pohon, rumah, dan dunia nyata di luar gua. Paling akhir ia memandang ke atas dan melihat matahari yang menyinari semuanya.
Akhirnya ia mengerti, bahwa apa yang dulunya dianggap realitas bukanlah realitas yang sebenarnya, melainkan hanya bayang-bayang dari benda-benda yang hanya tiruan dari realitas yang sebenarnya di luar gua. @